Rabu, 17 Jun 2026 00:43 WIB

Penari Perempuan di Tulungagung Gelar Pertunjukan 4 Jam Non Stop

Belasan penari peringatai Hari Tari sedunia di Tulungagung. (Foto:Humas World Dance Day /jatimnow.com)
Belasan penari peringatai Hari Tari sedunia di Tulungagung. (Foto:Humas World Dance Day /jatimnow.com)

Tulungagung - Peringati Hari Tari sedunia, belasan penari perempuan yang tergabung dalam Persatuan Penari Perempuan Tulungagung, menggelar perfoming art selama 4 jam. Mereka menari di sejumlah titik pada Jumat (29/04/2022) malam dengan membawakan tema tertentu.

Koordinator Persatuan Penari Perempuan Tulungagung Yusi Kencus mengatakan, total terdapat 13 penari perempuan yang terlibat dalam perfoming art ini. Mereka merupakan perwakilan dari sanggar tari serta mahasiswa jurusan tari dari berbagai universitas. Aksi ini baru pertama kali dilakukan secara outdoor, dalam rangka memperingati Hari Tari sedunia yang jatuh pada 29 April.

Baca Juga: Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

"Ini kegiatan pertama kami dalam rangka memperingati Hari Tari sedunia," ujarnya, Sabtu (30/04/2022).

Aksi ini diawali dari depan Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso. Para penari membawakan tarian yang menggambarkan kecintaan mereka terhadap Tulungagung. Selanjutnya mereka berjalan ke arah selatan dan berhenti di titik kedua yang ada di depan Pohon Beringin.

Baca Juga: Melawan Saat Ditangkap, Dua Pembobol Toko Bangunan Tulungagung Didor

Mereka kemudian melakukan tarian yang mengajak seniman tari untuk selalu kompak. Para penari ini lalu melanjutkan berjalan lagi ke arah patung Kartini dan menari tentang tradisi Nyethe yang menjadi ikon Tulungagung.

"Setiap titik kami menari berisi pesan tersendiri, total ada 6 titik," terangnya.

Baca Juga: Asyik Nongkrong di Warung Kopi, Puluhan Pelajar di Tulungagung Terjaring Razia

Tak hanya tari kontemporer, mereka juga membawakan beberapa tari tradisional seperti Reyog Kendang, Remo dan Barongan. Peringatan Hari Tari Sedunia ini ditutup dengan tari ritual keselamatan. Para penari membentuk formasi melingkar seperti ritual kenduri. Mereka membawakan tari tetek melek yang merupakan simbol tolak bala.

"Tari ini bermakna sebagai ritual tolak bala untuk bangsa dan negara," pungkasnya.

Editor : Arina Pramudita
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.