Sabtu, 20 Jun 2026 15:25 WIB

Petani Apel di Kota Batu Berharap Bantuan Pupuk Organik

Petani apel di Kota Batu.(Foto: DPKP Kota Batu)
Petani apel di Kota Batu.(Foto: DPKP Kota Batu)

Kota Batu - Pupuk kimia yang digunakan para petani dalam jangka berkepanjangan mulai dirasakan dampaknya. Kualitas tanah menurun sehingga menghambat produksi buah apel di Kota Batu. Saat ini para petani berharap ada upaya revitalisasi lahan demi menyelamatakan ikon Kota Batu.

Seperti disampaikan Wakil Ketua Poktan Maju Bersama Desa Tulungrejo Utomo. Ia mewakili para petani lainnya berharap ada bantuan pupuk organik yang bisa menjadi formula untuk memperbaiki unsur hara tanah.

Baca Juga: Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

"Itu saja keinginan kami para petani, bantuan pupuk organik. Karena selama ini bantuan yang diberikan hanya pupuk cair kimia bagi anggota poktan berjumlah 25 orang. Tiap anggota menerima 5-6 botol pupuk cair kimia. Jumlah itupun tak sebanding dengan luas kebun petani," kata Utomo, Kamis (21/4/2022).

Bila pupuk kimia yang diberikan, tentu percuma upaya revitalisasi lahan. Namun bila diberi pupuk kandang dengan jumlah yang cukup, misalnya tiap Gapoktan diberi bantuan 25 ton, maka akan bermanfaat.

"Otomatis tiap petani mendapatkan 1 ton pupuk. Itu cukup efektif dan bermanfaat," harapnya.

Baca Juga: Mahasiswa Thailand Belajar SDGs dan Ekonomi Sirkular di Desa Suci Jember

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Batu Harijadi Agung menyatakan akan mengucurkan bantuan kepada petani senilai Rp530 juta pada 2022.

"Jika dirinci, bantuan itu akan berupa 3 hal. Yaitu bibit apel Rp190 juta, bantuan revitalisasi atau peremajaan apel Rp190 juta, dan terakhir sebesar Rp150 juta untuk bantuan petani terdampak banjir di Desa Sumbergondo dan Bulukerto," paparnya.

Memang sekarang keadaan pertanian apel tidak semulus dahulu. Tak sedikit petani yang gulung tikar dan beralih pada komoditas pertanian lain. Beralihnya petani apel menanam komoditas lain bukan tanpa alasan.

Baca Juga: Rakyat Desa Memang Tidak Memegang Dollar, Tetapi Tetap Menanggung Dampaknya

"Mahalnya biaya perawatan namun hasil tak sebanding menjadi faktor utama kenapa budidaya apel ditinggalkan. Jika terus menerus seperti ini, maka apel sebagai ikon Kota Batu ini akan tergerus," tegasnya.

DPKP meminta agar petani memperbaiki kualitas lahan menggunakan pupuk organik. Tingginya unsur hara pada tanah diyakini bisa memperbaiki produktivitas tanaman apel.

Editor : Sofyan Cahyono
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.