Jumat, 19 Jun 2026 18:14 WIB

Hutan Hilang Tenun Pun Padam, Sinyal Darurat dari Rumah Panjang Sadap

Masyarakat adat Dayak Iban di Kapuas Hulu menjadikan tenun alat perjuangan menjaga hutan. (Foto: Syifa Fauzia/jatimnow.com)
Masyarakat adat Dayak Iban di Kapuas Hulu menjadikan tenun alat perjuangan menjaga hutan. (Foto: Syifa Fauzia/jatimnow.com)

 

jatimnow.com – Di pedalaman Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kapuas Hulu, selembar kain bukan sekadar penutup raga. Bagi masyarakat adat Dayak Iban, setiap helai benang adalah rekaman sejarah yang dirajut tanpa tinta.

Baca Juga: Sejumlah Desa di Sambas Kalbar Terendam Banjir, Ribuan Warga Terdampak

Tenun Iban Sadap kini berdiri sebagai benteng terakhir yang mengikat hubungan manusia, leluhur, dan kelestarian alam yang kian terancam.

Keberhasilan Festival Tenun Iban Sadap pada Desember lalu menjadi bukti bahwa denyut tradisi ini masih kencang.

Magareta Mala, sosok di balik festival tersebut, menyatakan bahwa tenun merupakan bahasa spiritual dan kearifan lokal yang nyata.

"Tenun bukan komoditas semata. Ini simbol identitas. Ada nilai sakral di dalamnya yang menyangkut kelahiran hingga kematian," ujar Mala saat ditemui di sela kesibukannya.

Ketergantungan masyarakat pada alam terlihat dari proses produksinya. Pewarna kain diambil dari dedaunan, akar, dan kulit kayu yang hanya tumbuh subur jika hutan mereka terjaga.

Herkulanus Sutomo dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kapuas Hulu memaparkan keterikatan ini sebagai hubungan timbal balik yang mutlak.

"Menenun berarti memelihara bumi. Kami tidak mungkin memusnahkan tanaman pewarna di wilayah adat sendiri," kata Tomo.

Ia mengingatkan, jika negara gagal memberikan pengakuan dan perlindungan melalui RUU Masyarakat Adat, maka kehilangan wilayah adat otomatis mematikan tradisi menenun. Tanpa hutan, bahan baku dan ruh dari tenun itu sendiri akan lenyap.

Baca Juga: Cabuli 8 Murid Laki-laki, Oknum Guru SD Ditangkap

Pusat dari peradaban ini berada di rumah panjang. Di ruang terbuka yang disebut ruai, para perempuan dari berbagai usia berkumpul.

Suara alat tenun kayu yang saling beradu menjadi musik harian. Di sini, menenun adalah kegiatan komunal yang memacu semangat.

Yosefa Kiki Nayah Sari, salah satu penenun muda, mengaku tergerak karena suasana kebersamaan tersebut.

"Seru kalau ramai-ramai di ruai. Lihat teman menenun, saya jadi semangat untuk ikut bekerja. Rasanya seperti berlomba dalam kebaikan," tutur Yosefa.

Bagi anak muda seperti Yosefa, menenun adalah bentuk perlawanan terhadap zaman yang serba instan. Ia menghabiskan berjam-jam setiap hari untuk memastikan motif sakral seperti kebat tetap eksis.

Mala kini mulai membuka pintu rumah panjang bagi dunia luar melalui paket tur edukasi. Namun, ia tidak mencari turis massal yang sekadar datang untuk berfoto.

Beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa dari Kuala Lumpur tinggal dalam waktu lama hanya untuk memahami filosofi di balik motif manusia dan hewan pada kain tersebut.

"Kami ingin pengunjung datang untuk memahami prosesnya yang panjang, bukan sekadar melihat hasilnya," tambah Mala.

Melalui festival dan regenerasi penenun muda, masyarakat Dayak Iban di Desa Sadap sedang mengirimkan pesan kuat ke publik.

Selama alat tenun masih berbunyi di rumah panjang, selama itu pula mereka akan terus berdiri menjaga hutan Kapuas Hulu dari kehancuran.

Editor : Tim Jatimnow
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.