Sabtu, 06 Jun 2026 08:57 WIB

Meimura Bawa Ludruk Besutan ke Kampus, Sentil Eksploitasi Alam Mojokerto

Meimura saat pementasan Ludruk Besutan bertajuk “Batu-batu Bersuara” di Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto, Kamis (7/5). (Foto: Tim Media for jatimnow.com)
Meimura saat pementasan Ludruk Besutan bertajuk “Batu-batu Bersuara” di Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto, Kamis (7/5). (Foto: Tim Media for jatimnow.com)

jatimnow.com - Seniman kawakan Meimura membawa pesan ekologis yang menohok melalui pementasan Ludruk Besutan bertajuk “Batu-batu Bersuara” di Universitas Islam Majapahit atau UNIM Mojokerto, Kamis (7/5). Lewat lakon ini, eksploitasi alam di tanah Majapahit dikuliti habis sebagai peringatan nyata bagi warga dan pemuda setempat akan ancaman bencana yang mengintai di balik pengerukan pasir dan batu.

Pementasan itu menjadi seri kelima dari rangkaian tur sepuluh kota bertajuk “Jajah Deso Milangkori”. Berbeda dengan pertunjukan tradisional pada umumnya, Meimura membuktikan bahwa ludruk tetap taji meski tampil minimalis.

Baca Juga: Menata Kebudayaan dengan Helm Proyek atau Tikar Musyawarah?

Tanpa riuh gamelan atau panggung megah, ia hanya mengandalkan gesekan biola Herry Biola untuk mengiringi kidung-kidung tajam yang menyasar kesadaran publik.

Dinamika panggung semakin hidup saat dua pemain lokal, Taufiq Hidayat dan Kukun Triyoga, memerankan tokoh penambang pasir. Perdebatan sengit pecah ketika karakter Besut muncul menengahi praktik penggalian sungai yang ugal-ugalan.

Konflik ini sengaja diangkat untuk memotret realitas lingkungan di Mojokerto, di mana keselamatan warga sering kali kalah telak oleh kepentingan ekonomi sesaat.

Menariknya, batas antara pemain dan penonton cair seketika. Dekan FKIP UNIM, Dr. Wawan Hermawan, bahkan didaulat naik ke atas panggung untuk memberikan resolusi moral.

Baca Juga: Bukan Pengosongan, Ketika Para Tokoh Berpikir Tentang Ibu Kota Provinsi Jatim

Wawan menegaskan bahwa menjaga akar budaya dan lingkungan adalah satu paket identitas yang tak boleh lepas. Baginya, pendidikan tanpa kebudayaan hanya akan melahirkan manusia-manusia yang asing dengan tanah airnya sendiri.

"Spanduk acara boleh dilipat, tapi kesadaran budaya jangan sampai ikut terlipat," ujar Wawan di hadapan ratusan mahasiswa yang duduk lesehan.

Ia mengingatkan bahwa ludruk adalah simbol hidup yang harus terus dimaknai ulang agar tidak sekadar menjadi barang antik di museum.

Diskusi usai pentas pun mempertebal nilai sejarah kesenian ini. Ki Bagong Sinukarto dari Forum Pamong Kebudayaan Jatim membongkar fakta bahwa ludruk sejak dulu adalah alat perlawanan rakyat.

Baca Juga: Bangunan Sakti Itu Bernama Balai Pemuda Surabaya

Tokoh seperti Sarip atau Sakerah bukan sekadar dongeng, melainkan representasi pahlawan yang disamarkan dalam balutan hiburan agar bisa lolos dari pengawasan penjajah.

Langkah Meimura melalui Dana Indonesiana ini menjadi bukti nyata bahwa kreativitas tidak boleh mati karena keterbatasan. Dengan melibatkan mahasiswa sebagai audiens utama, pesan kearifan lokal ini diharapkan mampu meredam derasnya arus globalisasi yang sering kali membuat generasi muda tercerabut dari akarnya.

Pentas ditutup secara emosional. Meimura mengajak seluruh penonton berdiri dan menyanyikan lagu "Bagimu Negeri". Sebuah pamungkas yang menegaskan bahwa mencintai tradisi adalah bagian dari komitmen menjaga kedaulatan bangsa.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Kakak Beradik Terseret Ombak di Pantai Payangan Jember, Satu Ditemukan Tewas

Kedua korban dilaporkan hilang terseret ombak saat berwisata bersama keluarga.

Puncak Arus Balik Idul Adha 2026, Daop 8 Surabaya Layani 284 Ribu Penumpang

Puncak arus balik libur panjang Idul Adha 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. KAI Daop 8 Surabaya catat lonjakan tembus 284 ribu penumpang. Simak data lengkapnya di sini.

Jambret iPhone Turis Jerman di Kota Lama Surabaya Ditembak Polisi

Polisi menangkap pelaku jambret iPhone milik wisatawan asal Jerman di Kota Lama Surabaya. Pelaku dilumpuhkan karena melawan saat ditangkap.

Kapolres dan Dandim 0820 Probolinggo Terima Gelar Warga Kehormatan Suku Tengger

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat pada Malam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Tabrak Pohon, Truk Pengangkut Ikan Asal Lamongan Terguling di JLS Tulungagung

Truk dalam perjalanan menuju Prigi Trenggalek, pengemudi dan penumpang alami luka serius.

Peringatan Hari Raya Waisak di Tulungagung, Ajak Umat Bersumbangsih Untuk Negeri

Puluhan umat Buddha mengikuti prosesi detik-detik peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Buddha Loka Tulungagung.