Sabtu, 20 Jun 2026 13:02 WIB

Pria di Banyuwangi Sulap Limbah Tray Telur Jadi Karya Seni Bernilai Tinggi

Slamet Restu (33) bersama patung macan buatannya (Foto-foto: Eko Purwanto/jatimnow.com)
Slamet Restu (33) bersama patung macan buatannya (Foto-foto: Eko Purwanto/jatimnow.com)

jatimnow.com - Slamet Restu (33), pegiat pentas kesenian jaranan asal Dusun Padang Ulan, Desa Benelan Kidul, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi menyulap limbah tray telur menjadi karya seni bernilai tinggi.

Semula, ide Slamet itu muncul saat dirinya melihat banyak limbah tray telur tak terpakai berceceran di pasar. Dia langsung memungut limbah tersebut untuk dijadikan bahan pembuat topeng macan.

Baca Juga: Lewat Sentuhan Magisnya, Evangeline Santoso Ubah Keterbatasan Jadi Kekuatan

"Saya coba, hasilnya lebih bagus. Bahan bakunya juga selalu tersedia, jadi saya lanjutkan," ujar Slamet, Sabtu (11/3/2023).

Slamet mengaku hasil yang didapat tidak kalah moncer ketimbang bahan baku dari kayu yang biasa pakai. Dan keuntungan yang diperoleh jauh lebih maksimal.

"Tidak ada yang menyangka kalau barong dan macan-macanan buatan saya ini dari limbah. Dan keuntungannya jauh lebih maksimal," ungkap dia.

Macan-macanan yang dijual Slamet memiliki harga bervariasi, mulai Rp650 hingga Rp950 ribu.

"Yang paling murah itu hanya dicat biasa, yang harga Rp850 ribu dilapisi bulu sintetis. Sedangkan yang paling mahal dilapisi bulu asli dari kulit kambing," terangnya.

Sementara untuk harga satu set barong, Slamet menjualnya mulai harga Rp1 sampai Rp10 juta.

Baca Juga: Penyelundupan Ratusan Burung Tanpa Dokumen Digagalkan di Ketapang

"Yang paling murah barong kucingan. Kemudian yang harganya Rp3,5 juta barong prejeng. Sementara yang termahal itu barong kumbo," tuturnya.

Soal ilmu memahat, Slamet mengaku belajar kepada saudaranya di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

"Di sana belajar membuat macan-macanan dan barong dari kertas bekas," tambah dia.

Hasil belajar membuat kerajinan tersebut kemudian diterapkan Slamet di rumahnya. Dia kembali membuat barong dan macan-macanan dengan media kertas bekas sekitar Tahun 2018.

"Awalnya pakai kertas bekas buku tulis," katanya.

Baca Juga: Warga Banyuwangi Keluhkan Langkanya LPG 3 Kg Jelang Lebaran

Di samping itu, Slamet hanya mengerjakan barong dan macan-macanan jika ada pesanan. Dan hingga saat ini, sudah ada pemesan dari beberapa wilayah di Indonesia, seperti Lampung, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

"Kerajinan saya sudah sampai luar Banyuwangi," imbuhnya.

Dari hasil penjualan tersebut, rata-rata setiap bulannya Slamet bisa mendapatkan omzet sebesar Rp5 juta.

"Pesanan biasanya paling ramai menjelang bulan Agustus atau jika ada acara lain seperti BEC," pungkasnya.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.