Jumat, 19 Jun 2026 09:23 WIB

Untag Surabaya Gelar Sarasehan Revitalisasi Jiwa Patriotik dan Nasionalisme

Untag Surabaya gelar sarasehan bertajuk Revitalisasi Jiwa Patriotik dan Nasionalisme
Untag Surabaya gelar sarasehan bertajuk Revitalisasi Jiwa Patriotik dan Nasionalisme

jatimnow.com - Memperingati Bulan Bung Karno dan Hari Lahir Pancasila, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar Sarasehan Nasional Kebangsaan secara daring.

Sarasehan Nasional Kebangsaan bertema 'Revitalisasi Jiwa Patriotik dan Nasionalisme Suatu Gerakan Memperkokoh Wawasan Kebangsaan bagi Masyarakat, Bangsa dan Negara' itu digelar pada Selasa (8/6/2021).

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Berawan

Acara itu menghadirkan Anggota DPR RI Drs. H. Djarot Syaiful Hidayat, Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Dr. Hariyono dan Pengurus Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya J. Subekti.

Saat menjadi keynote speaker, Rektor Untag Surabaya, Dr. Mulyanto Nugroho mengatakan, revitalisasi jiwa patriotik dapat diwujudkan melalui sikap serta memperkokoh wawasan kebangsaan.

Nugroho menekankan pentingnya dilakukan revitalisasi nilai-nilai Pancasila bagi generasi muda yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa.

"Tantangan kondisi Indonesia saat ini adalah banyak nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika yang tercabik-cabik seperti adanya intoleransi, radikalisme dan terorisme, korupsi hingga kesenjangan sosial ekonomi. Adalah tugas kita untuk merevitalisasi jiwa patriotik dan nasionalisme," papar Nugroho.

Sementara Djarot mengungkapkan perlunya mengembalikan jiwa patriotik dan nasionalisme. Dicontohkannya, figur Bung Karno dengan seluruh sikap dan tindakan cinta tanah air berdasarkan nilai theisme, sosialisme dan nasionalisme.

 Anggota DPR RI Drs. H. Djarot Syaiful Hidayat menjadi salah satu narasumber dalam sarasehan kebangsaan yang digelar Untag Surabaya Anggota DPR RI Drs. H. Djarot Syaiful Hidayat menjadi salah satu narasumber dalam sarasehan kebangsaan yang digelar Untag Surabaya

Namun Djarot mengakui perubahan dan kemajuan zaman berdampak negatif pada berbagai aspek, baik politik, ekonomi hingga budaya. Hal ini menurutnya terjadi karena nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, wujud dan jatidiri bangsa serta Trisakti dilupakan.

Djarot juga menyayangkan banyaknya generasi milenial yang tidak lagi mengenal sejarah Indonesia. Sehingga dia berharap dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan seperti sekolah, agar memasukkan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme.

Baca Juga: Mahasiswa UNTAG Surabaya Bantu UMKM Mojo Urus Legalitas dan Go Digital

Misalnya dengan pengadaan program volunteer atau sukarelawan. Adanya kegiatan seperti ini, lanjut Djarot, diharapkan menjadi wadah bagi generasi milenial mempelajari nilai-nilai Pancasila.

"Adanya empati saat membantu masyarakat, itu sudah merupakan nilai Pancasila. Kemudian bergaul dengan berbagai macam suku, agama dan ras, itu sudah masuk nilai toleransi. Hal yang seperti ini perlu dikembangkan dengan konteks kekinian," jelas dia.

"Kemajuan teknologi juga bisa menjadi wadah merevitalisasi jiwa patriotik dan nasionalisme pemuda dengan adanya konten-konten yang diisi dengan nilai-nilai nasionalis dan kearifan Indonesia," sambung Djarot.

Hal yang sama disampaikan Prof Hariyono. Kata dia, tantangan dan ancaman dari kemajuan suatu peradaban tidak bisa terelakkan. Namun ideologi Pancasila sebagai pedoman bangsa menjadi penuntun dalam menghadapi seluruh persoalan yang ada.

"Bung Karno melalui ideologi Pancasila tidak hanya mengajak masyarakat Indonesia untuk reaktif dan bersikap defensif terhadap ancaman dan tantangan yang ada, namun mendorong kita untuk berpikir kreatif, konstruktif dan progresif. Jangan sampai kita hanya larut dalam reaksi sampai lupa pada misi mulia ideologi bangsa kita," tuturnya.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah Berawan

Kemudian J. Subekti menjelaskan dalam menghadapi degradasi pemahaman terhadap nasionalisme di Indonesia yang multietnis dan multikultur, dibutuhkan revitalisasi semangat gotong royong dan kolaborasi dalam membangun kembali jiwa Pancasila dan nasionalisme.

Dalam proses revitalisasi ini dibutuhkan aksi nyata, misalnya pembumian Pancasila. Hal ini bertujuan agar Pancasila tidak hanya untuk berteriak melainkan untuk bertindak.

Subekti juga mengajak tokoh masyarakat, tokoh agama hingga tenaga pendidik untuk memberikan ketauladanan hidup normatif sesuai Pancasila dan UUD 1945.

"Mari memberi tauladan bagaimana kita bersikap dan berbicara sebagai tokoh panutan. Jangan sampai malah memecah belah di dalam institusi, di dalam bangsa," tandasnya.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.