Jumat, 19 Jun 2026 20:03 WIB

Gawat! Petani Apel Kota Batu Terancam Gagal Panen Akibat Cuaca

Petani apel di Kota Batu
Petani apel di Kota Batu

jatimnow.com - Anomali cuaca yang tidak menentu dikhawatirkan memicu anjloknya hasil panen buah apel di Kota Batu. Para petani hanya mampu berusaha agar tanamannya bisa tumbuh walaupun dalam kondisi cuaca yang kurang bersahabat.

Salah satu petani apel di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Muhammad Rizal mengatakan, akibat hujan dan panas terik yang tidak menentu, bunga tanaman apel cikal bakal buah yang sudah bermekaran kini mulai berguguran.

Baca Juga: Ratusan Hektare Lahan Padi dan Jagung di Jember Diserang Hama Tikus

"Cuacanya sering tidak menentu. Kadang pagi hari sudah turun hujan, kemudian berkabut. Kadang hujannya malam hari. Hal itu memudahkan bunga pohon apel rontok. Akhirnya produksi apel turun," ujar Rizal, Jumat (23/10/2020).

Para petani hanya bisa mencegah rontoknya bunga apel dengan menyemprotkan cairan pestisida dua kali lipat dari biasanya. Biasanya penyemprotan cairan pestisida sekitar 3-4 kali dalam sehari.

Baca Juga: Pakar Ungkap Bahaya El Nino Godzilla 2026 dan Langkah Mitigasinya

Namun dengan disemprotkan cairan dua kali lipat merupakan salah satu antisipasi agar bakal buah tidak rontok terlalu banyak mengingat kandungan asam dari air hujan menjadi salah satu musuh utama tanaman apel.

"Apalagi saat ini harga apel sedang anjlok hanya Rp 10 ribu perkilo dari petani. Sekarang sudah banyak petani yang beralih ke jeruk karena lebih mudah perawatannya dan takut merugi," keluhnya.

Baca Juga: Audit Sampah Ungkap Sachet Kuasai Limbah Rumah Tangga Batu

Padahal biaya perawatan setiap 120 hari mencapai Rp 20 juta. Dari setiap satu hektare kebun apel miliknya, pada kondisi normal bisa menghasilkan buah sekitar 1 sampai 1,5 ton. Tetapi saat ini produksinya menurun, maksimal hanya bisa 1 ton saja.

"Kalau pas panen bagus saya bisa mendapatkan penghasilan kotor sekitar Rp 45 jutaan untuk sekali panen. Sementara ketika kondisi apel kurang dari Rp 40 juta. Kalau dipotong tenaga perawatan sekali panen hasilnya ya sangat menipis sekali," tandasnya.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.