Fenomena Waterspout, 1 Perahu Rusak dan Rumah Nelayan di Banyuwangi Terangkat
- Penulis : Rony Subhan
- | Kamis, 17 Jun 2021 15:36 WIB
jatimnow.com - Fenomena alam waterspout atau pusaran angin di laut mengarah dari timur ke barat terjadi di perairan utara Banyuwangi atau selat Bali pada Rabu (16/6).
Pusaran angin itu terlihat menghantam perahu dan rumah warga di lingkungan Plengsengan, Kelurahan Kampung Mandar, Kecamatan Kota Banyuwangi.
Baca Juga: Misteri Perahu Menyala Tanpa Awak Terjawab, Nelayan Sumenep Ditemukan Meninggal
"Ada puting beliung di Selat Bali. Mengarah ke Pantai Marina Boom, Baselat banyuwangi sekitar pukul 16.00 Wib kemarin," kata salah satu warga Banyuwangi, Rendra Kurnia, Kamis (17/6/2021).
Ia menjelaskan, waterspout itu terjadi sekitar pukul 16.00 Wib. Selang sekitar 20 menit kemudian, pusaran angin menghantam perahu nelayan dan rumah warga.
"Sekitar pukul 16.20 Wib, angin bercampur air naik ke daratan. Satu perahu rusak dan rumah nelayan terasnya terangkat," ujar dia.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas III Banyuwangi, Gede Agus Purbawa mengatakan waterspout ini biasanya berlangsung kurang dari 10 menit.
"Biasanya hanya sekitar 10 menit saja. Waterspout itu dimana awan membentuk pusaran angin menghisap air kemudian membawa air itu," ujarnya.
Penyebabnya adalah awan cumulonimbus yang daya konvektifnya sangat kuat sehingga terjadi pusaran. Ketika berada di laut akan semakin terlihat karena menghisap air.
Baca Juga: Tol Prosiwangi Jadi Perhatian, Basarnas Siapkan Helikopter Pantau Arus Nataru
"Ketika ada awan yang kuat, daya konvektifnya menghisap naik. Nanti kalau energinya turun, dia luruh sendiri," lanjut dia.
Menurutnya, peristiwa itu merupakan fenomena biasa dan sudah sering terjadi. Namun jika sampai ke darat dampaknya seperti dampak puting beliung.
"Kalau sampai ke darat bisa menjadi puting beliung. Berbahaya juga bagi nelayan di perairan," terang dia.
Untuk penyebab terbentuknya awan cumulonimbus, ia menyebut akibat suhu laut di wilayah selatan Banyuwangi dan Selat Bali sedang hangat.
Baca Juga: Operasi SAR KMP Tunu Pratama Jaya Resmi Ditutup, Segini Jumlah Korban yang Ditemukan
"Itu suhu lautnya hangat, sehingga pembentukan awannya lumayan cepat. Jadi dari pagi pemanasan sorenya terbentuk awan," pungkasnya.
Editor : Sandhi Nurhartanto