Rabu, 10 Jun 2026 08:52 WIB

Buah Krai Asal Banyuwangi Diburu di Bulan Ramadan

Penjual buah Krai di Banyuwangi
Penjual buah Krai di Banyuwangi

jatimnow.com - Bulan puasa di Banyuwangi banyak ditemui buah Krai. Buah ini kerap diburu oleh pembeli karena menjadi bahan utama minuman untuk berbuka puasa.

Bentuk buah Krai mirip dengan timun suri, namun dengan daging buah yang berwarna oranye cerah. Warna kulitnya cenderung kuning dengan sulur kehijauan.

Baca Juga: Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Buah ini rasanya hampir sama dengan buah Blewah, namun tekstur daging buahnya lebih lembut. Aroma buah yang masak juga jauh lebih harum dibanding blewah.

Buah ini biasanya disajikan dengan air gula yang sudah dilarutkan dengan air terlebih dahulu. Dicampur es batu maka rasanya makin nikmat dan segar.

Selama bulan Ramadan banyak pedagang dadakan yang menjual buah Krai di Banyuwangi. Salah satu pedagang yang berjualan adalah Suripah, (60) bersama anaknya Ana, (32).

Suripah berjualan di pinggir jalan nasional Kabat-Banyuwangi bersama dengan beberapa pedagang lainnya.

"Pertama kali yang berjualan di kawasan sini adalah Bapak saya, mulai tahun 80. Bapak satu-satunya pedagang di sini. Dulu masih memakai alas tikar untuk berjualan, tidak pakai lapak seperti sekarang. Sekarang saya dan ibu yang meneruskan usaha ini," kata Ana.

Jualannya dibuka pada pukul 07.00 wib hingga 17.00 sore. Ditempatnya, buah ini dijual secara eceran atau bijian. Dengan harga Rp 3 ribu untuk ukuran yang paling kecil dan Rp 20 ribu untuk ukuran terbesar.

Baca Juga: Penyelundupan Ratusan Burung Tanpa Dokumen Digagalkan di Ketapang

Dalam satu hari, Ana mengaku omsetnya mencapai Rp 2 juta atau jika sedang sepi minimal bisa mengantongi Rp 700 ribu.

"Alhamdulillah karena adanya cuma bulan puasa, ya setiap jualan diserbu pembeli. Kami sendiri mulai jualan sudah sejak puasa kurang dua hari, biasanya nanti sampai beberapa hari setelah lebaran. Maklum, banyak pemudik yang juga kangen buah ini, banyak plat mobil luar kota yang mampir beli," ujarnya.

Di Banyuwangi, Kecamatan Kabat termasuk salah satu sentra penanaman buah Krai. Bapaknya sendiri, kata Ana, menjadi pengepul buah Krai di wilayah Kabat yang menjual kembali pada pedagang eceran.

"Selama bulan puasa, Bapak bisa menebas hingga lima hektar tanaman buah Krai. Satu hektar bisa ribuan buah, untuk dijual lagi ke pedagang lain," katanya.

Baca Juga: Rakyat Desa Memang Tidak Memegang Dollar, Tetapi Tetap Menanggung Dampaknya

Sofiana salah satu pembeli asal Denpasar mengatakan dirinya selalu membeli buah Krai bila bepergian ke Banyuwangi. Minuman es Krai telah menjadi salah satu menu favorit takjil keluarganya saat puasa.

"Seger rasanya. Kalau ke Banyuwangi saat puasa, kami pasti mampir beli. Minuman ini hampir selalu ada di menu buka puasa keluarga kami. Kami juga suka nitip ke kerabat kalau ada yang ke Banyuwangi, untuk membelikan buah ini," kata Sofiana.

 

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.

Umat Buddha di Tulungagung Ikuti Ritual Atthami Puja di Candi Sanggrahan

Ritual tersebut merupakan perayaan penting dalam agama Buddha yang menghormati kelahiran, pencerahan, dan parinirvana Sang Buddha Gautama.