Jumat, 19 Jun 2026 04:21 WIB

Wabah Virus Corona

Kisah Buruh di PHK: Tak Bisa Beli Makan Hingga Jadi Korban Penipuan

  • Penulis : Zain Ahmad
  • | Senin, 11 Mei 2020 17:47 WIB
Rizki Kurniawan bersama istri dan anaknya saat ditemui
Rizki Kurniawan bersama istri dan anaknya saat ditemui

jatimnow.com - Penderitaan Rizki Kurniawan semenjak dikeluarkan atau di PHK dari tempatnya bekerja di sebuah pabrik kayu yang ada di kawasan Jalan Rajawali, Surabaya, bertambah.

Bapak tiga anak yang sehari-hari tinggal di sebuah tempat kos di Jalan Banyu Urip VII B no 9, Surabaya itu juga menjadi korban penipuan.

Baca Juga: Awal 2026, 315 Istri di Bojonegoro Gugat Cerai Suami

Kini dirinya hanya bisa pasrah sembari mencari pekerjaan lain untuk menghidupi anak dan istrinya.

"Tidak pegang uang sama sekali mas. Sehari-hari ya makan seadanya. Kadang pakai mie, kadang nggak makan sama sekali. Ini nyari pekerjaan sampai sekarang juga belum dapat," katanya saat ditemui di kos nya, Senin (11/5/2020).

Ia menyebut, dirinya di PHK dari tempatnya bekerja itu semenjak Virus Corona mewabah. Hingga hari ini, tepat satu bulan lebih 12 hari ia menganggur.

"Semenjak di PHK itu, saya nggak tahu harus gimana lagi. Untuk makan aja susah, apalagi ini anak saya yang kecil butuh susu. Kadang terpaksa kalau nangis saya kasih air putih saya masukin dot," ungkapnya.

"Bantuan dari pemerintah juga nggak dapat sama sekali. Kadang saya sempat iri sama tetangga-tetangga kos saya. Mereka dapat tapi saya enggak. Saya hanya bisa nangis dalam hati mas," tambah Rizki.

Selama menganggur, pria 36 tahun kelahiran Jember ini bahkan rela menjual beberapa barang berharganya untuk menghidupi anak dan istrinya. Namun, semua itu belum cukup. Karena setiap hari dua anaknya yang masih kecil membutuhkan popok dan susu.

"Sepatu saya jual. Helm dan lemari kecil juga. Tapi ya gimana mas, tapi tetap aja nggak cukup. Ini tinggal sisa magic com sama kipas angin saja. Kalau saya belum dapat kerjaan, ya terpaksa saya jual," lanjutnya.

Rizki menikah dengan istrinya Hera Aptriningsih (30) sejak Tahun 2011 dan dikaruniai tiga orang anak. Ketiga anaknya adalah Nabila Larashati (8), Bonita Milkayla Zahra (1,8 bulan) dan Muhammad Saddly Attallah (3 bulan).

Sebelum mempunyai anak kedua dan ketiga, pasangan suami istri (pasutri) ini ngekos di kawasan Perak, dekat dengan tempatnya bekerja. Namun, karena biaya hidup yang semakin mahal, Rizki dan istrinya pindah kos ke Banyu Urip tersebut.

Baca Juga: Melihat Laba Gudang Garam 3 Tahun Terakhir, Sempat Puasa Dividen

"Di sini sudah 9 tahun mas saya. Punya si kecil dua ini. Kalau anak yang pertama ikut orangtua dari istri saya di Kupang sini. Kelas 2 SD sekarang. Saya juga bingung belum bisa bayar SPP anak saya, sampai kemarin nggak bisa ikut ujian," katanya.

"Ini saya juga belum bisa bayar kos. Tuan rumah nagih terus. Kalau nggak bisa bayar disuruh pindah atau keluar. Karena di sini bayarnya harus tepat waktu. Satu bulannya Rp 350 ribu," sambungnya.

Rizki mengaku sampai saat ini belum ada bantuan apapun dari pemerintah. Namun, kemarin ada sejumlah komunitas dan Pemuda Pancasila (PP) yang memberikan bantuan. Seperti sembako dan kebutuhan untuk bayi.

"Saya sedikit bernafas lega mas, bisa dapat bantuan kemarin. Susu buat anak saya, ada popok juga. Terus sembako. Terpenting anak dan istri saya bisa makan. Saya rela mati demi anak dan istri saya, asalkan mereka bahagia," lanjutnya.

Rizki mengatakan selama ini menggantungkan hidup dari pekerjaannya sebagai buruh pabrik kayu. Walaupun gajinya tidak seberapa. Namun, dari pekerjaan itulah ia bisa menghidupi istri dan anaknya.

"Saya sudah 12 tahun kerja di situ (pabrik kayu), semenjak kedua orangtua saya meninggal. Saya cari kerjaan di sini (Surabaya). Memang gajinya ndak besar mas, tapi Alhamdulillah bisa saya buat makan sama istri dan anak saya. Seminggu itu Rp 205 ribu. Kalau lembur Rp 275 ribu," tandasnya.

Baca Juga: Gudang Garam: Dari Perusahaan Rumahan, Besar karena Semangat Surya Wonowidjojo

Kesusahan Rizki rupanya tidak hanya itu. Awal April lalu, ia juga sempat terkena penipuan oleh seorang pria yang mengaku bisa memasukkan pekerjaan sebagai satpam. Saat itu, agar bisa diterima kerja, Rizki harus mengeluarkan uang Rp 1,2 juta.

Karena saking bingungnya, dan ingin segera dapat pekerjaan, Rizki mengiyakan persyaratan tersebut.

"Saya ada motor dan dijual laku Rp 1,5 juta. Yang Rp 1,2 juta saya kasihkan orang yang nawarin pekerjaan itu. Tapi setelah uang saya kasih, terus saya hubungi orangnya, sudah nggak bisa," papar dia.

Rizki lantas bercerita kepada istrinya. Namun, keduanya malah bertengkar keras. Sebab Rizki dikira telah menghabiskan uang tersebut. Tapi setelah dijelaskan, istri Rizki akhirnya paham.

"Saya nggak tahu waktu itu mau gimana lagi. Rasanya ingin mati saja. Tapi saya terus disemangati istri saya. Itu yang membuat saya kuat sampai hari ini," pungkasnya.

Editor : Sandhi Nurhartanto
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.