Selasa, 16 Jun 2026 18:20 WIB

Viral Jembatan Bambu Ponorogo Senilai Rp 200 Juta, Ini Penjelasannya

Jembatan penghubung di Ponorogo
Jembatan penghubung di Ponorogo

jatimnow.com - Postingan jembatan penghubung Desa Bulak dan Desa Pandak, Kecamatan Balong berupa bambu dan sesek dengan menghabiskan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Ponorogo Rp 200 juta menjadi viral di media sosial (medsos).

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Kabupaten Ponorogo, Jamus Kunto mengatakan di tahun 2020 ini ada usulan dari desa untuk memperbaiki jembatan. Usulan perencanaan proyek itu ke Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapeda).

Baca Juga: Ribuan Jemaah Hadiri Tabligh Akbar Seabad Gontor

"Dari lurah ke Bappeda. Nah saya diminta untuk menghitung, antara bentang 10 sampai 11 meter itu kebutuhan anggaran sekitar Rp 500 juta sampai Rp 600 juta dengan lebar maksimal sekitar 3 meter," kata Jamus, Kamis (17/12/2020).

Namun, anggaran yang tersedia hanya Rp 200 juta. Ia menyebut jika pihak kelurahan telah menyetujuinya. Anggaran Rp 200 juta itu dibangun pondasinya dulu.

"Nanti tahun 2021 akan dilanjut lagi untuk struktur utamanya. Akhirnya kita bangun pondasinya dulu senilai Rp 200 juta itu. Dan selesai kan," ujar dia.

Setelah pondasi dibangun, warga kemudian membangun jembatan dengan bambu dan sesek agar dapat melintasinya. Warga beralasan, agar mereka tidak memutar terlalu jauh jika bepergian.

Baca Juga: Ada Apa dengan Film Pesta Babi?

"Masyarakat yang membangun. Dan itu cukup untuk lewatan sepeda motor," terangnya.

Menurutnya, model jembatan dengan bambu dan sesek cukup banyak. Ada 7 jembatan yang pembangunannya bertahap. Selain jembatan di Kecamatan Balong juga ada di Desa Bajang.

Untuk jembatan Prayungan, Sawoo itu dibangun selama tiga tahun yang dilakukan sejak tahun 2009 lalu. Permasalahannya adalah keterbatasan anggaran oleh Pemkab Ponorogo sehingga pengerjaan tidak langsung selesai.

Baca Juga: Viral Wisatawan Asal China Diintimidasi Oknum Ojek Pangkalan di Probolinggo

"Karena kalau memaksakan harus langsung jadi, tidak mungkin Rp 200 juta itu jadi. Karena memang butuh besar dan anggaran kita tidak cukup, kita cicil. Sebenarnya tidak masalah, dan itu usulan dari mereka. Tahun 2012 baru selesai," terang dia.

"Kaitan dengan spek kita ada ketentuan, menghitung RAB nya ada ketentuan, memakai spek teknis kebinamargaan, seperti itu. Tidak ada istilahnya kita mbangun sesek, nggak ada. Sesek itu karena dinamika masyarakat yang ada di situ menggunakan yang sudah ada walaupun darurat supaya tidak memutar terlalu jauh," pungkasnya.

Editor : Sandhi Nurhartanto
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.