Senin, 15 Jun 2026 15:04 WIB

Petani Tulungagung Merogoh Kocek demi Mengairi Sawah

Sumarwan saat menyiangi lahan sawahnya. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)
Sumarwan saat menyiangi lahan sawahnya. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)

jatimnow.com - Musim kemarau membuat sejumlah petani di Tulungagung harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengairi sawah. Mereka menggunakan pompa diesel untuk menyedot air dan mengalirkan ke lahan sawah.

Hal ini dikarenakan tidak ada hujan serta rusaknya saluran irigasi. Debit air sungai juga bekurang sehingga air tidak bisa masuk ke sawah.

Baca Juga: Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Sumarwan (62), petani asal Desa Dukuh, Kecamatan Gondang mengaku setiap hari harus mengeluarkan uang untuk membeli solar guna bahan bakar mesin diesel. Saat ini tanaman padi miliknya berusia 20 hari. Butuh pasokan air sebelum memberikan pupuk. Berhubung air tidak ada, ia memilih untuk menunda pemberian pupuk.

"Kalau musim ini agak lebih sulit. Kalau saya sendiri menyedot air mandiri menghabiskan 4 liter solar sehari," ujarnya, Senin (28/8/2023).

Kelompok Petani (Poktan) setempat sebenarnya sudah mengusahakan dengan menyiapkan dua unit diesel pompa air. Setiap lahan seluas 100 ru dibebani biaya Rp50 ribu.

Baca Juga: Melawan Saat Ditangkap, Dua Pembobol Toko Bangunan Tulungagung Didor

Mesin tersebut diletakkan di sungai untuk menyedot air ke saluran irigasi. Beberapa petani memilih menggunakan diesel milik pribadi untuk mengairi lahan sawahnya.
"Diesel dari Poktan ke sungai ada dua diesel, jadi saya harus mengeluarkan biaya tambahan Rp300 ribu lebih disamping diesel pribadi. Modalnya hanya sabar dan telaten ketika tidak ada air dan juga tidak ada hujan," tuturnya.

Sumarwan berharap dari pemerintah bisa plengsengan sungai yang mengaliri persawahan. Sebab, di dusun sebelah, tak jauh dari lokasi pasokan air dari Waduk Wonorejo yang jaraknya belasan KM bisa terpenuhi.

Baca Juga: Asyik Nongkrong di Warung Kopi, Puluhan Pelajar di Tulungagung Terjaring Razia

Selain itu, menurutnya sungai besar tak jauh dari area persawahan pun belum bisa memenuhi pengairan jika kondisi musim kemarau. Ketika plengsengan bagus, tidak rusak, air dengan mudah mengalir tanpa ada kebocoran.

"Plesengngan sungai kecil hemat saya harus diperbaiki, sebab air akan merembes ke kanan-kiri sepanjang sungai," pungkasnya.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.