Minggu, 14 Jun 2026 21:25 WIB

Murid SD di Jombang Mainkan Drama Kolosal Pertempuran Surabaya, Begini Aksinya

Murid SDN Brudu 1 saat memainkan drama kolosal Pertempuran Surabaya.(Foto: Elok Aprianto)
Murid SDN Brudu 1 saat memainkan drama kolosal Pertempuran Surabaya.(Foto: Elok Aprianto)

Jombang - Murid SDN Brudu 1, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, punya cara tersendiri dalam memeriahkan HUT ke-77 RI. Mereka memainkan drama kolosal "Pertempuran Surabaya". Drama kolosal yang memperagakan perjuangan arek-arek Surabaya melawan tentara Belanda itu dimainkan para murid dan guru di lapangan SD setempat, Sabtu (20/8) pagi.

Pendamping dari Rumah Merdeka, Mohamad Alfansuri mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk penghayatan terhadap nilai-nilai perjuangan para pahlawan terdahulu dalam melawan Belanda. Peperangan yang diperagakan adalah arek-arek Surabaya saat melawan tentara Belanda dan Inggris.

Baca Juga: Besut Mudik ke Jombang, Mencari Roh Dialektika di Tanah Para Pemikir

"Kami memulai dari adegan peristiwa sebelum ada penjajahan, kemudian masuknya penjajah, dan perubahan suasana saat itu," ungkap Alfan.

Murid SDN Brudu 1 saat memainkan drama kolosal Pertempuran Surabaya.(Foto: Elok Aprianto)Murid SDN Brudu 1 saat memainkan drama kolosal Pertempuran Surabaya.(Foto: Elok Aprianto)

Menurut Alfan, perubahan situasi saat itu dengan datangnya tentara Belanda dan ultimatum dari tentara Inggris membuat arek-arek Surabaya tidak terima dan terjadi perlawanan. Sajian drama kolosal diharapkan agar mampu memberikan edukasi sejarah dengan seni peran.

Baca Juga: Potret Travesti Ludruk, Simbol Perlawanan yang Hadir di Pameran Foto Jombang

"Anak-anak ini mencoba memerankan arek-arek Surabaya yang memberontak terhadap tentara Belanda dan Inggris di peristiwa 10 November 1945. Mengajak anak-anak belajar sejarah. Selain itu, kami juga berusaha melibatkan anak-anak dalam media pertunjukan. Konsep media pertunjukan ini adalah memerdekakan anak-anak, menjadikan anak sebagai subjek bukan obyek," paparnya.

Saat ditanya apakah ada kendala dalam memainkan drama kolosal tersebut, Alfan mengaku banyak hal tak terduga dalam pelaksanaan drama. Pasalnya, ada sejumlah hal yang muncul secara tiba-tiba tanpa terkonsep.

Baca Juga: Jombang Terancam Krisis Mikroplastik, Limbah Domestik Jadi Biang Kerok

"Kalau kesulitan, tidak. Tapi ya anak-anak seperti ini, pertama kali latihan ada selalu perkembangan. Karena kami tidak menjadikan anak-anak ini sebagai aktor tapi pada bermain peran. Saat tampil tadi ada anak-anak yang tertawa, kemudian berguling-guling, ya begitulah seharusnya anak-anak dan itu ciri khas anak-anak," pungkasnya.

 

Editor : Sofyan Cahyono
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.