Jumat, 12 Jun 2026 09:58 WIB

BGN Perketat SOP di Jawa Timur untuk Cegah Keracunan Massal Program MBG

  • Penulis :
  • | Jumat, 07 Nov 2025 16:10 WIB
Kegiatan pelatihan pengelola SPPG dan supervisor di Malang (Foto: Aris Midaada/jatimnow.com)
Kegiatan pelatihan pengelola SPPG dan supervisor di Malang (Foto: Aris Midaada/jatimnow.com)

jatimnow.com – Badan Gizi Nasional (BGN) terus mengevaluasi penerapan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto, guna mencegah terulangnya kasus keracunan massal. Di Jawa Timur, ribuan penanggung jawab serta pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur penyedia makanan dikumpulkan untuk mendapatkan pelatihan dan standarisasi higienitas, mulai dari proses produksi hingga penyajian makanan bagi para siswa.

Ahli Gizi dari SPPG Tambak Agung Mojokerto, Nydia Safira Nur Rohman mengatakan bahwa ada banyak hal baru yang dipelajarinya dari pelatihan yang diadakan BGN, terutama terkait pengaturan suhu makanan dan ruangan produksi agar makanan tidak cepat basi saat didistribusikan.

Baca Juga: BGN Hentikan Operasional Puluhan Dapur MBG di Probolinggo Gegara Limbah

“Sebelum pelatihan ini saya masih agak kalang kabut, apalagi sebagai fresh graduate. Tadi saya mendapat arahan tentang penerimaan bahan, alur di dapur, pengaturan suhu makanan, hingga pendistribusian makanan,” ujar Nydia.

Ia menambahkan, implementasi kebijakan Presiden Prabowo melalui program MBG bukan hal mudah. Tantangan muncul mulai dari memastikan kandungan gizi setiap porsi makanan hingga menjamin higienitas sajian.

“Kesulitannya itu memilih menu, karena ada juga anak-anak yang punya alergi. Pengolahan makanan juga perlu quality control dari ahlinya,” jelasnya, saat kegiatan Sosialisasi Kebijakan Sistem dan Tata Kelola Program MBG, Jumat (7/11/2025) di Malang.

Menurut Nydia, setiap menu harus ditimbang dan disesuaikan dengan Angka Kebutuhan Gizi (AKG). Terdapat dua kategori menu, yaitu untuk siswa TK hingga kelas 3 SD, dan untuk siswa kelas 3 SD hingga SMA. Selain itu, usulan menu dari pihak sekolah atau siswa juga akan dipertimbangkan oleh SPPG dan ahli gizi.

“Kalau ada evaluasi menu di minggu ini, nanti bisa divariasikan. Kalau ada permintaan dari penerima manfaat, kami sesuaikan dengan kandungan gizi yang telah ditentukan,” tambahnya.

Sementara itu, Ahli Gizi di SPPG Bondowoso Firda Daivia Zaivanty mengaku tantangan utama di lapangan adalah ketersediaan bahan baku makanan. Ia sering kali harus mencari bahan pengganti agar tetap sesuai dengan nilai gizi yang dibutuhkan.

“Kalau ada bahan yang mendadak tidak tersedia, kami harus menyesuaikan. Misalnya wortel habis, bisa diganti buncis atau ubi yang gizinya seimbang. Tantangan lainnya kalau ada anak yang alergi telur atau ayam, maka kami ganti dengan daging atau ikan,” tutur Firda.

Baca Juga: IPAL dan Sampah Jadi Sorotan, Hanya 2 dari 7 SPPG di Silo Jember yang Dinilai Layak

Menurut Firda, pelatihan yang diberikan BGN kepada ribuan pengelola SPPG se-Jawa Timur pada 5–7 November 2025 di Malang sangat membantu dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pengolahan makanan bergizi.

“Saya senang bisa belajar langsung dari BGN. Ilmu ini bisa saya terapkan langsung di program MBG,” ujar alumni Politeknik Negeri Jember itu.

Sementara itu, Sekretaris Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN Pusat, dr. Ernia Sofiyessi, menyampaikan bahwa pelatihan tersebut penting karena penerapan program MBG di lapangan masih perlu ditingkatkan. Pihaknya menekankan pentingnya perencanaan SPPG, sistem produksi, hingga penyaluran makanan agar tetap segar dan higienis.

“Penekanannya pada bagaimana kebijakan yang kita buat bisa dilaksanakan dengan baik mulai dari keamanan pangan, sanitasi, higienitas, pengelolaan keuangan, hingga penyempurnaan gizinya,” jelas Ernia.

Baca Juga: Pemkab Jember Rekom Penghentian SPPG Al-Mubarok dan Sumbersari 2 ke BGN

Ernia menambahkan, standar operasional prosedur (SOP) MBG dapat dijalankan dengan baik jika Sumber Daya Manusia (SDM) di SPPG siap. Karena itu, peningkatan kapasitas SDM menjadi fokus utama BGN agar kasus keracunan massal tidak terulang.

“Tantangan utama adalah SDM. Kita harus menciptakan tenaga yang siap menjalankan program ini untuk melayani hingga 3.000 penerima manfaat setiap hari,” ujarnya.

“Selain itu, infrastruktur juga harus siap agar dapat menyediakan makanan yang sehat, bergizi, dan seimbang,” tukasnya.

Reporter: Aris Midaada

Editor : Yanuar D
Berita Terbaru

Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Bupati Jember meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) segera berkoordinasi dengan para camat, Gapoktan, dan Poktan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam organisasi petani.

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.