Kamis, 18 Jun 2026 16:39 WIB

Kemeriahan Pawai Ogoh-ogoh Sambut Nyepi Sedot Warga Jombang

Kemeriahan pawai ogoh-ogoh yang diarak warga keliling jalan hingga 3 kilometer.(foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)
Kemeriahan pawai ogoh-ogoh yang diarak warga keliling jalan hingga 3 kilometer.(foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)

jatimnow.com - Umat Hindu Kabupaten Jombang menggelar pawai ogoh-ogoh dalam menyambut Hari Raya Nyepi tahun saka 1945. Perayaan ini berjalan meriah dan diikuti ratusan umat Hindu, hingga menarik ribuan warga untuk menyaksikan pawai tersebut.

Sedikitnya ada delapan boneka raksasa yang diarak dalam pawai ogoh-ogoh, Selasa (21/3/2023). Patung ini diarak sejauh 3 kilometer, dan kemudian dibakar di alas Sanan wilayah Kecamatan Wonosalam.

Baca Juga: Besut Mudik ke Jombang, Mencari Roh Dialektika di Tanah Para Pemikir

Pimpinan Majelis Umat Hindu Jombang, Jamadi menjelaskan pawai ogoh-ogoh ini sudah menjadi kegiatan rutin setiap tahun yang dilakukan sebelum Nyepi.

"Pawai ogoh-ogoh ini merupakan salah satu bagian dari seni dan budaya yang kita laksanakan," ungkapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan tujuan dari upacara udayatna ini untuk menjaga keseimbangan alam.

Pembakaran ogoh-ogoh melambangkan penghapusan keburukan sekaligus mengembalikan buta kala ke alamnya. (foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)Pembakaran ogoh-ogoh melambangkan penghapusan keburukan sekaligus mengembalikan buta kala ke alamnya. (foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)

Baca Juga: Potret Travesti Ludruk, Simbol Perlawanan yang Hadir di Pameran Foto Jombang

"Tujuannya untuk menjaga keseimbangan. Kita tidak hanya melaksanakan upacara hiwayatna atau manusianya, tetapi juga melakukan upacara udayatna. Agar alam ini seimbang. Jadi, kita berhubungan harmonis dengan alam atas dan alam bawah," jelasnya.

Sedangkan pawai ogoh-ogoh yang disimbolkan dengan para raksasa ini bermakna untuk menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan buta kala.

"Setelah kita arak kita mengembalikan mereka (buta kala) ke alamnya. Atau sebelum kita melaksanakan Nyepi. Kita menghilangkan sifat-sifat raksasa (buruk) dalam diri kita," bebernya.

Baca Juga: Semarak Pawai Ogoh-ogoh Umat Hindu di Desa Balun Lamongan

Inti dari pawai ogoh-ogoh ini, lanjutnya, untuk menjaga keseimbangan alam beserta makhluk Tuhan. Harapannya seluruh umat terhindar dari segala bencana.

Sementara itu, Sriyati warga Kecamatan Mojowarno mengaku sengaja melihat pawai ogoh-ogoh ini. Ia menyebut pawai cukup seru dan sangat menghibur warga.

Editor : Rochman Arief
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.