Tips Cegah Hewan Kurban Stres dan Jaga Kualitas Daging
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Rabu, 27 Mei 2026 11:44 WIB
jatimnow.com – Memasuki Hari Raya Idul Adha, kualitas dan kehalalan daging kurban menjadi perhatian utama masyarakat. Pakar kedokteran hewan Universitas Airlangga (Unair) Dr. Nusdianto Triakoso menegaskan bahwa kualitas daging kurban sangat ditentukan oleh tingkat stres hewan sebelum hingga saat proses penyembelihan berlangsung.
Menurut Dr. Nus, kesejahteraan hewan kurban seringkali luput dari perhatian panitia. Padahal, hewan yang mengalami stres akibat penanganan yang kasar atau kelelahan akan menghasilkan kualitas daging yang menurun.
Baca Juga: Awas, Bahaya Bungkus Daging Kurban Pakai Kantong Plastik Hitam
“Lebih baik, hewan kurban dikirim sehari sebelum penyembelihan berlangsung. Tempat penampungan sementaranya perlu diperhatikan, serta saat menyembelih ada standar dan triknya agar hewan kurban tidak stres,” ungkap Dr. Nus.
Untuk memastikan ibadah kurban berjalan sempurna dan menghasilkan daging berkualitas, Dr. Nus membagikan beberapa tahapan krusial yang wajib diperhatikan panitia kurban.
Masyarakat awam dapat dengan mudah mengidentifikasi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik. Ciri utama hewan sehat adalah lincah, responsif terhadap lingkungan, dan bernapas dengan normal.
Dr. Nus memperingatkan untuk menghindari hewan yang memiliki leleran atau kotoran di area lubang tubuh seperti mata, telinga, hidung, atau anus.
"Misalkan bagian pantatnya banyak kotoran yang menempel dan basah, itu pertanda diare. Kalau bernapasnya sulit, berarti dia tidak sehat," jelasnya.
Selain itu, ia menyarankan agar hewan tiba di lokasi penampungan minimal 24 jam sebelum eksekusi. Tujuannya untuk memberikan waktu istirahat yang cukup agar hewan pulih dari stres selama perjalanan.
Fase paling rawan terjadi pada saat eksekusi. Dr. Nus menyoroti kesalahan umum di mana hewan sering ditarik kakinya secara paksa hingga terbanting. Hal ini sangat menyakiti hewan dan memicu stres tingkat tinggi.
Ia merekomendasikan penggunaan teknik Burley atau Rope Squeeze. “Ada metode Burley dan Rope Squeeze yang membuat sapi dapat rebah dengan halus. Jadi kalau ditarik, dia akan langsung seperti tidur dengan lembut,” tuturnya.
Selain teknik merobohkan, etika di lokasi jagal juga harus dijaga. Dr. Nus melarang keras panitia mengasah pisau di depan hewan kurban dan menyarankan agar area penampungan dijauhkan dari lokasi penyembelihan agar hewan tidak melihat temannya dieksekusi.
Untuk penyembelihan, pisau harus sangat tajam sehingga dalam sekali sayatan mampu memutus tiga saluran sekaligus: saluran darah, saluran napas, dan saluran cerna.
Pasca-penyembelihan, manajemen kebersihan menjadi kunci. Panitia wajib memisahkan area penanganan daging murni dengan organ dalam.
Dr. Nus menjelaskan bahwa organ dalam terbagi menjadi 'organ merah' (seperti hati dan paru) serta 'organ hijau' (saluran pencernaan/usus). Organ hijau memiliki tingkat kontaminasi bakteri yang sangat tinggi sehingga tidak boleh dicuci atau dicampur di wadah yang sama dengan daging. Limbah darah dan isi perut juga harus dikelola di lubang khusus agar tidak menyebarkan penyakit ke lingkungan sekitar.
“Pengelolaan yang baik dan bersih dari awal hingga akhir ini akan menghasilkan daging yang memenuhi prinsip ASUH, yakni Aman, Sehat, Utuh, dan Halal,” pungkasnya.
Editor : Dadang KurniaURL : https://jatimnow.id/baca-84862-tips-cegah-hewan-kurban-stres-dan-jaga-kualitas-daging