Selasa, 16 Jun 2026 20:00 WIB

Emak-Emak Ini Bertahan di Tengah Pandemi dengan Menjual Kerajinan Tas Jali

Suciningati saat menganyam tas jali.(Nor for jatimnow.com)
Suciningati saat menganyam tas jali.(Nor for jatimnow.com)

jatimnow.com - Suciningati berganti usaha dari jual-beli sembako menjadi pembuat kerajinan tas anyaman atau tas jali.

Emak-emak itu banting setir karena dampak pandemi Covid-19. Dia harus mencari mata pencaharian baru dengan menganyam tas.

Baca Juga: Meimura Bawa Ludruk Besutan ke Kampus, Sentil Eksploitasi Alam Mojokerto

"Awalnya jualan sembako, karena Covid-19 jalan-jalan pada ditutup, banyak di rumah. Jadi macet, akhirnya bangkrut (usaha sembako)," ujar perempuan 44 tahun ini, Kamis (5/10/2022).

Ibu tiga anak itu harus memutar otak untuk membantu perekonomian keluarga guna mengganti usaha yang dirintis sejak 7 tahun. Ia mendapatkan pelatihan rajut pada 2021 dan tali jali pada 2022 dari Pemkot Mojokerto.

"Ada pelatihan dari dinas itu rajut dan jali, saya ikuti. Terus saya menekuni yang jali, alhamdulillah berjalan sampai sekarang," tukasnya.

Suciningati saat menganyam tas jali.(Nor for jatimnow.com)Suciningati saat menganyam tas jali.(Nor for jatimnow.com)

Perempuan yang kerap disapa Uci ini awalnya mengeluarkan modal sebanyak Rp500 ribu untuk merintis bisnis rumahan. Uang digunakan untuk membeli bahan dasar tas jali dari plastik dengan harga Rp50 ribu per kg dari Kabupaten Ponorogo.

Baca Juga: Angkat Isu Situs, Ludruk Besutan Bakal Masuk Kampus UNIM Mojokerto

"Terus saya beranikan diri lanjut dengan modal Rp500 ribu. Bahan bakunya dari Ponorogo," beber Uci.

Istri dari Khoirudin tersebut memilih plastik jali untuk menghasilkan tas yang berkualitas tebal dan kuat. Satu tas berukuran sedang dikerjakan hanya dalam waktu 3 jam.

Kini, Uci bisa menghasilkan tas jali jinjing, tas laptop, tas selempang, dompet, hingga tas ransel. Harganya dibanderol mulai harga Rp30 ribu sampai Rp100 ribu. Tas buatannya mendapat respons baik. Tak hanya digemari warga Mojokerto, tapi juga warga Bali dan Surabaya.

Baca Juga: Tutup Tahun 2025, SportTrip Hijaukan Lereng Gunung Penanggungan

"Omzet masih dikisaran Rp2 juta sampai Rp3 juta per bulan. Alhamdulillah bisa bantu-bantu kebutuhan harian di rumah," katanya.

Saat ini Uci mengalami kendala dalam penjualan tas jali. Ia hanya menjual produknya lewat offline dan lewat WhatsApp.

"Kendalanya penjualan saja, saya baru memasarkan offline. Kalaupun online hanya pesanan melalui WA saja," pungkas Uci.

Editor : Sofyan Cahyono
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.