Sabtu, 13 Jun 2026 03:13 WIB

Melihat Manuskrip Kuno Koleksi Dinas Perpustakaan dan Arsip Tulungagung

Manuskrip koleksi Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tulungagung. (Foto-foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)
Manuskrip koleksi Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tulungagung. (Foto-foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)

jatimnow.com - Kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tulungagung selama ini menyimpan 3 manuskrip kuno. Satu diantaranya sudah ditranskrip. Sedangkan dua lainnya masih belum dapat diidentifikasi.

Manuskrip yang sudah ditranskrip ini ditulis di atas lembaran kertas. Sedangkan yang belum berhasil teridentifikasi ditulis di atas lembaran kayu.

Baca Juga: MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Arsiparis Muda Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tulungagung, Silan, mengatakan untuk manuskrip yang ditulis di atas kertas ini diserahkan oleh pemiliknya tahun 2007 lalu.

Manuskrip ini kemudian dibawa ke perpustkaan Keraton Solo untuk di transkip. Hasil manuskrip beraksara jawa ini diketahui merupakan Kitab Ma'rifatul Bathin. Kitab ini berisi tetang ajaran agama Islam.

"Siapa penulisnya dan kapan ditulisnya kitab ini belum dapat diketahui, di dalamnya tidak termaktub nama penulis dan tahun," ujarnya, Rabu (11/10/2023).

Sedangkan untuk dua manuskrip yang ditulis di atas lembaran kayu ditemukan di area Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso Tulungagung pada 2019 lalu. Dua manuskrip ini belum dapat ditranskip.

Kondisi manuskrip tersebut masih cukup bagus dan bisa terbaca. Namun keterbatasan ahli membuat manuskrip ini untuk sementara hanya disimpan saja oleh pihak dinas.

Baca Juga: Umat Buddha di Tulungagung Ikuti Ritual Atthami Puja di Candi Sanggrahan

"Kita belum tahu harus ke siapa dan bagaimana menerjemahkan manuskrip ini," tuturnya.

Pihak dinas sendiri berusaha melindungi manuskrip tersebut. Selain melakukan perawatan secara rutin, mereka juga melakukan alih media manuskrip menjadi digital. Dinas juga mempersilahkan para peneliti untuk melihat langsung kondisi manuskrip ini. Mereka diharapkan dapat membantu proses identifikasi dan transkip manuskrip tersebut.

"Beberapa bagian telah kita pindah ke media digital untuk memudahkan penyimpanan," terangnya.

Baca Juga: Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Lakukan Pemilahan Sampah Dari Sumber

Sementara itu, Pegiat Budaya Kemendikbud Ristek, Monish Pandu Hapsari menuturkan berdasarkan identifikasi sementara, untuk kitab Ma'rifatul Bathin diduga berasal dari abad ke 18. Hal ini terlihat dari adanya hologram dalam kertas yang digunakan.

Gambar tersebut diketahui merupakan logo sebuah perusahaan kertas di Belanda. Sedangkan untuk manuskrip berbahan lembaran kayu diduga ditulis dengan aksara Bali dan berbahasa Jawa.

"Dugaannya berisi tentang kidung, itu hasil deskripsi sementara," pungkasnya.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Bupati Jember meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) segera berkoordinasi dengan para camat, Gapoktan, dan Poktan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam organisasi petani.

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.

Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah

BMKG sarankan warga untuk selalu membawa pelindung panas dan menjaga stamina tubuh karena suhu di Surabaya cenderung tinggi.