Jumat, 12 Jun 2026 20:36 WIB

Mengenal Monumen Bersejarah Bendungan yang Dikelola PJT I

Saat prosesi tabur bunga di Monumen bendungan PJT I. (Foto: Istimewa)
Saat prosesi tabur bunga di Monumen bendungan PJT I. (Foto: Istimewa)

Malang - Perum Jasa Tirta (PJT) I memperkenalkan monumen bersejarah di beberapa infrastruktur sumber daya air yang dikelolanya. Sejumlah monumen disebut masih menyimpan kisah tragis di balik megahnya bendungan yang dibangun.

Pertama adalah Monumen Metro atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tugu Metro. Tugu ini terletak di tepi Jembatan Metro yang berada di wilayah Kepanjen, Kabupaten Malang.

Baca Juga: PJT I Lakukan Flushing Waduk Wlingi dan Lodoyo, Akses Ditutup Sementara

Tugu ini dibangun untuk menandai kecelakaan tragis yang terjadi pada 21 November 1985 di lokasi setempat.

Saat itu, truk proyek yang mengantar pulang 80 orang pekerja Proyek Bendungan Sengguruh, terjatuh dan meluncur masuk ke jurang Sungai Metro. Sebanyak 49 orang meninggal dunia, dan sisanya luka-luka.

Monumen ini berbentuk empat buah bangunan serupa sayap yang mengapit papan trapesium bertuliskan nama para korban. Peristiwa ini menjadi bagian kisah pilu semasa pembangunan Bendungan Sengguruh yang saat ini berfungsi sebagai salah satu pengendali banjir dan menyuplai kebutuhan PLTA di sistem Sungai Brantas.

Berikutnya adalah monumen yang berada di area Bendungan Wlingi, Blitar. Monumen ini dikenal dengan sebutan Pathok Loding, karena bentuknya yang menyerupai pasak.

Monumen ini dibangun untuk mengenang pengorbanan dari para pekerja dan tenaga ahli yang gugur pada masa pembangunan Bendungan Wlingi (1974-1977). Salah satu peristiwa tragis yang terjadi adalah tergulingnya perahu yang mengangkut para insinyur Jepang yang hendak survei perencanaan bendungan.

Bendungan Wlingi saat ini bermanfaat untuk menyuplai kebutuhan irigasi seluas 12 ribu hektar sawah melalui saluran Lodagung serta membangkitkan PLTA dengan kapasitas 2x27 MW.

Monumen lainnya yang juga menyimpan kisah tragis terdapat di wilayah Tulungagung Selatan. Pada masa penjajahan (1942-1945), Jepang melaksanakan sistem kerja paksa atau romusha untuk membangun saluran sudetan banjir dengan mengalirkan air melalui terowongan yang menembus bukit Neyama (Gunung Selatan) untuk dibuang langsung ke Samudera Hindia.

Ribuan warga Tulungagung, Blitar dan Kediri dipaksa untuk bekerja membangun Parit Raya dan menggali terowongan. Mereka dipekerjakan tanpa upah dengan penuh penderitaan dan kelaparan. Ditambah dengan adanya wabah malaria yang mengakibatkan banyak pekerja yang meninggal dunia karena penyakit dan kelelahan.

Baca Juga: Mulai 1 Agustus 2026, Mobil Dilarang Melintas Jalan Bendungan Lahor

Tahun 1986, proyek kembali diteruskan oleh pemerintah. Dan untuk mengenang jejak kekejaman ini, dibuatlah sebuah monumen di kawasan Terowongan Neyama yang bernama Monumen Sukamakmur.

Dalam rangka peringatan Hari Bakti PU ke-67, PJT I melaksanakan kegiatan tabur bunga dan upacara penghormatan secara serentak di sejumlah monumen bersejarah tersebut. Selain itu, dilakukan juga takziah ke beberapa makam para Menteri PU.

Di antaranya ke makam Ir Sutami selaku Menteri PU tahun 1966-1978 sekaligus Tokoh PU yang namanya diabadikan sebagai nama Bendungan di Brantas. Ia meninggal tahun 1980 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta.

Selain itu, tabur bunga juga dilakukan di makam Ir Soenarno selaku Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah tahun 2001-2004 di Solo, dan Ir Mananti Sitompoel selaku Menteri Pekerjaan Umum pada kabinet darurat tahun 1948-1949 dan 1950.

Prosesi tabur bunga di Monumen bendungan PJT I.Prosesi tabur bunga di Monumen bendungan PJT I.

Baca Juga: PJT I dan JKPKA Gandeng Pelajar Belajar Pantau Kualitas Air Sungai

Direktur Utama PJT I, Raymond Valiant Ruritan menyampaikan, kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya untuk meneladani setiap pengorbanan serta pengabdian yang diberikan dalam pembangunan infrastruktur sumber daya air di Wilayah Kerja PJT I.

"Ini adalah salah satu cara bagi kami untuk melakukan penghormatan. Dengan kembali mengenal sejarah," jelasnya, Minggu (5/12/2021).

Harapaannya hal tersebut bisa menumbuhkan semangat kami untuk melanjutkan perjuangan dalam merawat dan memelihara infrastruktur yang dihasilkan atas pengorbanan para pendahulu.

"Dari sejarah kita bisa belajar banyak perjuangan mereka. Setidaknya kita harus bisa memaknainya dan memelihara demi kebermanfaatan bagi kita atau pun generasi mendatang," tutupnya.

Editor : Arina Pramudita
Berita Terbaru

Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Bupati Jember meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) segera berkoordinasi dengan para camat, Gapoktan, dan Poktan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam organisasi petani.

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.