Senin, 22 Jun 2026 18:48 WIB

Melihat Tradisi Larung Sesaji Gunung Kelud, Sajikan Hasil Bumi di Kawah

  • Penulis : Yanuar D
  • | Kamis, 18 Jun 2026 18:45 WIB
Larung sesaji di kawah Gunung Kelud Kabupaten Kediri. (Foto: Nanik for jatimnow.com)
Larung sesaji di kawah Gunung Kelud Kabupaten Kediri. (Foto: Nanik for jatimnow.com)

jatimnow.com - Tradisi Larung Sesaji Gunung Kelud kembali digelar secara khidmat oleh masyarakat Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, pada Kamis Legi (18/6/2026). Ritual budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas limpahan hasil bumi sekaligus doa bersama untuk keselamatan warga yang tinggal di kawasan lereng Gunung Kelud.

Terdapat dua agenda larung sesaji yang diselenggarakan di Gunung Kelud. Pertama, prosesi Larung Sesaji Inti yang dilaksanakan di kawasan kawah Gunung Kelud dan diikuti unsur Muspika Kecamatan Ngancar, kepala desa se-Kecamatan Ngancar, tokoh masyarakat, serta para sesepuh adat.

Baca Juga: Libur Lebaran, Pengunjung Gunung Kelud Melonjak hingga 9 Kali Lipat

Prosesi berlangsung dengan membawa berbagai sesaji hasil bumi dan perlengkapan adat menuju kawasan kawah. Tradisi ini menjadi simbol hubungan harmonis antara masyarakat dengan alam sekaligus bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang telah dijaga lintas generasi.

Plt Camat Ngancar, Moh. Muthoin, mengatakan bahwa Larung Sesaji merupakan agenda tahunan yang selalu dilaksanakan setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa.

“Ya, ini tujuannya untuk disambil tradisi di wilayah Kecamatan Ngancar kaitannya dengan Kawah Gunung Kelud ini, juga tujuannya untuk keselamatan dan keberkahan. Tadi sudah disampaikan oleh Juru Kunci tadi kan bahwa ini untuk keselamatan warga di Desa Ngancar khususnya dan Kabupaten Pediri pada umumnya,” ujarnya.

Dalam ritual tersebut, sejumlah sesaji dilarungkan ke kawah Gunung Kelud. Di antaranya kepala kambing kendit, ayam cemani, nasi gurih, jenang, pisang emas, bunga setaman, hingga berbagai perlengkapan adat lainnya yang telah dipersiapkan oleh masyarakat.

Pj Kepala Desa Sugihwaras, Mariyana Dwi Noventi, menjelaskan bahwa ritual dipimpin oleh para tokoh adat dan pinisepuh desa yang memanjatkan doa-doa keselamatan serta ungkapan syukur atas hasil pertanian dan peternakan masyarakat di kawasan kaki Gunung Kelud.

Baca Juga: Alat Pemantauan Aktivitas Gunung Kelud di Blitar Milik Badan Geologi Dicuri

“Doanya yang pertama, kita bersyukur atas semua yang telah diberikan, atas kelimpahan rezekinya, panen hasil bumi, ternak itu diberi kemudahan. Kemudian doanya untuk ke depannya tetap kita memohon untuk keselamatan, jika nanti ada mungkin suatu bencana, kita meminta supaya semua seluruhnya yang ada di kaki Gunung Kelud terutama warga Desa Sugihwaras ini terhindar dari marabahaya, diberi keselamatan. Terus selanjutnya juga kita memohon untuk selalu diberikan rezeki, keberkahan dari panen hasil bumi maupun ternak di kawasan sekitar Gunung Kelud dan juga meminta dari pemimpin-pemimpin yang ada di sini baik itu dari Muspika, dari kepala desa yang ada di sini, 10 Kades ini bisa memimpin dengan wilayah selalu kondusif, ama,” terangnya.

Menurut Mariyana, Larung Sesaji tidak hanya menjadi ritual adat semata, tetapi juga memiliki makna sosial yang kuat karena melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah desa, tokoh agama, tokoh adat, hingga kelompok pemuda. Keterlibatan lintas elemen tersebut menjadi cerminan kuatnya semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat lereng Gunung Kelud dalam menjaga tradisi leluhur.

Rangkaian larung sesaji berikutnya yakni Perayaan Larung Sesaji yang akan kembali digelar pada Minggu, 28 Juni 2026, di kawasan wisata Gunung Kelud.

Pada perayaan tersebut, berbagai kegiatan budaya akan ditampilkan, mulai dari pesta tumpeng, gunungan hasil bumi, pertunjukan reog, jaranan, tari tradisional hingga sendratari yang melibatkan pelajar dan seniman lokal. Agenda budaya ini diharapkan menjadi daya tarik wisata sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal tradisi daerahnya.

Baca Juga: Pemkab Kediri Lanjutkan Pembangunan Jalan Menuju Kawah Kelud, Gelontor Rp650 Juta

Kegiatan tersebut terbuka untuk masyarakat umum dan wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung kekayaan budaya masyarakat lereng Gunung Kelud. Selain sebagai sarana doa bersama, ritual ini juga menjadi momentum mempererat persaudaraan sekaligus menjaga warisan budaya yang telah hidup selama puluhan tahun di kawasan tersebut.

Muthoin berharap tradisi Larung Sesaji terus dijaga oleh generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya daerah.

“Harapannya kepada generasi muda jangan sampai melepakan uri-uri budaya dan kearifan lokal. Meskipun sekarang ada era modern, digitalisasi, tapi kami berharap bahwa tradisi ini jangan sampai hilang, kearifan lokal maupun uri-uri budaya ini,” pungkasnya.

Editor : Yanuar D
Berita Terbaru

DPW NasDem Jatim Tunjuk Soehadi Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Penunjukan tersebut merupakan bentuk penghargaan dan apresiasi atas dedikasi, loyalitas, serta pengabdian Mulyono selama memimpin dan membesarkan Partai NasDem di Kabupaten Bojonegoro.

Soehadi Moeljono Ditunjuk Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Pengalaman panjang dan kontribusi Mulyono dalam membangun struktur partai di Bojonegoro masih sangat dibutuhkan.

Kenang Almarhum Rektor, UIN KHAS Jember Pakai Pita Hitam di Liga Mahasiswa

Sebuah bingkai foto almarhum Prof. Hepni juga tampak dibawa ke tengah lapangan oleh para pemain UIN KHAS.

Tak Sekadar Hiburan, Musik Miliki Peran Krusial di Berbagai Elemen Kehidupan

Musik memegang peranan krusial yang menyentuh berbagai elemen kehidupan, mulai dari aspek sosial, edukasi, hingga menjadi identitas budaya suatu bangsa.

Adela Kanasya Adies Jaga Soliditas Jaringan Relawan Surabaya

Adela Kanasya Adies menemui 1.000 relawan di Surabaya demi menjaga komunikasi politik pasca-PAW menggantikan politisi senior Adies Kadir.

Ketum PBNU Paparkan Capaian di Munas Konbes, Ini Hasilnya

Gus Yahya paparkan capaian organisasi, mulai dari tata kelola organisasi, kaderisasi terstruktur, transformasi digital, aset dan kemandirian, hingga peran kebangsaan dan global.