Selasa, 16 Jun 2026 02:55 WIB

Lima Budaya Asal Gresik Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional

  • Penulis :
  • | Senin, 13 Okt 2025 15:05 WIB
Proses pembuatan (slongsong kupat keteg sebelum di masak berserta bahan isian beras, ketan dan air keteg (minyak endapan).
Proses pembuatan (slongsong kupat keteg sebelum di masak berserta bahan isian beras, ketan dan air keteg (minyak endapan).

jatimnow.com - Kabar membanggakan datang dari Kabupaten Gresik. Lima unsur budaya asal Kota Santri ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Kebudayaan RI tahun 2025.

Penetapan diumumkan setelah sidang penetapan WBTb berlangsung di Jakarta selama 5–9 Oktober 2025. Dari lima usulan yang diajukan Pemkab Gresik, seluruhnya lolos dan ditetapkan.

Baca Juga: Pemancing Tenggelam di Kali Lamong Gresik Akhirnya Ditemukan

Kelima warisan itu meliputi tiga kategori Adat Istiadat Tradisi Pasar Bandeng di sepanjang Jalan Pasar Gresik, Malam Selawe di kawasan Sunan Giri, serta Rebo Wekasan di Desa Suci kemudian kategori Pertunjukan Tradisional yaitu Pencak Macan, dan kategori Kerajinan Tradisional yakni Kupat Keteg.

Anggota Litbang Dewan Kebudayaan Gresik, Basiq El Fuadi, menyebut penetapan ini menjadi bukti keseriusan masyarakat dan pegiat budaya dalam menjaga tradisi leluhur.

“Ini bentuk keberhasilan merawat dan mengingat warisan budaya Gresik. Harapannya, pemerintah daerah bisa berkolaborasi dengan seniman dan budayawan untuk membuat kegiatan yang mengenalkan WBTb ini ke masyarakat luas,” ujarnya, Jumat (10/10/2025).

Kupat Keteg, Kuliner Langka Warisan Giri Kedaton

Dari lima budaya yang ditetapkan, Kupat Keteg jadi perhatian tersendiri. Kuliner khas Desa Giri, Kecamatan Kebomas ini masuk kategori kerajinan tradisional karena proses pembuatannya yang unik dan diwariskan turun-temurun sejak masa Kerajaan Giri Kedaton.

Dalam naskah Babad Gresik, disebutkan setelah runtuhnya Kerajaan Giri Kedaton, wilayah Giri hanya mengurus tiga dusun: Kajen, Kedahanan, dan Giri Gajah. Dari Dusun Kajen inilah tradisi pembuatan Kupat Keteg terus hidup hingga kini.

Nama Keteg diambil dari kampung kuna yang dikenal memiliki sumber air unik atau air keteg yakni air dari endapan minyak mentah yang muncul dari sumur alami. Air ini menjadi bahan utama yang memberi cita rasa khas pada kupat tersebut.

Budayawan Muhammad Ma’arif dari komunitas Giri Simbo menjelaskan, Kupat Keteg sudah lama dikenal sebagai kuliner para peziarah ke makam Sunan Giri.

Baca Juga: Pemancing Tenggelam di Kali Lamong Gresik, Pencarian Terkendala Arus Deras

“Kupat Keteg biasa dijual pada malam Selawe, atau malam ke-25 Ramadan, dan saat Lebaran. Sayangnya, perhatian terhadap potensi kuliner ini masih minim karena fasilitas produksi dan pemasarannya belum memadai,” jelasnya.

Tinggal Empat Pembuat Aktif

Meski kini sudah diakui secara nasional, produksi Kupat Keteg justru kian berkurang. Saat ini, hanya empat orang di Dusun Kajen yang masih membuatnya. Padahal pada era 1980-an, jumlahnya mencapai belasan orang.

Kesulitan bahan baku menjadi penyebab utama. Janur dari daun gebang untuk bungkus kupat kini semakin sulit dicari. Begitu juga air keteg yang menjadi bahan penting pembuatan kuliner tersebut.

“Kalau tidak segera ada dukungan fasilitas dan pelatihan regenerasi, bisa-bisa Kupat Keteg hanya tinggal nama,” tambah Ma’arif.

Baca Juga: Kampung SIBA KLASIK Gresik Terapkan Kurban Minim Sampah

Dorongan untuk Pemerintah Daerah

Basiq El Fuadi berharap penetapan lima WBTb asal Gresik ini menjadi langkah awal membangun ekosistem kebudayaan yang lebih kuat.

“Peran pemerintah daerah sangat penting untuk merawat dan mempopulerkan tradisi ini agar tetap hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

Dengan pengakuan nasional ini, Gresik kembali menegaskan diri sebagai salah satu daerah dengan kekayaan budaya yang berlapis sejarah dari legenda Sunan Giri hingga cita rasa khas Kupat Keteg yang kini menjadi warisan bangsa.

Reporter: Fatkur Rizki

Editor : Yanuar D
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.