Senin, 15 Jun 2026 20:29 WIB

Wow, Santri di Banyuwangi ini Bikin Robot Pemadam Kebakaran

Santri di Ponpes INSAT Muhammadiyah menyaksikan demonstrasi robot pemadam kebakaran dan pemungut sampah
Santri di Ponpes INSAT Muhammadiyah menyaksikan demonstrasi robot pemadam kebakaran dan pemungut sampah

jatimnow.com - Santri di Banyuwangi berhasil merakit robot pemadam kebakaran dan pemungut sampah. Tercatat 5 orang santri dari Ponpes Internasional Sains dan Tekhnologi (INSAT) Muhammadiyah berhasil mengembangkan teknologi tersebut.

Umumnya santri dikenal sebagai seseorang yang mengaji dan belajar kitab kuning dengan menetap di pondok pesantren. Namun, di Banyuwangi santri-santri dikenalkan dengan sains dan teknologi.

Baca Juga: Jargas PGN Pasok Energi untuk 15 Ribu Santri Pesantren Dalwa

Ya, setidaknya terdapat 5 orang santri dari Ponpes Internasional Sains dan Tekhnologi (INSAT) Muhammadiyah di Jalan Raya Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo, telah berhasil merakit robot pemadam kebakaran dan pemungut sampah.

Direktur Ponpes INSAT Muhammadiyah Banyuwangi, Ustaz Ajuslan Kerubun menjelaskan, robot yang berhasil dibuat oleh santri-santri itu orientasinya meringankan pekerjaan manusia untuk memadamkan api dan membersihkan sampah.

Robot tersebut dibikin oleh 5 orang santri yang rata-rata kelas VIII atau berusia 14 tahun.

"Ide awal pembuatan robot pemadam kebakaran dan pemungut sampah ini berawal dari peristiwa kebakaran yang terjadi di lingkungan kita," kata Ustaz Ajuslan, Rabu (2/5/2019).

Sebab, menurutnya, jika terjadi kebakaran tak jarang para petugas pemadam kebakaran (Damkar) turut menjadi korban saat memberikan pertolongan.

Atas keprihatinan itu, muncul ide untuk menggantikan petugas Damkar dengan mesin, sehingga diharapkan dapat meminimalisir jumlah korban yang menimpa petugas Damkar itu sendiri.

"Proses pembuatan robot ini membutuhkan waktu sekitar 2 bulan," ujarnya.

Baca Juga: Ujian Kelulusan Unik, Siswa SMP Labschool Unesa 3 Pamerkan Karya Inovatif

Dalam perakitannya, terbagi menjadi dua tahap. Pertama, kata Ustaz Ajuslan, adalah membuat desain robot. Kedua, memulai tahap perakitan. Sedangkan, untuk biaya yang dibutuhkan dalam proyek ini menelan sekitar Rp 7 juta.

"Biaya yang dikeluarkan untuk dua robot yang sudah selesai ini sekitar Rp 7 juta. Bahan-bahannya ada yang dibeli, ada juga yang dibuat oleh anak-anak sendiri dari bahan-bahan bekas. Sehingga bisa lebih menghemat," paparnya.

Secara umum, kedua robot tersebut terbagi dalam empat bagian, yakni bagian utama yang berfungsi memberikan perintah kepada robot. Bagian kontrol yang berfungsi mengontrol sesuai keinginan. Dua bagian lainnya, yakni penjepit pemungut sampah dan bagian pemadam api.

Pemberian pengetahuan dan teknologi kepada santri ini, untuk memberikan wawasan mengenal dunia teknologi bagi anak-anak Indonesia khususnya yang berada di pondok pesantren.

Sebab, kecenderungan orang melihat kehidupan di pondok identik mengaji dan membaca kitab-kitab saja. Di pondok INSAT ini, masih kata dia, berusaha mengembangkan pengetahuan santri dibidang teknologi robot.

Baca Juga: Gus Salam Sowan ke Kiai Imjaz Jelang Muktamar NU ke-35

"Untuk memberikan kemampuan di bidang teknologi untuk anak Indonesia khususnya di pondok pesantren. Karena saat ini tren yang berkembang di pondok pesantren itu cuma mengaji dan membaca kitab. Kami berusaha mencoba mengembangkan teknologi dengan robot," terangnya.

Salah seorang perakit robot, Bima Hatta (14) mengatakan, dalam pembuatan desain robot menggunakan program komputer serta untuk menentukan penempatan komponen-komponennya.

Supaya, desain secara keseluruhan dari robot rakitan mereka ini tidak memakan banyak tempat serta efisien.

"Setelah desainnya jadi kemudian dirakit. Proses yang paling susah adalah di pemrograman robot," jelas Bima.

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.