Jumat, 19 Jun 2026 04:54 WIB

BSI Dorong Investasi Emas Syariah, Aset Aman di Tengah Krisis

SVP Bullion Business BSI Ricko Wardhana, SVP Wealth Management BSI Asri Natanegeri, SEVP Funding & Transaction Ida Triana Widowati, Pembicara Sharia Financial Planner, Rista Zwestika, dan Fahrur Rozi selaku moderator. (Foto/Dok BSI for JatimNow.com)
SVP Bullion Business BSI Ricko Wardhana, SVP Wealth Management BSI Asri Natanegeri, SEVP Funding & Transaction Ida Triana Widowati, Pembicara Sharia Financial Planner, Rista Zwestika, dan Fahrur Rozi selaku moderator. (Foto/Dok BSI for JatimNow.com)

jatimnow.com - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), melalui unit BSI Prioritas, semakin memantapkan posisinya sebagai mitra finansial terdepan dalam pengelolaan kekayaan syariah (sharia wealth management) dan bank emas terpercaya di Indonesia.

Hal itu dibuktikan dengan penyelenggaraan BSI Wealth Insight bertajuk “Golden Step Into the Future” di Surabaya. Acara ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada nasabah prioritas mengenai peluang dan tantangan investasi emas di era bullion banking yang terus berkembang.

Baca Juga: Pegadaian Cetak Rekor, Boyong 5 Penghargaan HR Asia 2026

Acara eksklusif yang diadakan di Double Tree Hotel, Surabaya, menjadi wadah bagi BSI untuk berbagi pengetahuan mendalam tentang prospek emas sebagai pilihan investasi yang inklusif dan berkelanjutan. Inisiatif ini sejalan dengan komitmen BSI untuk meningkatkan literasi finansial nasabah dalam menghadapi dinamika pasar dan inovasi produk investasi berbasis syariah.

Menurut RCEO Regional VIII BSI Surabaya, Jajang Abdul Karim, emas telah bertransformasi menjadi instrumen investasi strategis yang relevan bagi investor modern.

"Dalam beberapa tahun terakhir, emas semakin menegaskan perannya, bukan hanya sebagai instrumen lindung nilai, tetapi juga sebagai bagian penting dari strategi pengelolaan kekayaan," ujarnya.

Jajang menambahkan bahwa perkembangan bullion banking membuka peluang besar bagi BSI untuk menghadirkan inovasi produk, baik kepemilikan emas secara fisik maupun melalui kanal digital, yang lebih modern, aman, dan transparan bagi nasabah.

Komitmen BSI dalam mengembangkan ekosistem emas syariah di Indonesia tercermin dari kinerja bisnis yang solid. Bisnis emas menjadi mesin pertumbuhan bisnis BSI hingga Triwulan II Tahun 2025.

Pembiayaan bisnis emas BSI tercatat melesat 88,25% year-on-year (YoY) mencapai Rp16,88 triliun, dengan rincian Cicil Emas sebesar Rp9,09 triliun (tumbuh 155,41% YoY) dan Gadai Emas sebesar Rp7,79 triliun (tumbuh 44,08% YoY).

Baca Juga: Hasil RUPST BSI, Bagikan Dividen Jumbo dan Siap Operasikan Bullion Bank

Pertumbuhan bisnis emas ini juga berdampak positif pada pendapatan margin perseroan yang mencapai Rp14,09 triliun (tumbuh 16,61% YoY) serta pendapatan berbasis fee menjadi Rp2,94 triliun (naik 18,37%). Antusiasme masyarakat terhadap BSI Emas juga terlihat dari kelolaan Tabungan Emas BSI yang telah mencapai lebih dari 1 ton emas.

Dalam acara BSI Wealth Insight, para pakar membahas berbagai topik penting, termasuk masa depan bullion banking, strategi investasi emas yang efektif, dan perbandingan antara kepemilikan emas secara fisik dan melalui kanal digital.

Jajang Abdul Karim menjelaskan bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas tetap menjadi aset primadona.

"Prospek emas ke depan cukup potensial. Fungsinya sebagai safe haven dan potensi kenaikan nilainya menjadikan emas sebagai komponen wajib dalam portofolio investasi yang tangguh," jelasnya.

Baca Juga: Laba Melejit, BSI Tebar Dividen Tunai Rp1,51 Triliun ke Pemegang Saham

Ia menambahkan bahwa melalui produk yang tepat, emas dapat menjadi kunci untuk mencapai kemandirian finansial yang berkelanjutan, serta mendukung program pemerintah dalam mendorong hilirisasi emas.

BSI terus berinovasi untuk menyesuaikan produk dengan profil investor yang beragam. "Kami memahami bahwa setiap nasabah memiliki preferensi berbeda. Oleh karena itu, BSI menyediakan pilihan investasi kepemilikan emas secara fisik dan melalui kanal digital melalui Byond by BSI, yang memungkinkan nasabah berinvestasi dengan mudah, kapan pun dan di mana pun," ungkap Jajang.

Melalui acara ini, BSI berharap dapat mempererat hubungan dengan nasabah BSI Prioritas dan memperkuat posisinya sebagai mitra terpercaya dalam pengelolaan kekayaan. Inisiatif ini merupakan bagian dari langkah strategis BSI untuk tidak hanya menjadi pemimpin dalam layanan perbankan syariah, tetapi juga sebagai bank emas pilihan utama masyarakat Indonesia.

Hingga Triwulan II 2025, segmen wealth management BSI telah mengelola lebih dari 69 ribu nasabah Prioritas, dengan berbagai produk sesuai kebutuhan nasabah seperti produk emas (Tabungan E-Mas, BSI Gold, Cicil Emas BSI dan Gadai Emas BSI), Reksa Dana Syariah, Sukuk, dan Produk Bancassurance. BSI Prioritas juga menyediakan layanan dan fasilitas eksklusif seperti Konsultasi Waris dan Hajj & Umrah Concierge.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.