Pakar Ingatkan Penderita Diabetes Rentan Kena Serangan Jantung Tanpa Gejala
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Sabtu, 20 Jun 2026 18:10 WIB
jatimnow.com – Penyakit diabetes melitus bukan sekadar masalah tingginya kadar gula darah, melainkan ancaman silent killer yang memicu kerusakan fatal pada jantung dan ginjal. Bahayanya, komplikasi organ vital ini kerap terjadi tanpa disertai gejala peringatan yang jelas.
Peringatan krusial ini mengemuka dalam health talk bertajuk “Silent but Deadly: Serangan Jantung pada Penderita Diabetes” yang digelar oleh Daewoong Pharmaceutical Indonesia berkolaborasi dengan Siloam Hospitals Surabaya di RS Siloam Gubeng, Sabtu (20/6/2026).
Baca Juga: Ancam Ginjal hingga Paru-Paru, Pakar Ungkap Cara Cegah Hantavirus
Langkah edukasi ini menjadi sangat mendesak mengingat tingginya prevalensi penyakit tersebut di Jawa Timur. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jatim (2023), estimasi penderita diabetes usia 15 tahun ke atas di wilayah ini menembus 854.454 orang, di mana 104.363 pasien di antaranya berada di Kota Surabaya.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Prof. Yudi Her Oktaviono, Sp.JP(K), FIHA, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa serangan jantung pada pasien diabetes tidak selalu diawali gejala khas seperti nyeri dada.
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf pengirim sinyal nyeri. Akibatnya, saat pembuluh darah koroner tersumbat, pasien tidak merasakan sakit sama sekali.
“Pasien diabetes dapat mengalami risiko kardiovaskular tanpa gejala yang nyata. Karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala tidak boleh diabaikan, meskipun pasien merasa dirinya sehat,” tegas Prof. Yudi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa diabetes mempercepat aterosklerosis (penumpukan plak di dinding pembuluh darah). Oleh karena itu, ia menekankan prinsip kampanye “The Sooner, The Lower, The Better” yakni mengelola dan menurunkan kolesterol jahat sedini mungkin untuk mencegah stroke dan serangan jantung.
Ancaman tanpa gejala juga terjadi pada ginjal. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi, Dr. dr. Soebagijo Adi Soelistijo, SpPD, Subsp. EMD(K), menjelaskan bahwa fungsi ginjal bisa menurun drastis tanpa disadari oleh pasien.
“Kadar gula darah yang terus tinggi merusak jaringan ginjal secara bertahap, layaknya filter yang aus seiring waktu. Pemeriksaan ginjal harus proaktif, jangan menunggu sampai muncul gejala,” papar Dr. Soebagijo.
Baca Juga: Sering Ngorok? Pramita Surabaya Siapkan Tes Sleep Apnea
Ia menyarankan tiga pemeriksaan rutin yang wajib dipantau oleh pasien diabetes. Yaitu HbA1c untuk melihat rata-rata kendali gula darah jangka panjang, UACR untuk mendeteksi kebocoran protein dalam urine sejak dini, dan eGFR untuk menilai kemampuan ginjal dalam menyaring darah.
Direktur Siloam Hospitals Surabaya, dr. Maria Magdalena Padmidewi, Sp.PK, menegaskan komitmen rumah sakitnya dalam mendukung diagnosis dini dan layanan medis komprehensif lewat tim dokter multidisiplin.
"Edukasi tidak boleh berhenti pada penurunan gula darah saja. Pasien harus paham bahwa diabetes diam-diam memengaruhi seluruh kualitas hidup," ujarnya.
Sejalan dengan itu, Head of Daewoong Pharmaceutical Indonesia Business Division, Baik In-hyun, mengatakan bahwa kegiatan edukasi ini mencerminkan komitmen jangka panjang Daewoong dalam mendukung kesehatan masyarakat.
“Ketika pasien memahami sejak dini hubungan antara diabetes dan komplikasi yang berkembang secara diam-diam, mereka dapat memulai langkah pencegahan sebelum terjadi kerusakan organ yang tidak dapat dipulihkan,” ujar Baik.
Baca Juga: Pramita Surabaya Kembangkan Pusat Rehabilitasi Jantung Modern
Daewoong diakuinya akan terus berperan bukan hanya dalam memastikan pasokan terapi kardiovaskular inovatif dan terapi diabetes tipe 2 yang dikembangkan secara mandiri, tetapi juga sebagai mitra tepercaya dalam membangun masyarakat yang lebih sehat.
Daewoong terus memperluas pilihan terapi untuk membantu pasien diabetes mengelola risiko kardiovaskular dan kadar gula darah. Kombinasi dosis tetap ezetimibe dan rosuvastatin, terapi dislipidemia yang diluncurkan pada November tahun lalu, menjadi pilihan terapi bagi pasien yang memerlukan kontrol LDL-C secara ketat berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.
Sementara itu, enavogliflozin 0,3 mg, terapi diabetes tipe 2 yang dikembangkan secara mandiri oleh Daewoong, telah memperoleh persetujuan produk dari BPOM RI pada Desember tahun lalu dan dijadwalkan meluncur pada semester pertama tahun ini.
Ke depan, Daewoong akan terus memperkuat kolaborasi dengan institusi medis untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pengelolaan gula darah, LDL-C, dan fungsi ginjal secara terpadu pada pasien diabetes, sekaligus memperluas akses terhadap pilihan terapi yang lebih maju.
Editor : Dadang Kurnia