Senin, 22 Jun 2026 10:35 WIB

Foto: Jejak Keringat di Fondasi Gili Trawangan

Kuli angkut memikul karung material bangunan dari perahu menuju daratan Gili Trawangan, Lombok, Jumat (26/12/2025). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Kuli angkut memikul karung material bangunan dari perahu menuju daratan Gili Trawangan, Lombok, Jumat (26/12/2025). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Mendirikan bangunan di kawasan wisata seperti Gili Trawangan bukan sekadar soal membeli pasir, batu, atau semen. Di pulau kecil yang bebas kendaraan bermotor ini, setiap bangunan berdiri di atas ongkos panjang, ongkos yang sebagian besarnya dipikul manusia, langkah demi langkah, dari laut ke daratan.

Para kuli angkut berjalan di air laut setinggi pinggang, memikul karung-karung material di atas kepala. Tidak ada suara mesin berat, tidak ada derek atau truk pengangkut. Laut adalah jalan raya, bahu manusia adalah alat angkut.

Baca Juga: Foto: Desa Sukarara, Pusat Tenun Songket Berkelas dari Lombok

Langkah mereka pelan, ritmenya konsisten, seolah menyelaraskan diri dengan ombak. Setiap karung semen, setiap bongkah batu, harus turun dari perahu kecil, dipanggul melewati air, lalu disusun di daratan.

Proses yang sederhana, tetapi berulang dan menguras tenaga. Dari sinilah biaya membengkak, bukan hanya dalam rupiah, tetapi juga dalam keringat.

Setiap hotel, vila, atau restoran yang berdiri megah di Gili Trawangan menyimpan cerita panjang di balik fondasinya. Cerita tentang material bangunan yang menempuh perjalanan laut, tentang tenaga manusia yang menggantikan mesin, dan tentang harga yang melonjak karena keterbatasan ruang dan akses.

Cerita para kuli ini adalah cerita tentang biaya tersembunyi pembangunan di pulau kecil. Ketika laut menjadi jalur distribusi utama, ketika manusia masih lebih efektif daripada alat berat, dan ketika setiap kilogram material memiliki nilai yang jauh lebih mahal dibandingkan di daratan utama.

Inilah realitas mahal dan beratnya ongkos mendirikan bangunan di Gili Trawangan. Ia tampak dari punggung yang membungkuk dan langkah yang tertatih, sekaligus tercermin dalam angka-angka biaya yang berlipat ganda.

Foto ini bukan sekadar potret kerja fisik. Ia adalah kisah tentang ketangguhan, keterbatasan, dan harga ekonomi yang harus dibayar di balik pesona pulau tropis di Lombok.

Kuli angkut memindahkan karung material bangunan dari perahu ke daratan Gili Trawangan, Lombok. Tanpa alat berat dan kendaraan bermotor, bongkar muat dilakukan di laut dangkal. Bahu manusia menggantikan mesin, menjadi bagian dari ongkos mahal dan proses panjang di balik pembangunan pulau wisata ini. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)Kuli angkut memindahkan karung material bangunan dari perahu ke daratan Gili Trawangan, Lombok. Tanpa alat berat dan kendaraan bermotor, bongkar muat dilakukan di laut dangkal. Bahu manusia menggantikan mesin, menjadi bagian dari ongkos mahal dan proses panjang di balik pembangunan pulau wisata ini. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

Baca Juga: Foto: Turis Asing Jatuh Hati pada Gerabah Lombok

 

Seorang kuli angkut membawa karung semen dari bibir pantai Gili Trawangan, Lombok. Material bangunan diturunkan dari perahu kecil dan dipanggul melintasi pasir tanpa bantuan alat berat. Di pulau wisata tanpa kendaraan bermotor ini, setiap bangunan berdiri di atas tenaga manusia dan ongkos logistik yang mahal.(Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)Seorang kuli angkut membawa karung semen dari bibir pantai Gili Trawangan, Lombok. Material bangunan diturunkan dari perahu kecil dan dipanggul melintasi pasir tanpa bantuan alat berat. Di pulau wisata tanpa kendaraan bermotor ini, setiap bangunan berdiri di atas tenaga manusia dan ongkos logistik yang mahal.(Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

 

Kuli angkut membawa batu bangunan dari bibir pantai menuju lokasi pembangunan di Gili Trawangan, Lombok. Tanpa kendaraan bermotor dan alat berat, material dipanggul menanjak dari pantai. Di balik indahnya pulau wisata, proses pembangunan bergantung pada tenaga manusia dan ongkos logistik yang tidak murah.(Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)Kuli angkut membawa batu bangunan dari bibir pantai menuju lokasi pembangunan di Gili Trawangan, Lombok. Tanpa kendaraan bermotor dan alat berat, material dipanggul menanjak dari pantai. Di balik indahnya pulau wisata, proses pembangunan bergantung pada tenaga manusia dan ongkos logistik yang tidak murah.(Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

 

Baca Juga: Foto: Gas LPG Napas Wisata Gili Trawangan

Tumpukan batu menjadi saksi mahalnya ongkos pembangunan di Gili Trawangan. Tanpa kendaraan bermotor dan alat berat, material bangunan diangkut manual dari perahu ke daratan. Di balik pesona pulau wisata, fondasi bangunan berdiri di atas kerja keras dan keringat para kuli angkut.(Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)Tumpukan batu menjadi saksi mahalnya ongkos pembangunan di Gili Trawangan. Tanpa kendaraan bermotor dan alat berat, material bangunan diangkut manual dari perahu ke daratan. Di balik pesona pulau wisata, fondasi bangunan berdiri di atas kerja keras dan keringat para kuli angkut.(Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

 

Cidomo, kendaraan tradisional tanpa mesin mengangkut karung-karung material bangunan menyusuri jalan utama Gili Trawangan. Di pulau bebas kendaraan bermotor ini, distribusi bahan bangunan bergantung pada tenaga manusia dan hewan, menambah panjang ongkos dan beratnya proses pembangunan di kawasan wisata.(Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)Cidomo, kendaraan tradisional tanpa mesin mengangkut karung-karung material bangunan menyusuri jalan utama Gili Trawangan. Di pulau bebas kendaraan bermotor ini, distribusi bahan bangunan bergantung pada tenaga manusia dan hewan, menambah panjang ongkos dan beratnya proses pembangunan di kawasan wisata.(Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

 

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.