Minggu, 21 Jun 2026 23:09 WIB

Seniman Pecut Desak Kejaksaan Selidiki Dugaan Penyelewengan Jasmas Kota Kediri

Demo seniman pecut di Kota Kediri. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Demo seniman pecut di Kota Kediri. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

jatimnow.com - Seniman dari Komunitas Pecut Samandiman di Kota Kediri berunjuk rasa di depan kantor Kejari, Senin (8/1/2024). Mereka mendesak Korps Adhyaksa menyelidiki kasus dugaan penyelewengan anggaran hibah tahun 2020-2023 anggota DPRD Kota Kediri dari Partai Hanura, Bambang Giantoro.

Ketua Paguyuban Pecut Samandiman Mohammad Hanif menjelaskan modus operandi dugaan penyimpangan anggaran jaring aspirasi masyarakat (Jasmas) Bambang Giantoro. Dimana, dana Jasmas yang seharusnya diterima oleh Kelompok Masyarakat (Pokmas) diambil kembali oleh seorang 'operator'.

Baca Juga: Warga Kediri Serbu Perahu Tambang Imbas Penutupan Jembatan Kaliombo I

"Dari Jasmas itu dibentuk Pokmas. Ada yang mengoperatori. Setelah uang dari bank, disaut (diambil) kembali. Nilainya ada yang Rp350 juta, ada Rp100 juta dan Rp80 juta. Semua ada buktinya dan ada orangnya," ujar Mohammad Hanif.

Hanif mengetahui seluk beluk anggaran dana Jasmas Bambang Giantoro tersebut. Pasalnya, dirinya sebagai Laskar Muda Hanura. Bahkan, dirinya mengaku, menjadi salah satu korban dari dugaan penyelewengan dana tersebut.

Masih kata Hanif, dalam pembentukan Pokmas seharusnya berasal dari masyarakat. Tapi tidak dalam kasus Bambang Giantoro. Ada warga yang hanya diminta Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bisa mencairkan dana Jasmas tanpa pengajuan. Tetapi setelah uang hibah cair dari bank, langsung diambil kembali oleh operator.

"Untuk wujud bantuan berbagai macam. Ada gerak jalan, ternyata kuponnya tidak diundi. Kemudian ada rombong yang diberikan, diambil kembali. Lalu rombong ini juga diputar lagi," jelas Hanif.

Usai dari kejaksaan, seniman Pecut Samandiman melanjutkan aksi mereka ke gedung DPRD Kota Kediri. Mereka meminta Badan Kehormatan Dewan untuk memeriksa anggaran hibah Jasmas Bambang Giantoro dan memberikan sanksi apabila terbukti.

Sayangnya dalam aksi ini, mereka tidak ditemui oleh satupun anggota DPRD. Mereka ditemui Sekretaris DPRD Kota Kediri, Rahmad Hari Basuki. Sekwan berjanji akan meneruskan aspirasi mereka ke Ketua DPRD, Gus Sunoto Imam Mahmudi.

Anggota DPRD Kota Kediri Bambang Giantoro saat memberi jawaban. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)Anggota DPRD Kota Kediri Bambang Giantoro saat memberi jawaban. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

Baca Juga: Kota Kediri Raih Opini WTP 12 Kali Berturut-turut, Ini Pesan Mbak Wali

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Kediri Bambang Giantoro membantah tuduhan yang diarahkan kepadanya. Bambang, bahkan menantang Ketua Paguyuban Pecut Samandiman Kota Kediri, Moh Hanif, melaporkannya ke pihak yang berwajib apabila menemukan bukti penyalahgunaan anggaran.

"Di dalam Jasmas itu ada Pokmas, ada ketua Pokmas. Seharusnya disanalah, yang ditanyakan bukan ke saya. Kalau punya alat bukti pribadi, tidak usah ke DPRD, supaya melapor," kata Bambang Giantoro.

Ketua DPC Partai Hanura Kota Kediri ini membeberkan latar belakang masalahnya dengan Ketua Paguyuban Pecut Samandiman Moh Hanif. Persoalan itu bermula ketika Moh Hanif 'meminta' dana Jasmas untuk kegiatan kesenian Pecut Samandiman senilai Rp70.225.000.

"Pokok permasalahannya, Bapak Hanif meminta kepada saya dana senilai Rp70.225.000. Bahwa saya akan memberikan PAK-saya tahun 2023. Tapi tidak bisa sekaligus, tapi bertahap. Pertama Rp30 juta dulu. Tapi ini ada catatannya, kalau dia tetap menjadi Caleg Hanura," jelas Bambang Giantoro.

Baca Juga: Dewan Kesenian Surabaya Laporkan Dugaan Hilangnya Aset Budaya ke Polisi

Perjanjian itu, kata Bambang, dikuatkan dengan bukti tanda tangan dirinya dan Moh Hanif. Tetapi pada akhirnya, Hanif tidak maju sebagai Caleg Hanura para Pemilu 2024, sehingga Bambang membatalkan pemberian hibah Jasmas itu.

"Jika tidak maju Caleg Hanura 2024-2029, maka ini batal. Karena dia tidak maju, saya tidak memberikan dana itu. Dari sini mulailah bapak Hanif mengadakan aksi, mengancam dan meneror saya dengan memberi tahu teman saya. Katanya kantornya pak Bambang, dia akan menurunkan papan namanya Hanura dan saya akan las," tegas Bambang.

Bambang menyayangkan sikap Moh Hanif yang menuduhnya secara pribadi. Tetapi dia melakukan aksi dengan menyasar institusi yakni, Kantor DPRD Kota Kediri.

Dia juga mensinyalir apa yang dilakukan Moh Hanif bermotif politik. Saat ini dia masih berkoordinasi dan bisa saja melaporkannya sebagai bentuk ancaman dan pembunuhan karakter serta pencemaran nama baik.

Editor : Arina Pramudita
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.