Sabtu, 06 Jun 2026 07:56 WIB

Ada Apa dengan Film Pesta Babi?

Cover film dokumenter Pesta Babi. (Foto/Amikom)
Cover film dokumenter Pesta Babi. (Foto/Amikom)

jatimnow.com - Belakangan ini publik Indonesia ramai membicarakan film dokumenter Pesta Babi. Yang membuat film ini viral ternyata bukan hanya isi dokumenternya, tapi juga polemik pembubaran sejumlah agenda pemutaran dan diskusi publiknya di berbagai daerah, terutama di lingkungan kampus. Situasi ini kemudian memunculkan pertanyaan yang lebih besar: sebenarnya ada apa dengan film Pesta Babi?

Film dokumenter karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale ini pada dasarnya mengangkat kehidupan masyarakat adat di Papua Selatan, khususnya wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Film tersebut berbicara tentang perubahan besar yang terjadi akibat ekspansi proyek pangan dan bioenergi berskala besar di wilayah adat Papua.

Baca Juga: Larang Nobar Pesta Babi di Kampus, UIN SATU Tulungagung: Film Harus Berizin

Tema yang diangkat sesungguhnya bukan tema baru dalam kajian sosial dan pembangunan, yakni konflik tanah adat, pembukaan hutan, perubahan budaya masyarakat lokal, hingga relasi antara negara, industri, dan masyarakat adat. Namun ketika isu-isu itu diangkat dalam bentuk film dokumenter yang emosional dan visual, resonansinya menjadi jauh lebih kuat di ruang publik.

Judul Pesta Babi sendiri juga memunculkan banyak salah tafsir. Sebagian publik langsung memahaminya secara sensasional. Padahal dalam budaya masyarakat Papua, babi memiliki nilai sosial dan simbolik yang sangat penting. Di sana Babi bukan sekadar hewan ternak, tetapi bagian dari tradisi, ritual adat, penghormatan sosial, bahkan simbol relasi kultural masyarakat adat dengan tanahnya.

Di sinilah film ini menjadi sensitif. Papua sejak lama memang tidak pernah sepi menjadi isu pembangunan, juga isu politik, keamanan, identitas budaya, dan keadilan sosial. Karena itu, setiap narasi tentang Papua seringkali cepat memicu perdebatan ideologis.

Sebagian pihak menilai film ini penting sebagai bentuk kritik sosial dan suara masyarakat adat yang selama ini kurang terdengar. Sebagian lain memandang dokumenter tersebut terlalu politis, terlalu kritis terhadap pemerintah, bahkan dianggap berpotensi membentuk opini negatif terhadap proyek pembangunan nasional.

Baca Juga: ITS Gelar Bedah Film Pesta Babi di Tengah Polemik Nasional

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika beberapa agenda nonton bareng film tersebut dibubarkan. Dalam konteks demokrasi modern, tindakan seperti ini justru sering menimbulkan efek sebaliknya. Semakin dibatasi, semakin besar rasa penasaran publik. Di era digital, pembatasan informasi justru sering memperluas perdebatan.

Tentu negara memiliki kewajiban menjaga stabilitas sosial dan mencegah potensi konflik. Namun di sisi lain, demokrasi juga membutuhkan ruang dialog dan kebebasan akademik yang sehat. Film dokumenter seharusnya dipahami sebagai ruang refleksi sosial, bukan diposisikan sebagai ancaman negara.

Kampus, komunitas intelektual, dan ruang publik justru semestinya menjadi tempat bertemunya berbagai pandangan secara terbuka dan beradab. Bukankah bangsa yang dewasa adalah bukan bangsa yang bebas dari kritik, tetapi bangsa yang mampu mengelola kritik secara cerdas.

Baca Juga: Dimanakah Ibukota Indonesia yang Sebenarnya?

Singkatnya, kini film Pesta Babi bukan lagi dipandang sekadar soal Papua atau dokumenter kontroversial. Film ini kini telah berubah menjadi cermin tentang bagaimana kita memandang kritik, demokrasi, pembangunan, dan keberanian mendengar suara yang berbeda. Dan mungkin, di situlah sesungguhnya letak perdebatan yang paling penting.

Oleh: Ulul Albab
Akademisi Unitomo, Ketua ICMI Jawa Timur

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Kakak Beradik Terseret Ombak di Pantai Payangan Jember, Satu Ditemukan Tewas

Kedua korban dilaporkan hilang terseret ombak saat berwisata bersama keluarga.

Puncak Arus Balik Idul Adha 2026, Daop 8 Surabaya Layani 284 Ribu Penumpang

Puncak arus balik libur panjang Idul Adha 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. KAI Daop 8 Surabaya catat lonjakan tembus 284 ribu penumpang. Simak data lengkapnya di sini.

Jambret iPhone Turis Jerman di Kota Lama Surabaya Ditembak Polisi

Polisi menangkap pelaku jambret iPhone milik wisatawan asal Jerman di Kota Lama Surabaya. Pelaku dilumpuhkan karena melawan saat ditangkap.

Kapolres dan Dandim 0820 Probolinggo Terima Gelar Warga Kehormatan Suku Tengger

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat pada Malam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Tabrak Pohon, Truk Pengangkut Ikan Asal Lamongan Terguling di JLS Tulungagung

Truk dalam perjalanan menuju Prigi Trenggalek, pengemudi dan penumpang alami luka serius.

Peringatan Hari Raya Waisak di Tulungagung, Ajak Umat Bersumbangsih Untuk Negeri

Puluhan umat Buddha mengikuti prosesi detik-detik peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Buddha Loka Tulungagung.