Jumat, 19 Jun 2026 10:23 WIB

Kisah Dua Saudara Pencari Tuhan di Balik Ikon Macan Putih Persik Kediri

Ikon Macan Putih Persik Kediri (Foto: Instagram @simapumaskot)
Ikon Macan Putih Persik Kediri (Foto: Instagram @simapumaskot)

jatimnow.com - Persik Kediri yang berjuluk Tim Macan Putih memiliki sejarah panjang dipersepakbolaan Tanah Air.

Dua kali mereka merengkuh titel juara di kasta tertinggi Liga Indonesia, yaitu Tahun 2003 dan 2006. Prestasi yang hanya mampu diukir segelintir tim saja.

Baca Juga: Liga Persik 2026 Dimulai, Fondasi Pembinaan Pesepakbola Kediri Raya

Sejak lahir di Tahun 1950, Persik dikenal dengan lambang Macan Putihnya yang ikonik. Tak sekadar gagah-gagahan, tapi ada cerita syarat makna di balik pemilihan ikon itu.

Di balik itu, ada kisah dan perjalanan dua bersaudara Gagangaking dan Bubuksah yang belajar tentang ketuhanan di kawasan Gunung Klotok.

Sejarawan dan Budayawan Kediri, Imam Mubarok mengatakan, pemilihan Macan Putih sebagai ikon Persik tidak lepas dari cerita rakyat Gagangaking dan Bubuksah.

"Jadi ini cerita lama, cerita dengan latar Kediri murni yang berkembang di abad ke-14 era Majapahit," ujar pria yang akrab disapa Gus Barok itu, Kamis (10/11/2022).

Perjalanan dua saudara di Kediri dimulai dari Dermaga Jong Biru. Dewasa yatim piatu itu tidak memiliki uang saat menyebrangi dermaga. Keduanya lantas dibantu tukang perahu.

Saat itu, perahu yang mereka tumpangi sangat cepat untuk sampai di barat sungai. Hal itu sempat membuat si tukang perahu kaget.

Mereka kemudian masuk ke arah Klotok. Di sana mereka kemudian bertemu pawiyatan atau tempat pendidikan. Mereka kemudian ingin berguru tentang ketuhanan.

"Jadi nama ini merupakan pemberian sang guru. Gagangaking ini Kebo Milih, karena kurus kering namanya Gagang Aking. Satunya Kebo Ngrawek segala hal dimakan, ini namanya kemudian diganti Bubuksah," beber Gus Barok.

Setelah melalui pendidikan, mereka kemudian memilih tempat. Mereka mendarmakan dirinya agar bisa mendekatkan diri ke Tuhan.

"Dia memilih melewati patirtan di mana ada candi-candi di atasnya. Ini kemudian sama dengan temuan di Tahun 2018 kemarin," terang dia.

Baca Juga: Ponpes Al Falah Kediri Ditetapkan Tuan Rumah Munas Alim Ulama dan Konbes NU

Dalam pertapaan tersebut, sang guru memerintahkan Kolowijo untuk menjelma menjadi Macan Putih dan memangsa mereka. Macan Putih lalu menemui keduanya dan hendak memangsanya. Namun Gagangaking menolak karena dia merasa kurus.

"Saya kurus nggak enak dimakan. Tapi ada saudara saya Bubuksah," ungkap Gus Barok menirukan perkataan Gagangaking.

Bubuksah kemudian didatangi. Meski Bubuksah memiliki kebiasaan memakan segala hal, tapi dia mengaku iklas jika harus dimakan oleh Macan Putih.

"Silakan kalau makan saya. Tapi sebentar saya tak mencari jerat-jerat hewan yang di situ ada tangkapan saya. Saya harus makan dulu, saya harus mensucikan diri dulu," kisah Gus Barok.

Kemudian Macan Putih itu meletakkan orang cebol di jerat Bubuksah untuk benar-benar menguji keiklasannya. Dan dimakanlah orang cebol tersebut.

Setelah makan dan mensucikan diri, Bubuksah menyatakan siap dimakan. Lalu Macan Putih bercerita di mana ia diperintahkan oleh guru untuk melihat siapa dari kedua ini yang benar-benar utusan Tuhan.

Baca Juga: Razia Gabungan di Lapas Kediri, Petugas Amankan Barang Terlarang

"Ternyata dari situ Macan Putih menyampaikan bahwa orang yang bertirakat belum tentu yang mempeng (konsisten) itu pasrah," jelas pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri tersebut.

Di akhir cerita, keduanya kembali ke Nirwana. Bubuksah naik punggung Macan Putih, sementara Gagangaking memegang ekornya.

Ikon Macan Putih menurut Gus Barok digunakan sejak Persik Kediri berdiri 1950. Setahun setelah Kota Kediri memiliki kedudukan administratif.

Macan Putih merupakan sosok penguasa Kediri bersama Buta Locaya dan lainnya.

"Cerita ini memang terkenal bahkan tidak hanya di Jawa, tapi di Bali. Jadi cerita Gagangaking dan Bubuksah ini terkenal di Bali, bahwa tentang Macan Putih tentang Kediri ini ada tidak hanya sekadar di sana di Gunung Klotok ada Macan Putih," tandas Gus Barok.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.