Rabu, 17 Jun 2026 06:03 WIB

Kesakralan Prasasti Gurit, Konon Burung yang Melintas di Atasnya Bisa Mati

Prasasti Gurit yang ada di Dusun Sumbergurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu.(Foto: Elok Aprianto)
Prasasti Gurit yang ada di Dusun Sumbergurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu.(Foto: Elok Aprianto)

jatimnow.com - Sebuah batu andesit berbentuk pipih yang terdapat tulisan berbahasa Sansekerta peninggalan Raja Airlangga di Dusun Sumbergurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, dianggap sakral oleh warga setempat.

Batu berbentuk segi lima dengan setiap sisinya terpahat tulisan kuno yang sebagian sudah tidak terbaca lagi itu diberi nama Prasasti Gurit. Prasasti ini memiliki cerita mistis yang sangat kental di kalangan masyarakat sekitar.

Baca Juga: Besut Mudik ke Jombang, Mencari Roh Dialektika di Tanah Para Pemikir

Juru pelihara Prasasti Gurit Badri menjelaskan, batu prasasti merupakan salah satu peninggalan Raja Airlangga. Batu memiliki kekuatan magis yang besar.

"Cerita yang beredar setiap kali makhluk hidup melewati atas prasasti langsung mati. Ya karena kekuatan mistisnya memang sangat besar," ujar Badri, Selasa (18/10/2022).

Meski letaknya di area perkampungan, situs berupa batu pipih berukuran cukup besar tersebut mempunyai kesan mistis yang luar biasa.

"Pada zaman dulu, setiap kali burung atau hewan apa yang melintas di atas prasasti langsung mati," ucapnya.

Prasasti Gurit yang ada di Dusun Sumbergurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu.(Foto: Elok Aprianto)Prasasti Gurit yang ada di Dusun Sumbergurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu.(Foto: Elok Aprianto)

Selain itu, di sekitar lokasi juga terdapat sumur berdiameter kurang lebih 1 meter. Sumur yang terbuat dari bata kuno tersebut juga merupakan peninggalan Raja Airlangga.

"Di sini (sumur, red) juga mempunyai aura mistis yang sangat kuat. Setiap kali prasasti Raja Airlangga pasti ada sumur," paparnya.

Kendati demikian seiring berjalannya waktu, cerita misteri mulai lenyap. Bahkan sudah tidak ada lagi mahkluk hidup yang mati saat melintasi prasasti tersebut.

"Sudah lama tidak. Mungkin sekarang sudah baik tidak seperti dulu," katanya.

Namun masih banyak orang yang percaya dan tetap melakukan ritual khusus untuk mencari keberkahan dan lain sebaginya.

Baca Juga: Potret Travesti Ludruk, Simbol Perlawanan yang Hadir di Pameran Foto Jombang

"Tapi tempat seperti ini tidak bisa digunakan untuk main-main atau mempunyai hati yang kotor. Sering juga masyarakat yang kesurupan," tegas Badri.

Dijelaskan Badri, selain bernama Prasasti Gurit, banyak juga warga yang menyebutnya Prasasti Munggut.

"Karena isi dari Prasasti Gurit menetapkan pembebasan pajak untuk daerah Munggut," bebernya.

Badri menambahkan, prasasti ini sebenarnya memiliki banyak nama. Nama lainnya adalah Prasasti Sumber Gurit. Sebab terdapat sumur di lokasi prasasti.

"Munggut itu nama dusun di tengah hutan. Munggut masuk wilayah Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan. Sedangkan sebutan Sumber Gurit dari sumur yang ada," tegasnya.

Isi tulisan kuno tersebut merupakan pembebasan pajak saat itu ditetapkan pada 14 Krisnapaksa, Bulan Caitra, Tahun 944 Saka (3 April 1022 M).

Baca Juga: Jombang Terancam Krisis Mikroplastik, Limbah Domestik Jadi Biang Kerok

"Meski hanya penetapan bebas pajak, prasasti dinilai cukup penting sebagai wujud dari eksistensi Raja Airlangga," kata Badri.

Prasasti Gurit termasuk salah satu cagar budaya di Jombang yang terdaftar di BPCB Jawa Timur. Hanya saja belum banyak masyarakat Jombang yang mengetahui keberadaan prasasti ini.

"Padahal prasasti ini terletak di tengah permukiman warga. Lokasinya juga tidak jauh dari Sendang Made. Namun antusias pengunjung ke Prasasti Gurit lebih rendah dibanding ke Sendang Made, sehingga prasasti ini semakin tak dikenal," terangnya.

”Ini merupakan peninggalan nenek moyang kita. Sudah seharusnya kita jaga dan lestarikan, dan ada baiknya generasi muda belajar tentang sejarah. Terutama yang ada di Jombang untuk terus bisa melestarikan sejarah,” pungkas Badri.

 

Editor : Sofyan Cahyono
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.