Senin, 22 Jun 2026 06:06 WIB

Derita Gangguan Metabolik, Balita di Pasuruan ini Butuh Uluran Tangan

  • Penulis : Moch Rois
  • | Kamis, 29 Okt 2020 15:50 WIB
Yaniar yang menggendong anaknya menderita gangguan metabolik
Yaniar yang menggendong anaknya menderita gangguan metabolik

jatimnow.com - Anindia Aulia Shifa (2), anak dari pasangan Yaniar Putantri (34) dan Teguh Lasdianto yang tinggal di rumah kontrakan di Perumahan Pesona Candi 3 blok U 47, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan menderita penyakit langka.

Saat ditemui di rumahnya, ibunya menggendong dan mengajaknya bercanda.

Baca Juga: Indosat Bekali UMKM Pasuruan Strategi Konten Viral dan Optimasi Produk

"Anak saya ini kata dokter menderita penyakit kelainan gangguan metabolik. Untuk kelainan seperti apa ini masih dicari tahu. Jadi sampai saat ini belum jelas," kata Yaniar, Kamis (29/10/2020).

Ia menceritakan, anaknya Shifa lahir dengan kondisi fisik dan kesehatannya sama seperti bayi sehat pada umumnya.

Saat Shifa berumur 6 bulan, menunjukan perlambatan tumbuh kembangnya. Shifa belum bisa merangkak dan untuk duduk, ibunya harus mendudukannya.

"Kata dokter tempat Shifa biasa kontrol kesehatannya, ini cuma terlambat biasa, dilatih saja. Sebab untuk berkomunikasi dan kemampuan kongnitif, Shifa sama seperti bayi pada umumnya di usianya saat itu," cerita Yaniar.

Namun, setelah 1 tahun lebih 3 bulan, muncul gejala tidak biasa ditunjukan oleh Shifa. Diawali jika duduk sering jatuh, kemudian ia yang biasanya bercanda sambil berguling-guling dengan posisi berbaring sudah tidak melakukannya lagi.

Shifa lebih banyak diam. Dokter yang biasa menangani Shifa mulai curiga dengan kondisinya.

"Saat dicek reflek, ada perubahan di tubuh Shifa. Tidak seperti beberapa bulan sebelumnya. Dokter menduga Shifa mengidap kelainan metabolik," terangnya.

Mendapati diagnosa dokter seperti itu, Yaniar dan Teguh harus bolak-balik ke rumah sakit selama 11 bulan untuk mendapat penanganan dua dokter.

Dokter spesialis saraf anak dan dokter nutrisi metabolik anak di dua rumah sakit swasta di Kota Malang.

"Untung saja kami ikut BPJS, sehingga biaya konsultasi dan obat ada yang tercover. Sehinga teringankan. Tapi untuk tes lab-nya harus biaya mandiri, karena ada yang tidak tercover BPJS," katanya.

Baca Juga: Kisah Marfel, Bocah Kelas 4 SD di Kediri Rawat Ibunya yang Sakit Seorang Diri

Sayangnya, rumah sakit di Kota Pasuruan dan Malang tempat Shifa berobat tidak mampu berbuat banyak untuk menyembuhkan penyakitnya.

Shifa diminta harus melakukan tes cek genetik di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, untuk kemudian sampel dari cek genetik itu dikirim ke luar negeri untuk pemeriksaan.

Menurut dokter yang merawatnya, tidak ada peralatan medis di rumah sakit seluruh Indonesia yang bisa melakukan hal itu.

Untuk itu, biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp 15 juta. Angka yang fantastis bagi ibu rumah tangga dan suaminya yang hanya bekerja di jasa tukang sedot WC.

"Untuk cek genetik ini biayanya Rp 15 juta. Kami masih menabung untuk mencukupi biaya. Entah sampai kapan akan terkumpul," ujar dia.

Di tengah usahanya mencari obat untuk kesembuhan anaknya, mereka ditolong oleh sebuah yayasan untuk membuka donasi.

Baca Juga: Sinopsis Film Eva, Kisah Nyata yang Diangkat ke Layar Lebar

"Iya, kami ditolong dibukakan donasi oleh sebuah yayasan. Namun donasi yang terkumpul masih jauh dari cukup," ujarnya.

Saat ini, Teguh terus berupaya dan bekerja untuk biaya pengobatan anaknya di tengah lesunya ekonomi akbat Pandemi Covid-19.

"Pokoknya harus pintar-pintar momong. Kata dokter, Shifa jangan sampai kejang. Sebab sejak umur 15 bulan sampai 2 tahun ini, pertumbuhan Shifa terus menurun. Dia saat ini sama seperti bayi. Makan dan minumnya harus di jam. Biar tidak kelaparan atau kehausan," jelasnya.

Di balik cerita itu, Yuniar mengungkapkan jika kakaknya Shifa yang bernama Raisa Ramadhana Khoirun Nisak meninggal dunia di usia 5 tahun dengan gejala sakit sama seperti adiknya. Dokter memvonis almarhumah Raisa dengan sakit lumpuh otak atau cerebal palsy.

"Dari pelajaran itu, Shifa sejak bayi kesehatanya selalu saya kontrolkan kepada dokter. Tapi, diusia 15 bulan, Shifa terkena penyakit langka ini," tukasnya.

Editor : Sandhi Nurhartanto
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.