Selasa, 16 Jun 2026 20:40 WIB

Produsen Keripik Tempe Kelimpungan Akibat Harga Kedelai Meroket

Pembuatan keripik tempe di Desa Ceweng, Kecamatan Diwek.(Foto: Elok Aprianto)
Pembuatan keripik tempe di Desa Ceweng, Kecamatan Diwek.(Foto: Elok Aprianto)

jatimnow.com - Naiknya harga kedelai impor di pasaran yang mencapai Rp12.650 per kilogram, membuat pengusaha keripik tempe di Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, kelimpungan.

Pasalnya, perajin keripik tempe rumahan ini seratus persen bergantung pada kedelai yang menjadi bahan baku utamanya. Kondisi ini membuat usahanya diambang pintu kebangkrutan.

Baca Juga: Besut Mudik ke Jombang, Mencari Roh Dialektika di Tanah Para Pemikir

Salah satu perajin kripik tempe Imam Kalimi mengaku dampak kenaikan kedelai impor bulan ini sangat mempengaruhi hasil produksi olahan cemilannya.

"Jelas kami terdampak, karena bahan bakunya dari kedelai. Jadi saya harus mengatur siasat untuk penjualannya, dan semakin sulit produksi kalau seperti ini untuk menaikkan harga jualnya," ungkapnya, Sabtu (1/10/2022).

Untuk menyiasati agar usahanya yang dirintis sejak 17 tahun silam tidak gulung tikar, ia terpaksa harus mengurangi isi keripik tempe yang dikemas dan dijual ke konsumen. Hal ini dikarenakan ia tak mau kehilangan pelanggan lantaran harga jualnya dinaikkan.

Baca Juga: Potret Travesti Ludruk, Simbol Perlawanan yang Hadir di Pameran Foto Jombang

"Kalau keripik tempe pakai kedelai lokal, hasilnya kurang bagus dan tidak bisa mengembang seperti ini. Jadi kenaikan ini, kami sangat terdampak karena memakai kedelai impor dan hasilnya lebih bagus," katanya.

Sejak kedelai impor naik, ia mengaku tetap memilih menggunakannya dan tidak beralih ke kedelai lokal. Dalam sehari, ia biasanya menghabiskan 20 kilogram kedelai impor. Namun kini, ia produksi keripik tempe hanya jika ada pesanan saja.

"Jika sudah menjadi keripik tempe jadi 35 kilogram tiap 20 kilogramnya. Kalau tidak naik harga kedelai, setiap hari tetap produksi seperti biasanya. Tapi kini produksi jika ada pemesanan banyak. Sejak kedelai impor naik, produksi hanya 3 sampai 4 hari selama seminggu," bebernya.

Baca Juga: Jombang Terancam Krisis Mikroplastik, Limbah Domestik Jadi Biang Kerok

Ia mengaku jika harga kedelai impor sampai tembus Rp20 ribu per kilogramnya, maka usahanya bakal gulung tikar.

"Jika kondisi kedelai impor ini alami kenaikan terus, bisa-bisa usaha keripik tempe gulung tikar. Mudah-mudahan tidak," pungkasnya.

Editor : Sofyan Cahyono
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.