Kamis, 11 Jun 2026 17:08 WIB

Refleksi Kudatuli, WS Ingatkan Kader PDIP Selalu Dalam Barisan

Foto-foto: Refleksi dan Doa Bersama Peringatan 26 Tahun Kudatuli 27 Juli 1996.(Foto: Dok. PDIP Jatim)
Foto-foto: Refleksi dan Doa Bersama Peringatan 26 Tahun Kudatuli 27 Juli 1996.(Foto: Dok. PDIP Jatim)

Surabaya – Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPD PDIP) Jawa Timur Whisnu Sakti (WS) Buana mengingatkan kepada seluruh kader untuk setia dalam satu barisan. Itu dikatakan Whisnu Sakti sebagai salah satu bentuk merefleksi perjuangan para kader partai yang saat itu berjuang di atas keringat, darah dan air mata dalam persitiwa pada 27 Juli 1996 (Kudatuli).

"Karena pada saat itu seluruh kader PDI (era Orde Baru) berjuang secara ikhlas. Tidak ada kepentingan ingin menjadi wakil rakyat, wali kota, atau ketua dewan. Tujuannya satu, mempertahankan kebenaran," terang Whisnu Sakti dalam sambutan Refleksi dan Doa Bersama Peringatan 26 Tahun Kudatuli 27 Juli 1996, Selasa (26/7/2022) malam.

Baca Juga: May Day 2026, PDIP Surabaya Bagikan MBG Pada Ojol Perempuan

Peristiwa kelam di masa Orde Baru inilah yang menjadi tonggak bahwa keikhlasan dan kekompakkan seluruh barisan partai besutan Megawati Soekarnoputri menjadi besar. Untuk mempertahankan hal tersebut, WS juga mengingatkan secara khusus kepada Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya Adi Sutarwijono, dan Wakil Wali Kota Surabaya Armuji dalam agenda politik di 2024. Proses penyaringan kader-kader legislatif berlambang Kepala Banteng Moncong Putih harus mewarisi semangat dari refleksi Kudatuli.

"Kemarin sudah belajar di Jawa Tengah, pokok'e ojok onok sing tukang copet, utowo petinju," tegas WS disambut koor setuju dari ratusan kader dan simpatisan yang hadir.

WS mengartikan, bahwa kader yang akan dipersiapkan untuk duduk sebagai Wakil Rakyat nantinya tidak terlena dengan jabatan. Sehingga melupakan rakyat dan mencederai nama besar partai.

Baca Juga: Syaifuddin Zuhri Jadi Ketua DPRD Surabaya, Said Abdullah Beri Pesan

"Sehingga di 2024 nanti kami bisa kembali menang total. Setuju!" kata dia.

Sejarah Kerusuhan 27 Juli 1996 menjadi peristiwa kelam dalam tubuh PDI Perjuangan (saat itu PDI). Kota Surabaya menjadi tonggak historis dalam Kongres Luar Biasa (KLB) tahun 1993 di kawasan Sukolilo. Dalam KLB ini seluruh kader partai menetapkan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum dengan Sekretaris Jendral Alex Litai.

Baca Juga: Sikap PDIP Jatim Atas Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Namun, adanya tekanan politik di era Orde Baru memunculkan kekuatan tandingan di KLB Medan dan menunjuk Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI, dengan tujuan menjatuhkan Megawati dalam masa menjelang Pemilu 1997.

Hal tersebut memunculkan protes luar biasa dari seluruh kader PDI. Tidak hanya peristiwa di Jalan Diponegoro, Jakarta. Posko Pandegiling 223 Surabaya, juga menjadi tonggak sejarah mempertahankan Megawati sebagai ketua umum mendapat tekanan represif dari aparat saat menggelar mimbar bebas.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Bupati Jember meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) segera berkoordinasi dengan para camat, Gapoktan, dan Poktan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam organisasi petani.

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.