Bangunan Sakti Itu Bernama Balai Pemuda Surabaya
- Penulis : Ali Masduki
- | Rabu, 13 Mei 2026 09:39 WIB
jatimnow.com - Balai Pemuda Surabaya agaknya memang bangunan yang sakti. Ia tidak hanya menampung pementasan teater, latihan gamelan, diskusi sastra, pameran lukisan, atau rapat seniman yang berakhir dengan kopi dingin dan rokok tingwe alias nggelintir dewe. Ia juga sanggup menampung ironi. Bahkan ironi kelas berat.
Surat perintah pengosongan ruang berkesenian yang ditujukan kepada Dewan Kesenian Surabaya, Bengkel Muda Surabaya, Sanggar Merah Putih, hingga Ning penjual makanan di kawasan Balai Pemuda, telah berubah dari sekadar urusan administrasi menjadi drama sosial lintas generasi. Sebuah pertunjukan absurd yang tidak perlu membeli tiket, sebab seluruh warga kota dipaksa menontonnya.
Baca Juga: Dewan Kesenian Surabaya Laporkan Dugaan Hilangnya Aset Budaya ke Polisi
Generasi tua membaca peristiwa ini dengan dahi berkerut namun tenang. Mereka hafal betul sejarah penggeseran ruang kesenian di Surabaya. Mereka tahu bahwa seniman Surabaya sejak dulu lebih sering berpindah tempat ketimbang pemain sirkus keliling.
Hari ini di sini, besok digeser, lusa disuruh pindah lagi demi “penataan”. Kata “penataan” dalam birokrasi kita kadang terdengar seperti versi sopan dari kalimat: “Maaf, sampeyan terlalu lama hidup di sini.”
Sementara generasi milenial mulai ikut bersuara. Sebagian karena mereka memang pernah berproses di Balai Pemuda, sebagian lagi karena mereka terhubung secara emosional dengan generasi sebelumnya.
Ada hubungan batin yang sulit dijelaskan secara administratif. Sebab, bagi seniman, ruang bukan sekadar bangunan. Ia adalah tempat kenangan, tempat jatuh cinta, tempat gagal pentas, tempat menemukan jati diri, bahkan tempat ngutang kopi.
Yang paling menarik justru generasi Z dan Alfa. Mereka terkejut. Dengan polos mereka bertanya: “Masak pemerintah kota kita begitu?”
Pertanyaan sederhana itu sesungguhnya tamparan paling telak. Sebab, pertanyaan itu keluar dari generasi yang tumbuh dengan slogan kota kreatif, kota toleran, kota humanis, kota penuh festival, kota ramah anak, kota ramah investasi, kota ramah influencer, hingga mungkin sebentar lagi kota ramah algoritma. Tetapi rupanya belum tentu ramah kepada ruang proses kebudayaan.
Mahasiswa FISIP mungkin melihatnya lebih dingin. Mereka mulai menghitung pola. Berapa kali pengosongan ruang budaya terjadi? Siapa yang terdampak? Apa logika kekuasaan di baliknya? Mengapa ruang kesenian selalu tampak kalah penting dibanding beton baru?
Di titik ini, peristiwa Balai Pemuda tidak lagi sekadar konflik ruang, melainkan studi kasus mengenai relasi kuasa antara negara dan kebudayaan.
Ironisnya, Dewan Kesenian Surabaya bukan organisasi liar yang tiba-tiba nongol membawa toa lalu menduduki bangunan pemerintah. Ia lembaga resmi. Pengurus-pengurusnya bahkan selama ini terkenal lebih dekat pada watak “manut” ketimbang “memberontak”. Kalau organisasi sejinak itu sampai melakukan perlawanan, berarti ada sesuatu yang memang sudah terlalu jauh.
Dan sejarah mencatat, DKS berkali-kali mengalah. Dari ruang representatif bernama Loka Seni, lengkap dengan ruang latihan, galeri pameran, gamelan, kantor, dan panggung, lalu bergeser ketika kawasan itu berubah menjadi gedung DPRD Kota Surabaya.
Setelah itu menempati ruang satu petak di samping Bengkel Muda Surabaya. Geser lagi ke belakang Masjid Asakinah. Masjidnya dibongkar, ruang keseniannya ikut tergeser. Lalu, setelah perlawanan panjang, dipindah lagi ke gedung terdepan Balai Pemuda.
Baca Juga: Menata Kebudayaan dengan Helm Proyek atau Tikar Musyawarah?
Siklusnya hampir menyerupai pengembaraan Pandawa, hanya bedanya ini tanpa wahyu dan tanpa kerajaan. Lucunya, setiap penggusuran ruang kesenian selalu dibungkus narasi pembangunan. Seolah-olah kesenian adalah barang yang bisa dipindahkan seperti pot bunga plastik. Padahal kebudayaan bekerja dengan ingatan ruang.
Teater tidak tumbuh dari semen baru. Musik tidak lahir dari pendingin ruangan. Kesenian tumbuh dari pertemuan manusia, dari kontinuitas, dari jejak sejarah yang dipelihara.
Nama-nama besar seperti Gatut Kusumo, Leo Kristi, Gombloh, Franky Sahilatua, Amang Rachman, Kadarruslan, Anang Hanani, Akhudiat, Atifi B. Prasetyo, Aming Aminudin, Sam dan Pareno, Suparmin Ras, dan lain-lain, hingga generasi 80–90-an, telah membawa nama Surabaya melintasi batas kota bahkan negara.
Mereka menjadikan Surabaya bukan hanya kota mal dan jalan protokol, tetapi kota dengan denyut kebudayaan yang hidup.
Namun tampaknya ingatan birokrasi sering lebih pendek dibanding usia cat tembok baru. Yang membuat publik makin bingung adalah fakta historis: penggusuran atau pengosongan ruang berkesenian justru terjadi pada era dua wali kota yang berasal dari partai yang mengklaim diri sebagai partai wong cilik.
Maka publik bertanya-tanya: apakah wong cilik dalam definisi politik kita tidak termasuk seniman? Atau mungkin seniman dianggap makhluk abstrak yang tidak masuk kategori rakyat karena terlalu sering membaca puisi dan jarang ikut tender proyek?
Di sinilah humor atau dagelan tragedi itu bekerja.
Baca Juga: Bukan Pengosongan, Ketika Para Tokoh Berpikir Tentang Ibu Kota Provinsi Jatim
Pemerintah kota mungkin merasa sedang mengelola aset. Tetapi masyarakat melihat sesuatu yang lain: kota yang perlahan kehilangan ingatan budayanya sendiri. Dan kota tanpa ingatan budaya biasanya berubah menjadi ruang administrasi raksasa, tertib, bersih, terang, tetapi dingin.
Padahal sejarah kota-kota besar dunia menunjukkan satu hal: yang membuat sebuah kota dikenang bukan hanya flyover, taman steril, atau gedung kaca. Melainkan cerita manusianya. Senimannya. Musiknya. Teaternya. Ruang nongkrongnya. Kekacauan kreatifnya.
Surabaya semestinya belajar dari itu. Sebab kota yang terlalu sibuk menata kadang lupa cara merawat jiwa. Dan mungkin, di antara semua tokoh dalam kisah ini, Ning penjual makanan justru yang paling filosofis. Ia tetap berjualan di tengah gonjang-ganjing kebudayaan, mungkin sambil berpikir:
“Seniman ribut soal ruang, pemerintah ribut soal aturan, saya cuma ingin tahu besok masih bisa jualan atau tidak.”
Sebuah kalimat yang sederhana, tetapi mungkin paling dekat dengan realitas rakyat sehari-hari.
Oleh: Meimura
Budayawan Surabaya
URL : https://jatimnow.id/baca-84492-bangunan-sakti-itu-bernama-balai-pemuda-surabaya