Minggu, 21 Jun 2026 07:32 WIB

Melawan Keterbatasan, ACT Biayai Para Murid Alor Bersekolah di Jawa

  • Penulis : Advertorial
  • | Selasa, 30 Jul 2019 09:24 WIB
Guru dan murid Timuabang Alor yang mengikuti program Global Zakat ACT.
Guru dan murid Timuabang Alor yang mengikuti program Global Zakat ACT.

jatimnow.com – Global Zakat-Aksi Cepat Tanggap (ACT) terus mengapresiasi semangat para guru dan murid yang berjuang dalam dunia pendidikan di tepian negeri.

Tidak hanya dirasakan para guru, apresiasi tersebut juga dirasakan langsung oleh para murid-murid  Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Timuabang, Alor.

Baca Juga: Gus Iqdam Sebut Mahasiswa Tak Cukup Hanya Pintar, Harus Dekengan Pusat

Di tengah keterbatasan buku ajar, bacaan, fasilitas pendidikan, serta alat peraga pendidikan di tepian negeri, mereka berhasil menyabet medali dalam olimpiade tingkat nasional.

Keberadaan Kadir, Kepala MIS Timuabang, serta murid-muridnya di Jakarta merupakan kelanjutan dari program Pendidikan Tepian Negeri ACT yang telah dimulai sejak tahun 2014 lalu.

Terhitung sejak pekan ketiga Juli 2019 ini, enam anak didik Kadir melanjutkan sekolah di Pulau Jawa. Mereka belajar di bawah binaan Fath Institute di Jakarta dan Bogor, Jawa Barat. Selain itu, ada ada pula yang mengenyam pendidikan di pesantren daerah Bojonegoro, Jatim.

Kehadiran para siswa Alor di Jawa adalah buah keyakinan dan usaha orang tua serta guru-guru di Alor yang senantiasa memprioritaskan pendidikan mereka di tengah keterbatasan ekonomi.

Sebelumnya, tepat tahun 2014 lalu, ACT mendarat di tanah Alor, tempat berdirinya MIS Timuabang. Lima ruang kelas ACT bangun sebagai tindakan untuk menyediakan pendidikan yang layak di tepian negeri. Sejak 2017, ACT juga telah memberangkatkan murid dari Alor ke tanah Jawa untuk melanjutkan pendidikan.

Amin, salah satu penerima beasiswa yang baru saja lulus dari MIS Timuabang ini menuturkan kepada tim ACT betapa bangganya ia bisa melanjutkan sekolah di ibu kota.

"Senang sekolah di Jakarta," ungkapnya singkat setelah melaksanakan salat Jumat di Masjid Istiqlal.

Sejalan dengan itu, Kadir menambahkan bahwa para murid yang berangkat ke Jawa ini merupakan mereka yang berasal dari keluarga prasejahtera di kampungnya.

Orang tua mereka sebagian besar adalah nelayan tradisional atau merantau ke Batam, Kepulauan Riau, atau Malaysia untuk mengadu nasib.

"Sebagian besar penduduk di Timuabang prasejahtera, mereka menggantungkan nasib pada hasil laut atau merantau dengan pekerjaan yang juga belum jelas," ungkap Kadir sambil mendampingi murid-muridnya mengunjungi Monas dalam rilis yang diterima jatimnow.com, Selasa (30/7/2019).

Baca Juga: Inspirasi Schools Bangun Pembelajaran Global Berbasis Karakter

Meskipun murid-murid tersebut hadir dari keluarga prasejahtera, Kadir mengaku, keluarga mereka sangat mendukung pendidikan anak-anaknya.

Orang tua anak didiknya tak pernah memaksakan anaknya untuk membantu pekerjaan orang tua, malah mendorong anaknya terus sekolah.

"Istilahnya, orang tua mereka menekankan apa pun yang terjadi anaknya harus sekolah," jelas Kadir.

Seluruh murid yang bersekolah di MIS Timuabang bimbingan Kadir tak dimintai biaya satu rupiah pun. Mereka bersekolah gratis.

Saat ini terdapat lima ruang kelas yang berdiri dari ACT yang mereka manfaatkan serta enam guru yang mendidik puluhan siswa.

Di sisi lain, seluruh guru yang mengajar di MIS Timuabang tak mendapatkan gaji tetap. Tiap bulannya mereka hanya mendapatkan sembako dari seorang donatur, sedangkan ada Biaya Operasional Sekolah atau BOS dari pemerintah sebesar Rp 22 juta per semester. BOS ini yang menjadi gaji mereka.

Baca Juga: Mahasiswa ITS Ciptakan Kakarobot, Robot Edukasi Tanpa Gawai untuk Anak 3T

Guru yang mengajar di Timuabang tak seluruhnya lulusan pendidikan tinggi atau sarjana. Sebagian dari mereka bersekolah dengan cara mengejar paket.

Walau begitu, pengalaman serta asa untuk membangun semangat belajar anak-anak di Timuabang menjadi kekuatan mereka mengajar.

Meskipun, sebagian guru tak memiliki latar belakang pendidikan tinggi, sebuah bukti dari ketekunan melahirkan kebanggan. Beberapa siswa MIS Timuabang telah menyabet medali dalam olimpiade tingkat nasional.

"Kami belajar dari bahan yang ada saja. Di dalamnya kan ada soal, ya dari situ anak-anak ini belajar untuk persiapan olimpiade sains," tukasnya.

 

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.