Daya Beli Lesu, Penjualan Tusuk Sate di Probolinggo Malah Merosot Jelang Kurban
- Penulis : Dadang Kurnia
- | Sabtu, 16 Mei 2026 15:30 WIB
jatimnow.com – Perayaan Hari Raya Idul Adha yang biasanya menjadi ladang rezeki melimpah bagi para perajin dan pengusaha tusuk sate, kini dirasa berbeda.
Di tahun ini, peningkatan permintaan tusuk sate atau biting dinilai tidak terlalu signifikan akibat melemahnya kondisi ekonomi nasional yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Baca Juga: PTPN I Regional 5 Salurkan 101 Hewan Kurban di Jatim
Salah seorang perajin tusuk sate asal Kota Probolinggo, As'ad, mengungkapkan bahwa meski ada kenaikan pesanan menjelang hari raya kurban, grafik penjualan tahun ini merosot tajam jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
"Kalau menghadapi Iduladha memang ada peningkatan dari tahun ke tahun. Cuma untuk tahun sekarang ini naiknya tidak begitu menonjol. Istilahnya, ekonomi masyarakat lagi lemah, jadi daya beli berkurang," ujar As'ad saat ditemui di Jalan Periksan, Kelurahan Kebonsari wetan, Sabtu (16/5/2026).
Padahal, kata As'ad, momen Iduladha adalah waktu di mana hampir setiap rumah tangga membutuhkan tusuk sate secara mandiri untuk mengolah daging kurban, bukan hanya para pedagang sate keliling.
Namun, lesunya kondisi pasar di tingkat kota maupun kabupaten saat ini membuat pasokan barangnya ikut tersendat.
Jika pada kondisi normal As'ad mampu mengirimkan 1,2 hingga 1,3 ton tusuk sate per minggu untuk memenuhi pasar lokal dan pengiriman ke Bali. Kini ia mengaku hanya bisa mengirim sekitar 7,5 kuintal saja per minggu, atau turun hingga di bawah 50 persen.
Begitupun frekuensi pengambilan barang yang biasanya dilakukan dua kali seminggu, kini terpangkas menjadi hanya satu kali.
Selain faktor daya beli yang lesu, para pengusaha tusuk sate di Jawa Timur saat ini juga harus menghadapi kelangkaan bahan baku biting (lidi bambu).
Kelangkaan ini terjadi karena para perajin bambu di beberapa daerah seperti Pasuruan, Malang, dan Probolinggo Timur mengalihkan produksinya untuk membuat rangka layang-layang.
Baca Juga: TPS Salurkan 2.000 Paket Daging Kurban untuk Warga dan Mitra
Kebetulan, menjelang Iduladha tahun ini bersamaan dengan datangnya musim layangan. Bagi para perajin bambu, membuat rangka layangan jauh lebih menguntungkan secara finansial dibanding membuat sujen (tusuk sate) kiloan.
"Bahan bitingnya kurang karena crash (berbenturan) dengan pembuatan layang-layang yang harganya lebih mahal. Bayangkan, modal dua biting ditambah kertas bisa jadi layangan yang bernilai jual seribu rupiah. Sementara kalau sujen, satu kilonya hanya dihargai Rp6.500 di tingkat perajin," jelas As'ad.
Hal lain yang menjadi keluhan mendalam bagi As'ad dan para pelaku usaha serupa di Jawa Timur adalah harga jual tusuk sate yang stagnan alias jalan di tempat selama lebih dari 15 tahun.
Saat ini, harga tusuk sate kambing di tingkat pengepul masih bertahan di kisaran Rp10.000 hingga Rp12.000 per kilogram.
Kondisi ini dianggap tidak adil dan tidak seimbang bagi para perajin dan pengusaha mikro.
Baca Juga: Kampung SIBA KLASIK Gresik Terapkan Kurban Minim Sampah
Sebab, dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, harga bahan baku bambu gelondongan sudah naik berkali-kali lipat dari Rp8.000 menjadi Rp25.000 per batang.
Begitu pula dengan harga plastik kemasan dan harga satu porsi sate di warung-warung yang terus merangkak naik.
As'ad menyayangkan tidak adanya kekompakan di antara sesama pengusaha tusuk sate di wilayah Jawa Timur untuk menyesuaikan harga, berbeda dengan wilayah Jawa Tengah atau Jawa Barat yang lebih terorganisasi.
"Di Jawa Timur ini tidak kompak. Begitu ada yang mau menaikkan harga, ada pemain baru yang justru menurunkan harga agar barangnya bisa laku dan menyerobot pasar.
Akhirnya harga nasionalnya standar terus, tidak merosot tapi ya tidak bisa naik," pungkasnya.
Editor : Dadang Kurnia