Jelang Muktamar NU, Gus Lilur Ingatkan Bahaya Politik Praktis
- Penulis : Ali Masduki
- | Rabu, 15 Apr 2026 10:50 WIB
jatimnow.com - Jelang Muktamar Nahdlatul Ulama, suara kritis muncul dari kalangan internal. Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur mengingatkan agar forum tertinggi NU tidak terseret kepentingan politik praktis yang berpotensi menggerus kepercayaan umat.
Menurutnya, Muktamar NU kali ini menjadi penentu arah organisasi, yakni tetap berpijak pada tradisi keulamaan atau bergeser menjadi arena tarik-menarik kekuasaan. Ia melihat gejala politisasi mulai terasa dalam dinamika internal.
Baca Juga: Gus Lilur: MBG Pasti Meroket Jika Tanpa Copet
“NU didirikan oleh para ulama besar dengan fondasi ilmu dan akhlak, bukan untuk alat kekuasaan,” kata Gus Lilur.
Ia menyoroti munculnya sejumlah nama dalam percaturan NU yang dinilai memperlihatkan batas antara organisasi keagamaan dan politik kian kabur, seperti Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf.
Kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf juga disebutnya perlu dievaluasi secara terbuka dalam forum muktamar.
“Bukan soal pribadi, tapi soal marwah. Kalau NU terus jadi panggung politisi, kepercayaan umat bisa terkikis,” ujarnya.
Gus Lilur juga menyinggung fenomena yang ia sebut “gus-gus nanggung”, yakni figur yang memanfaatkan NU untuk kepentingan pribadi. Ia menilai sebagian pengurus lebih sibuk membangun jejaring kekuasaan ketimbang memperkuat tradisi keilmuan.
“Kita punya pesantren, punya bahtsul masail. Tapi yang sering tampil justru yang dekat dengan kekuasaan, bukan yang paling alim,” ucapnya.
Ia menilai NU tidak kekurangan figur dengan kapasitas keulamaan kuat. Sejumlah nama disebutnya layak dipertimbangkan, seperti Nasaruddin Umar, Said Aqil Siradj, Abdus Salam Shohib, Yusuf Chudlory, Zulfa Mustofa, hingga Bahauddin Nursalim.
Baca Juga: Gus Salam Sowan ke Kiai Imjaz Jelang Muktamar NU ke-35
“NU kaya tokoh dengan kapasitas keilmuan. Jangan sampai yang muncul itu-itu saja karena faktor politik,” katanya.
Ia mendorong peserta muktamar berani mengambil sikap tegas dengan memilih pemimpin yang lahir dari tradisi ilmu, bukan dari kepentingan elektoral jangka pendek.
“Sudah saatnya bilang cukup pada pengurus yang haus kekuasaan. NU bukan batu loncatan politik. Kalau mau berpolitik, silakan di partai,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa posisi independen NU selama ini menjadi kekuatan utama dalam menjaga peran sebagai penyejuk dan penuntun umat. Kedekatan berlebihan dengan kekuasaan, menurutnya, berisiko mengaburkan fungsi tersebut.
“NU harus berdiri di atas semua golongan, bukan bagian dari kepentingan tertentu,” katanya.
Baca Juga: Muktamar NU, Menjaga Sang Pendiri NKRI dari Intervensi
Ia juga mendorong penguatan ekosistem intelektual NU, mulai dari pesantren hingga forum bahtsul masail, agar tetap relevan menjawab tantangan zaman. Baginya, kekuatan ilmu akan menjaga wibawa organisasi tanpa harus bergantung pada kekuasaan.
“Kalau kuat di ilmu, NU akan dihormati. Kalau sibuk di politik, lama-lama hanya diperalat,” ucapnya.
Gus Lilur menutup dengan peringatan bahwa muktamar mendatang menjadi ujian sejarah bagi NU. Keputusan para kiai akan menentukan arah organisasi dalam jangka panjang.
“Ini soal masa depan NU dan umat. Kembali ke jalan ulama atau terus terseret arus kekuasaan, itu yang sedang dipertaruhkan,” kata dia.
Editor : Ali MasdukiURL : https://jatimnow.id/baca-83769-jelang-muktamar-nu-gus-lilur-ingatkan-bahaya-politik-praktis