Selasa, 21 Jul 2026 23:12 WIB

Ada Apa dengan Film Pesta Babi?

Cover film dokumenter Pesta Babi. (Foto/Amikom)
Cover film dokumenter Pesta Babi. (Foto/Amikom)

jatimnow.com - Belakangan ini publik Indonesia ramai membicarakan film dokumenter Pesta Babi. Yang membuat film ini viral ternyata bukan hanya isi dokumenternya, tapi juga polemik pembubaran sejumlah agenda pemutaran dan diskusi publiknya di berbagai daerah, terutama di lingkungan kampus. Situasi ini kemudian memunculkan pertanyaan yang lebih besar: sebenarnya ada apa dengan film Pesta Babi?

Film dokumenter karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale ini pada dasarnya mengangkat kehidupan masyarakat adat di Papua Selatan, khususnya wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Film tersebut berbicara tentang perubahan besar yang terjadi akibat ekspansi proyek pangan dan bioenergi berskala besar di wilayah adat Papua.

Baca Juga: Ustazah AI TikTok Viral, ICMI Jatim Buka Suara

Tema yang diangkat sesungguhnya bukan tema baru dalam kajian sosial dan pembangunan, yakni konflik tanah adat, pembukaan hutan, perubahan budaya masyarakat lokal, hingga relasi antara negara, industri, dan masyarakat adat. Namun ketika isu-isu itu diangkat dalam bentuk film dokumenter yang emosional dan visual, resonansinya menjadi jauh lebih kuat di ruang publik.

Judul Pesta Babi sendiri juga memunculkan banyak salah tafsir. Sebagian publik langsung memahaminya secara sensasional. Padahal dalam budaya masyarakat Papua, babi memiliki nilai sosial dan simbolik yang sangat penting. Di sana Babi bukan sekadar hewan ternak, tetapi bagian dari tradisi, ritual adat, penghormatan sosial, bahkan simbol relasi kultural masyarakat adat dengan tanahnya.

Di sinilah film ini menjadi sensitif. Papua sejak lama memang tidak pernah sepi menjadi isu pembangunan, juga isu politik, keamanan, identitas budaya, dan keadilan sosial. Karena itu, setiap narasi tentang Papua seringkali cepat memicu perdebatan ideologis.

Sebagian pihak menilai film ini penting sebagai bentuk kritik sosial dan suara masyarakat adat yang selama ini kurang terdengar. Sebagian lain memandang dokumenter tersebut terlalu politis, terlalu kritis terhadap pemerintah, bahkan dianggap berpotensi membentuk opini negatif terhadap proyek pembangunan nasional.

Baca Juga: Jangan Biarkan Kasus MBG Tenggelam

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika beberapa agenda nonton bareng film tersebut dibubarkan. Dalam konteks demokrasi modern, tindakan seperti ini justru sering menimbulkan efek sebaliknya. Semakin dibatasi, semakin besar rasa penasaran publik. Di era digital, pembatasan informasi justru sering memperluas perdebatan.

Tentu negara memiliki kewajiban menjaga stabilitas sosial dan mencegah potensi konflik. Namun di sisi lain, demokrasi juga membutuhkan ruang dialog dan kebebasan akademik yang sehat. Film dokumenter seharusnya dipahami sebagai ruang refleksi sosial, bukan diposisikan sebagai ancaman negara.

Kampus, komunitas intelektual, dan ruang publik justru semestinya menjadi tempat bertemunya berbagai pandangan secara terbuka dan beradab. Bukankah bangsa yang dewasa adalah bukan bangsa yang bebas dari kritik, tetapi bangsa yang mampu mengelola kritik secara cerdas.

Baca Juga: MBG, Korupsi dan Kegagalan Tata Kelola Kebijakan

Singkatnya, kini film Pesta Babi bukan lagi dipandang sekadar soal Papua atau dokumenter kontroversial. Film ini kini telah berubah menjadi cermin tentang bagaimana kita memandang kritik, demokrasi, pembangunan, dan keberanian mendengar suara yang berbeda. Dan mungkin, di situlah sesungguhnya letak perdebatan yang paling penting.

Oleh: Ulul Albab
Akademisi Unitomo, Ketua ICMI Jawa Timur

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.