Kamis, 23 Jul 2026 04:15 WIB

Meimura Bawa Ludruk Besutan ke Kampus, Sentil Eksploitasi Alam Mojokerto

Meimura saat pementasan Ludruk Besutan bertajuk “Batu-batu Bersuara” di Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto, Kamis (7/5). (Foto: Tim Media for jatimnow.com)
Meimura saat pementasan Ludruk Besutan bertajuk “Batu-batu Bersuara” di Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto, Kamis (7/5). (Foto: Tim Media for jatimnow.com)

jatimnow.com - Seniman kawakan Meimura membawa pesan ekologis yang menohok melalui pementasan Ludruk Besutan bertajuk “Batu-batu Bersuara” di Universitas Islam Majapahit atau UNIM Mojokerto, Kamis (7/5). Lewat lakon ini, eksploitasi alam di tanah Majapahit dikuliti habis sebagai peringatan nyata bagi warga dan pemuda setempat akan ancaman bencana yang mengintai di balik pengerukan pasir dan batu.

Pementasan itu menjadi seri kelima dari rangkaian tur sepuluh kota bertajuk “Jajah Deso Milangkori”. Berbeda dengan pertunjukan tradisional pada umumnya, Meimura membuktikan bahwa ludruk tetap taji meski tampil minimalis.

Baca Juga: Telapak Temukan Dugaan Pencemaran Kali Porong Mojokerto, Bakal Lapor Menteri LH

Tanpa riuh gamelan atau panggung megah, ia hanya mengandalkan gesekan biola Herry Biola untuk mengiringi kidung-kidung tajam yang menyasar kesadaran publik.

Dinamika panggung semakin hidup saat dua pemain lokal, Taufiq Hidayat dan Kukun Triyoga, memerankan tokoh penambang pasir. Perdebatan sengit pecah ketika karakter Besut muncul menengahi praktik penggalian sungai yang ugal-ugalan.

Konflik ini sengaja diangkat untuk memotret realitas lingkungan di Mojokerto, di mana keselamatan warga sering kali kalah telak oleh kepentingan ekonomi sesaat.

Menariknya, batas antara pemain dan penonton cair seketika. Dekan FKIP UNIM, Dr. Wawan Hermawan, bahkan didaulat naik ke atas panggung untuk memberikan resolusi moral.

Baca Juga: Besutan Melangkah ke Jakarta, Bawa Misi Menyelamatkan Ludruk

Wawan menegaskan bahwa menjaga akar budaya dan lingkungan adalah satu paket identitas yang tak boleh lepas. Baginya, pendidikan tanpa kebudayaan hanya akan melahirkan manusia-manusia yang asing dengan tanah airnya sendiri.

"Spanduk acara boleh dilipat, tapi kesadaran budaya jangan sampai ikut terlipat," ujar Wawan di hadapan ratusan mahasiswa yang duduk lesehan.

Ia mengingatkan bahwa ludruk adalah simbol hidup yang harus terus dimaknai ulang agar tidak sekadar menjadi barang antik di museum.

Diskusi usai pentas pun mempertebal nilai sejarah kesenian ini. Ki Bagong Sinukarto dari Forum Pamong Kebudayaan Jatim membongkar fakta bahwa ludruk sejak dulu adalah alat perlawanan rakyat.

Baca Juga: Menata Kebudayaan dengan Helm Proyek atau Tikar Musyawarah?

Tokoh seperti Sarip atau Sakerah bukan sekadar dongeng, melainkan representasi pahlawan yang disamarkan dalam balutan hiburan agar bisa lolos dari pengawasan penjajah.

Langkah Meimura melalui Dana Indonesiana ini menjadi bukti nyata bahwa kreativitas tidak boleh mati karena keterbatasan. Dengan melibatkan mahasiswa sebagai audiens utama, pesan kearifan lokal ini diharapkan mampu meredam derasnya arus globalisasi yang sering kali membuat generasi muda tercerabut dari akarnya.

Pentas ditutup secara emosional. Meimura mengajak seluruh penonton berdiri dan menyanyikan lagu "Bagimu Negeri". Sebuah pamungkas yang menegaskan bahwa mencintai tradisi adalah bagian dari komitmen menjaga kedaulatan bangsa.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.