Senin, 15 Jun 2026 19:04 WIB

Aliansi Zero Waste Luncurkan Modul Sekolah Ekologis Nasional di Solo

Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) meluncurkan Modul Sekolah Ekologis Nasional di Solo. Program ini dorong pendidikan ramah lingkungan melalui kolaborasi murid, guru, dan komunitas. (Foto: AZWI for JatimNow.com)
Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) meluncurkan Modul Sekolah Ekologis Nasional di Solo. Program ini dorong pendidikan ramah lingkungan melalui kolaborasi murid, guru, dan komunitas. (Foto: AZWI for JatimNow.com)

jatimnow.com - Gerakan menuju pendidikan yang ramah lingkungan semakin kuat. Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) secara resmi meluncurkan Modul Sekolah Ekologis Nasional dalam kegiatan Jambore Sekolah Ekologis 2025 yang digelar di Surakarta pada 21–23 Oktober 2025.

Jambore ini diinisiasi oleh empat anggota AZWI, yaitu Yayasan Gita Pertiwi, PPLH Bali, Nol Sampah, dan Ecoton, dengan dukungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Kemendikdasmen. Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antara murid, guru, dan komunitas pendidikan untuk memperkuat budaya ekologis di sekolah.

Baca Juga: Karyawan BPJS Ketenagakerjaan Sidoarjo Gotong Royong Tanam Pucuk Merah

Mengusung tema “Sekolah Ekologis: Belajar, Berkarya, Berkelanjutan,” jambore mengajak peserta memperkuat komitmen dalam menciptakan sekolah yang sehat, ramah lingkungan, dan berbudaya lestari.

Direktur Yayasan Gita Pertiwi, Titik Eka Sasanti, menjelaskan bahwa konsep sekolah ekologis bukan hanya program, tetapi gerakan pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kritis terhadap kelestarian lingkungan.

“Sekolah ekologis adalah ruang bagi siswa untuk berpikir kritis dan peduli terhadap lingkungan. Ada empat topik utama yang kami kembangkan, yaitu pengelolaan sampah, energi terbarukan, keanekaragaman hayati, dan pangan sehat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Jambore Sekolah Ekologis tahun ini merupakan kegiatan berskala nasional pertama, dengan partisipasi perwakilan dari tiga provinsi: Bali, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Sebelumnya, kegiatan serupa hanya dilaksanakan di tingkat kabupaten atau provinsi.

“Harapan kami, gerakan ini bisa menginspirasi sekolah-sekolah lain di seluruh Indonesia untuk mulai menerapkan prinsip sekolah ekologis,” tambahnya.

Plt Kepala Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup KLH, Siti Mariam, menegaskan bahwa sekolah memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang tangguh terhadap tantangan lingkungan global.

“Dunia sedang menghadapi triple planetary crisis perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin anak-anak Indonesia punya kesadaran untuk memperbaiki kondisi lingkungan sejak dini,” ujarnya.

Mariam juga mengapresiasi peluncuran Modul Sekolah Ekologis yang disebutnya selaras dengan program Sekolah Adiwiyata dan Sekolah Sehat.

Baca Juga: Pakar Sebut Akuakultur Jadi Solusi Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim

“Modul ini bukan hanya panduan teknis, tetapi juga alat untuk membangun jejaring antar sekolah agar semangat menjaga lingkungan bisa menyebar lebih luas,” tambahnya.

Pemerintah Kota Surakarta menyambut baik inisiatif peluncuran modul tersebut. Fransisco Amaral, Staf Ahli Wali Kota Bidang Kemasyarakatan dan SDM, menyebut langkah AZWI sebagai upaya nyata mewujudkan pendidikan yang berkelanjutan.

“Modul Sekolah Ekologis ini memberikan panduan praktis bagi sekolah-sekolah agar gerakan cinta lingkungan tidak berhenti di slogan, tapi benar-benar diterapkan dalam kurikulum dan budaya sekolah,” jelasnya.

Kegiatan jambore juga diisi dengan seminar nasional, pameran lingkungan, youth action, hingga kunjungan lapangan ke sekolah-sekolah yang telah menerapkan konsep ekologis di Solo.

Ni Luh Sugi Ranjani, guru pendamping dari SMP PGRI 3 Denpasar, mengaku bersyukur bisa menjadi bagian dari kegiatan tersebut.

Baca Juga: PGN Pasok Gas Bumi ke RSUP Sardjito, Dorong Green Hospital

“Dari hari pertama hingga penutupan, semua kegiatan sangat inspiratif. Kami berharap jambore ini terus berlanjut dan diikuti sekolah dari seluruh provinsi,” ujarnya.

Sementara itu, Reyno Khoirul Agni, siswa SD Negeri Sampangan, turut berbagi pengalamannya. “Saya senang ikut jambore karena bisa belajar tentang energi terbarukan, pangan sehat, dan cara memilah sampah. Semoga tahun depan acaranya lebih besar lagi,” katanya dengan antusias.

Melalui peluncuran Modul Sekolah Ekologis dan kegiatan jambore ini, AZWI bersama mitra pemerintah berharap semakin banyak sekolah menjadi agen perubahan lingkungan.

Gerakan Sekolah Ekologis menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga tentang membentuk karakter dan tanggung jawab ekologis bagi generasi muda Indonesia.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.