Selasa, 16 Jun 2026 02:26 WIB

Tradisi Cap Go Meh, Menikmati Hidangan di Tengah Perbedaan

5.000 porsi lontong Cap Go Meh untuk dimakan bersama semua suku, ras dan agama disediakan di Klenteng Eng An Kiong, Kota Malang
5.000 porsi lontong Cap Go Meh untuk dimakan bersama semua suku, ras dan agama disediakan di Klenteng Eng An Kiong, Kota Malang

jatimnow.com - 15 hari setelah merayakan Hari Raya Imlek, saatnya masyarakat Tionghoa di Kota Malang menggelar perayaan Cap Go Meh di Klenteng Eng An Kiong, Jalan Laksamana Martadinata, Selasa (19/2/2019).

Tidak hanya warga Tionghoa yang datang ke klenteng itu. Warga dari berbagai suku, agama dan ras juga berbaur menjadi satu tanpa ada sekat, menikmati hidangan lontong Cap Go Meh yang dihidangkan pengurus klenteng.

Baca Juga: Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus di Malang, Nilai Investasi Capai Rp800 Miliar

Humas Klenteng Eng An Kiong, Anton Triyono mengatakan, perayaan Cap Go Meh rutin digelar di hari ke-15 pascaperayaan Imlek.

"Hari Cap Go Meh merupakan 15 hari setelah imlek itu rutin," terangnya, ditemui di klenteng.

Terkait makan bersama dengan menu lontong Cap Go Meh tanpa memandang agama, suku, dan ras, Anton menjelaskan itu menjadi bagian dari rasa syukur dan kebersamaan.

Baca Juga: Pendaki Ilegal Gunung Semeru Berhasil Dievakuasi, Pengelola Jatuhi Sanksi

"Kalau kita sebagai manusia ciptaan Tuhan ingin selamat abadi, maka hubungan kemanusiaan harus dijalankan dengan baik tanpa memandang suku, bangsa, dan agama," jawabnya.

Bahkan Anton mengungkapkan, budaya makan bersama lontong Cap Go Meh itu berasal dari budaya asli Indonesia.

"Lontong Cap Go Meh itu di China tidak ada, adanya cuma sembayangnya saja. Cap Go Meh itu budaya Indonesia, lontong itu dari nasi, nasi adalah bahan pangan kita," tambahnya.

Baca Juga: Lewati Jalur Ilegal, Pendaki Gunung Semeru Dilaporkan Jatuh ke Jurang

Di tahun ini, pengurus klenteng menyajikan setidaknya 5.000 porsi lontong Cap Go Meh yang bisa dinikmati masyarakat Kota Malang secara umum hingga malam hari.

"Perayaannya hanya hari ini saja sampai nanti malam," tutupnya.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.