Minggu, 21 Jun 2026 11:56 WIB

Desa Durungbedug Sidoarjo, Hutan Tak Terjamah yang Dibabat Sebelum Siang

Batas Desa Durungbedug, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo (Foto: Zainul Fajar/jatimnow)
Batas Desa Durungbedug, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo (Foto: Zainul Fajar/jatimnow)

jatimnow.com - Hutan belum terjamah yang konon dibabat sebelum siang hari, kini menjadi desa unik bernama Durungbedug. Desa itu berada di wilayah Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo.

Durungbedug adalah Bahasa Jawa yang artinya sebelum siang atau waktu zuhur. Desa ini terletak di ujung barat Kecamatan Candi perbatasan dengan Kecamatan Tulangan.

Baca Juga: Pelajar Asal Bogor Tewas Terlindas Truk di Gedangan Sidoarjo

Salah seorang warga bernama Agus (40) menceritakan, menurut cerita yang didengarnya dari pendahulu setempat, Desa Durungbedug dulunya adalah sebuah alas atau hutan yang belum terjamah.

"Dulu ada sepasang petani yang nekad membabat kawasan ini karena ia telah diusir dari pemukiman yang ada di utara. Mereka itu bikin semacam gubuk-gubukan di sini," terang Agus.

Agus mengatakan bahwa selain mendirikan gubuk sebagai tempat tinggal, sepasang suami istri itu juga berniat untuk menanam padi dan tebu di lahan hutan yang sudah dibabatnya.

"Mereka ini kabarnya memulai aktivitas babat alasnya itu selalu dari pagi sampai sebelum bedug atau dzuhur. Dan itu dilakukannya setiap hari sampai wilayah ini sebagain besar terbuka. Dari situlah istilah Durungbedug lahir," terangnya.

Baca Juga: Inspirasi Schools Bangun Pembelajaran Global Berbasis Karakter

Namun, pria berusia 40 tahun ini tidak dapat memastikan apakah cerita tersebut menjadi sumber penamaan Desa Durungbedug atau bukan.

"Saya cuman mendengar dari para pendahulu atau cerita dari mbah-mbah," imbuhnya.

Sementara Ketua Komunitas Sidoarjo Masa Kuno, dr. Sudi Harjanto menuturkan, sebenarnya nama Durungbedug telah ada di peta lama milik Belanda yang diketahui pada Tahun 1892 Masehi.

"Kemungkinan sebelum itu sudah ada juga. Nama yang baru ada Bedug dan Banjar ini baru ada sekitar 1900-an," ungkap dr. Sudi sambi memperlihatkan peta milik Belanda.

Baca Juga: WNA India Ditangkap di Sidoarjo, Diduga Telantarkan Anak Kandung

Dokter umum yang gemar menggeluti sejarah tersebut mengatakan, berdasar penelitian yang dilakukannya bersama rekan sekomunitas, Durungbedug berasal dari kata "Durun" yang berarti lumbung padi.

"Durun dapat diartikan kuali atau lumbung padi kecil. Nama Durun tersebut didapat dari dari peta Tahun 1892 milik Belanda," paparnya.

Dia menambahkan, orang-orang terdahulu banyak menamai daerah, kawasan, atau desa berdasarakan apa yang ada dan banyak ditemui di wilayah tersebut.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.