Senin, 15 Jun 2026 06:04 WIB

Tragedi Kanjuruhan

Aremania Tantang Polisi Rasakan Efek Gas Air Mata

Mata korban tragedi Kanjuruhan merah, diduga akibat terkena gas air mata (Foto: TGIPF for jatimnow.com)
Mata korban tragedi Kanjuruhan merah, diduga akibat terkena gas air mata (Foto: TGIPF for jatimnow.com)

jatimnow.com - Polri mengeluarkan statement jika gas air mata bukanlah penyebab jatuhnya korban jiwa dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang 1 Oktober 2022 lalu.

Menanggapi itu, perwakilan Aremania, Rafi Maulana meminta agar kepolisian mencoba sendiri efek yang dihasilkan dari gas air mata tersebut.

Baca Juga: Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus di Malang, Nilai Investasi Capai Rp800 Miliar

"Monggo dicoba dalam keadaan yang sama, bagaimana efek gas air mata diruang tertutup. Tentu mematikan," ujar Rafi, Selasa (11/10/2022).

Tembakan gas air mata ke tribun Stadion Kanjuruhan itu membuat suporter panik, hingga kebingungan menyelamatkan diri.

Sebab suporter yang berada di tribun Stadion Kanjuruhan mengalami sesak napas saat gas air mata ditembakkan. Terlebih para suporter yang ada di dalam lorong ditembaki gas air mata.

"Rasanya perih dan sesak napas. Apakah itu tidak menjadikan penyebab kematian?" terangnya.

Bahkan tidak sedikit suporter yang saat ini masih menderita akibat efek gas air mata, seperti mata merah, trauma kepala hingga sesak nafas.

Baca Juga: Pendaki Ilegal Gunung Semeru Berhasil Dievakuasi, Pengelola Jatuhi Sanksi

"Memang konsen kita saat ini yaitu memperhatikan para korban susulan yang luka-luka dan sudah kami bawa ke rumah sakit. Kebanyakan akibat gas air mata," tegas dia.

Untuk diketahui, sampai Selasa (11/10/2022), dari data tim gabungan Aremania tercatat ada 131 korban yang meninggal dunia dan 80 yang mengalami luka berat maupun luka ringan.

Sementara berdasarkan hasil investigasi KontraS, TGA dan Lokataru, mereka mengaku menemukan 11 kejanggalan dalam tragedi Kanjuruhan.

Pertama, KontraS menemukan adanya pengerahan aparat bersenjata pada pertengahan babak kedua tanpa alasan yang jelas. Yang mengejutkan, juga beredar foto selongsongan gas air mata yang kadaluwarsa.

Baca Juga: Lewati Jalur Ilegal, Pendaki Gunung Semeru Dilaporkan Jatuh ke Jurang

Sedangkan Lokataru menemukan kejanggalan polisi seharusnya punya wewenang melakukan autopsi. Tapi, autopsi justru tidak dilakukan. Kemudian, CCTV tidak dibuka ke publik.

Ketua Panpel Arema FC, Abdul Haris menyatakan bahwa pintu sudah dibuka pada menit 80. Namun, ada yang menutup kembali. Selain itu, tidak semua rekam medis dari rumah sakit diserahkan ke keluarga korban.

Bukan hanya itu, ada kesamaan ciri korban yang selamat dari gas air mata yaitu mata memerah sampai H+9. Kemudian hasil visum keluarga yang meninggal dan luka yang diserahkan belum ada yang menyebutkan karena gas, hanya karena terinjak-injak.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.