Jumat, 19 Jun 2026 12:37 WIB

Kasus Tendang Sesajen di Semeru, Sosiolog: Tidak Perlu Masuk Ranah Hukum

Pakar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr Bagong Suyanto. (Foto: Humas Unair For jatimnow.com)
Pakar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr Bagong Suyanto. (Foto: Humas Unair For jatimnow.com)

Surabaya - Pakar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr Bagong Suyanto berpendapat, Hadfana Firdaus pelaku penendang dan pembuang sesajen di kawasan Gunung Semeru, semestinya tidak perlu dilaporkan ke kepolisian.

Menurut dosen Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik tersebut, bangsa Indonesia perlu belajar memaafkan dan memahami orang yang tidak mengerti.

Baca Juga: Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

“Menurut saya memang, tidak perlu memperpanjang masalah ini sampai ke ranah hukum. Kita bisa menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan dan yang terpenting ketika pelaku sudah meminta maaf, maka ya selesai permasalahannya," ujar Prof Bagong dalam siaran tertulis yang diterima redaksi, Selasa (18/1/2022).

"Karena menurut informasi yang saya dapat juga, pelaku tidak berasal dari wilayah Lumajang, sehingga mungkin tidak mengetahui adat-istiadat setempat,” imbuhnya.

Meski demikian, Bagong Suyanto tetap tidak membenarkan atas tindakan penendangan dan pembuangan sesajen yang dilakukan Hadfana Firdaus.

Hanya saja, proses memafkan bertujuan agar bisa membuat pelaku memahami bahwa Indonesia adalah bangsa multikulturalisme sehingga setiap orang perlu menghargai perbedaan.

Baca Juga: BTN Gandeng UNAIR, Perkuat Literasi Finansial dan Ekosistem Kampus Digital

“HF kan orang luar daerah yang datang ke komunitas lokal (masyarakat Lumajang). Maka dia harus berempati dan belajar memahami perbedaan,” tegas Prof Bagong.

Dosen yang dinobatkan sebagai peneliti terbaik Unair versi Google Scholar itu menuturkan, hal ini bisa menjadi pelajaran bersama. Sehingga HF tidak bisa hanya membenarkan tindakannya sendiri dan menganggap yang lain adalah salah.

“Karena nanti akan ada kelompok-kelompok lain yang tersinggung. Supaya kita mau mengenal dan memahami ritual dari agama dan kepercayaan lain. Itu penting sebagai bekal hidup di negara yang penuh perbedaan ini,” sambungnya.

Baca Juga: Kekerasan di Daycare, Psikolog Ingatkan Bahaya Trauma Anak dan Mom-Shaming

Terkait sikap bijak ketika menghadapi perbedaan, lanjut Prof Bagong, masyarakat boleh saja mempercayai dan mengimani suatu keyakinan, akan tetapi mereka tidak perlu menyalahkan atau merendahkan yang lainnya. Cukup dirasakan sendiri tanpa menyinggung keyakinan lain.

Melalui sikap yang demikian, maka ke depannya diharapkan tidak akan terulang kejadian serupa. Hal itu karena tidak ada anggapan salah terhadap kelompok atau keyakinan lain. Yang ada yakni penghormatan dan kesediaan untuk menerima bahwa perbedaan itu ada.

“Jadi masyarakat harus betul-betul memahami bahwa kita hidup di lingkungan yang beraneka ragam. Sehingga ketika hendak menilai suatu kelompok lain yang berbeda, janganlah memakai ukuran kita sendiri. Kita harus berempati dan bertoleransi dan kuncinya adalah memahami dan menerima segala bentuk perbedaan,” pungkasnya.

Editor : Arina Pramudita
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.

Curi Uang Kotak Amal Masjid, Pria di Blitar Diarak Warga

Pihak takmir masjid dan warga jemput pelaku di rumah, kini pelaku sudah diserahkan ke pihak berwajib.