Rabu, 17 Jun 2026 09:46 WIB

Festival Bunkasai, Cara Unitomo Kenalkan Budaya Jepang di Indonesia

Proses peresmian Festival Bunkasai yang digelar Unitomo
Proses peresmian Festival Bunkasai yang digelar Unitomo

jatimnow.com - Fakultas Sastra Jepang Unitomo menggelar acara tahunan Bunkasai (Festival Budaya Jepang) Minggu, (25/3/2018). Acara ini merupakan kali ke-24 dan juga dihadiri sekaligus diresmikan oleh Konjen Jepang Keigo.

Tahun ini, Bunkasai mengusung tema 'Origami No Matsuri' yang berarti Festival Origami. Dalam acara ini, juga mengundang siswa SMA dan SMK se-Jawa Timur yang memiliki minat pada bahasa dan budaya Jepang.

Baca Juga: Gus Iqdam Sebut Mahasiswa Tak Cukup Hanya Pintar, Harus Dekengan Pusat

Selain itu, dimeriahkan pula oleh beberapa komunitas umum penggiat budaya Jepang di Surabaya maupun Luar Surabaya.

Disamping itu, workshop origami (seni melipat kertas ala Jepang) dan berbagai lomba digelar dalam acara ini.

"Jadi, di Bunkasai kali ini ada beberapa lomba seperti Kakikikitori (Mendengar dan menulis), Cerdas Cermat, Kamishibai (Bercerita dengan gambar), Olimpiade Kanji (Huruf Jepang), dan Shodou (Menulis kaligrafi Jepang) dan masih banyak lagi," kata Edina Humas acara tersebut.

Edina menjelaskan bahwa tujuan acara ini untuk memperkenalkan budaya masyarakat tentang origami (seni melipat kertas ala jepang). Dan di dalam acara ini, juga ada beberapa lomba dan workshop mengenai budaya Jepang.

Bahkan, ada pula pertunjunkan kesenian tradisional bernama Chanoyu yang merupakan suatu kesenian tradisional jepang yang syarat dengan filosofi.

Baca Juga: Inspirasi Schools Bangun Pembelajaran Global Berbasis Karakter

Melalui kesenian ini, bisa mempelajari etika dan estetika Jepang, termasuk budaya, dan pemikiran jepang yang lain, seperti diketahui masyarakat Jepang terkenal dengan sangat santun dan hormatnya.

"Dengan belajar Chanoyu kita belajar mempelajari gaya hormat Jepang, kita menyelenggarakan Chanoyu dengan alat-alat yang mengandung estetika Jepang seperti cawan ada lukisannya, dan ketika melakukan Chanoyu ada rangkaian bunga khas Chanoyu yang sederhana melambangkan kesederhanaan keharmonisan antara manusia dan karena tidak bisa dilaksanakan oleh satu orang saja," ujar Cicilia Tantri, Dekan Fakultas Sastra Unitomo.

Tantri menambahkan bahwa Chanoyu melambangkan keharmonisan antara manusia dengan alam, menjaga alat-alat teh seperti menjaga alam. “Chanoyu juga menjaga harmoni antara pencipta dengan tenang untuk bisa berdialog dengan pencipta,” pungkasnya.

Baca Juga: Mahasiswa ITS Ciptakan Kakarobot, Robot Edukasi Tanpa Gawai untuk Anak 3T

 

Reporter: Arry Saputra

Editor: Arif Ardianto

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.