Minggu, 14 Jun 2026 19:03 WIB

Hari Jadi Tulungagung, Warga Gelar Ritual Lampah Tapa Bisu

Ritual lampah tapa bisu peringati Hari Jadi Tulungagung. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)
Ritual lampah tapa bisu peringati Hari Jadi Tulungagung. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)

jatimnow.com - Peringati Hari Jadi Tulungagung ke-818, Paguyuban Kawula Kraton Surakarta (PAKASA) menggelar ritual lampah tapa bisu. Dalam ritual ini, mereka berjalan mengelilingi Alun-alun Tulungagung sebanyak 3 kali, tanpa berbicara alias membisu.

Ritual tersebut digelar sebagai bentuk ruwatan serta keprihatinan atas kerusakan alam yang banyak terjadi saat ini.

Baca Juga: Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Ketua PAKASA Tulungagung, RT Endro Setyodipuro mengatakan ritual lampah topo bisu ini merupakam sebuah tradisi yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Islam. Ritual ini merupakan bentuk ruwatan serta rasa syukur atas berkah yang diberikan alam selama ini.

"Ritual ini juga kami gelar sebagai bentuk keprihatinan atas kerusakan alam yang banyak terjadi saat ini," ujarnya, Senin (20/11/2023).

Dalam ritual ini, mereka membawa 12 dupa yang bermakna jumlah bulan dalam setahun. Selain itu, mereka juga membawa lima buah kendi berisi air yang diambil dari sumber berbeda. Peserta kemudian berjalan mengelilingi Alun-alun sebanyak 3 kali tanpa berbicara atau membisu. Setelah itu, mereka menggelar doa bersama untuk Tulungagung.

Baca Juga: Melawan Saat Ditangkap, Dua Pembobol Toko Bangunan Tulungagung Didor

"Ini juga wujud rasa terima kasih pada bumi, air, dan udara tempat kami berpijak. Sederhananya ini njamasi atau membersihkan Bumi Tulungagung,” tuturnya.

Ritual ini juga memiliki makna menekan hawa nafsu. Setiap putaran mengelilingi alun-alun memiliki makna tersendiri.

Baca Juga: Asyik Nongkrong di Warung Kopi, Puluhan Pelajar di Tulungagung Terjaring Razia

Putaran pertama memiliki makna intropeksi diri atas kekurangan. Sedangkan putaran kedua dan ketiga bermakna menyelasakan diri secara horisontal kepada alam dan vertikal kepada tuhan.

"Semua diakhiri dengan doa bersama. Semoga Tulungagung ke depannya menjadi lebih baik,” pungkasnya.

Editor : Endang Pergiwati
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.