Bukan Sekadar Viral, Mas Zar Ungkap Rahasia Brand Bisa Bertahan di Era Digital
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Senin, 13 Apr 2026 22:56 WIB
jatimnow.com - Lupakan sejenak tentang siapa yang paling cepat di dunia maya. Di tengah banjir informasi yang melanda layar ponsel setiap detik, pemenangnya bukan lagi mereka yang sekadar "eksis", melainkan mereka yang mampu menyelinap masuk ke dalam benak audiens dan menetap di sana sebagai sebuah solusi.
Zarnuzi Fustatul, pakar branding yang akrab disapa Mas Zar atau "Dosen Sosmed", melihat ada pergeseran besar dalam perilaku konsumen.
Baca Juga: Binus School Surabaya Kenalkan Pembelajaran Berbasis AI
Menurut pria asal Sidoarjo ini, keterikatan emosional menjadi mata uang baru yang jauh lebih berharga daripada angka followers.
Zarnuzi menjelaskan bahwa perubahan lanskap digital terjadi hampir setiap hari. Munculnya platform baru dan pergeseran algoritma seringkali membuat pemilik usaha kewalahan.
Namun, ia menilai ada satu fondasi yang sering dilupakan, kemampuan membaca situasi pasar secara jernih.
“Di era digital, yang cepat bukan yang menang, tapi yang paling adaptif,” ujar Mas Zar.
Bagi Mas Zar, konten yang hanya berisi informasi produk sudah kehilangan tajinya. Audiens saat ini lebih menyukai narasi yang terasa "manusiawi". Artinya, brand harus bisa memposisikan diri sebagai teman bicara, bukan sekadar mesin penjual otomatis.
“Konten itu bukan soal ramai, tapi soal relevan dan terasa dekat dengan audiens,” tambahnya.
Teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dan analisis data harus mulai dipandang sebagai alat bantu utama, bukan lagi sekadar tren pelengkap.
Baca Juga: Padukan AI dan Tradisi, Pekan Desain ISTTS 2026 Jadi Magnet Kreativitas Remaja
Mas Zar mengingatkan para pemilik usaha agar tidak lagi mengambil keputusan hanya berdasarkan perasaan atau intuisi semata.
Menurutnya, data membantu brand memahami apa yang sebenarnya diinginkan konsumen. “Data adalah kompas. Tanpa data, brand hanya menebak arah di tengah keramaian digital,” tegasnya.
Strategi "bermain sendiri" sudah dianggap usang. Mas Zar mendorong brand untuk mulai menggandeng kreator, komunitas, bahkan sesama pelaku usaha. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat nilai (value) yang ingin disampaikan kepada publik.
Ia juga menyoroti pentingnya karakter yang kuat. Di tengah ribuan iklan yang muncul di beranda, brand yang konsisten dengan identitas visual dan gaya komunikasinya akan lebih mudah membekas di ingatan audiens.
Baca Juga: Algoritma vs Suroboyoan, Alasan Gen Z Surabaya Tak Bisa Lepas dari Radio
“Brand yang kuat itu bukan yang paling sering muncul, tapi yang paling mudah diingat,” jelasnya.
Sebagai penutup, ia mengajak para pelaku usaha untuk tidak takut mencoba format baru, mulai dari video pendek hingga kampanye interaktif.
Kegagalan dalam eksperimen konten adalah hal lumrah, namun tidak pernah mencoba adalah ancaman nyata bagi keberlangsungan bisnis.
“Di digital, gagal itu biasa. Yang berbahaya justru tidak pernah mencoba. Brand masa depan bukan hanya menjual produk, tapi membangun ekosistem pengalaman,” tutup Mas Zar.
Editor : Ali Masduki