Kamis, 18 Jun 2026 12:58 WIB

Perajin Tahu di Jombang Mogok Produksi, Disdagrin Beri Solusi Ukuran Diperkecil

Perajin tahu di Jombang saat proses produksi. (Foto: Elok for jatimnow.com)
Perajin tahu di Jombang saat proses produksi. (Foto: Elok for jatimnow.com)

Jombang - Harga kedelai yang mahal membuat perajin tahu di Kabupaten Jombang melakukan aksi mogok produksi.

Ada sekitar 85 perajin tahu yang melakukan mogok produksi di tiga desa di Kabupaten Jombang sejak Minggu (20/2/2022) kemarin hingga hari Selasa (22/2/2022).

Baca Juga: Dear Prabowo, Produsen Tahu di Tulungagung Resah Karena Harga Kedelai Naik

Ketua Paguyuban Perajin Tahu Jombang, Imam Subkhi mengatakan, mogok produksi ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan karena harga kedelai yang mencapai Rp11.500 per kilogram.

"Aksi putus asa, kita harus mengadu kemana kita tidak tahu makanya kita berhenti produksi sementara. Ada sekitar 83 hingga 85 produsen," kata Imam, Senin (21/2/2022).

Menurut Imam, tak hanya mogok produksi, perajin tahu juga melakukan aksi mogok berjualan hingga Rabu (23/2/2022). Kebutuhan kedelai yang dibutuhkan dari 85 perajin tahu tempe mencapai 100 ton kedelai impor.

Baca Juga: Besut Mudik ke Jombang, Mencari Roh Dialektika di Tanah Para Pemikir

Menurut Imam, sebanyak 3 ribu pekerja juga harus diliburkan akibat aksi mogok ini. Dirinya berharap supaya pemerintah memberikan solusi.

"Harapan saya kedelai turun dan harga minyak stabil. Kalau di paguyuban kami itu sekitar 100 ton per harinya," harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jombang, Hari Oetomo menjelaskan, kondisi harga mahal itu karena harga impor dan lokal naik.

Baca Juga: Potret Travesti Ludruk, Simbol Perlawanan yang Hadir di Pameran Foto Jombang

"Harga di negara asalnya Amerika itu tinggi jadi terpengaruh semua nasional. Intinya pengusaha tahu dan tempe diberikan pengertian, pemahaman agar maklum karena kondisi nasional, estimasi bulan Juni Juli harganya normal kembali," tukasnya.

Ia meminta pengusaha tahu dan tempe untuk mengurangi atau memproduksi dengan mengurangi kualitas atau memperkecil ukuran. "Ya, agar mengemas harga lebih murah, mengurangi kualitas atau ukurannya diperkecil," pungkasnya.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.