Senin, 15 Jun 2026 17:55 WIB

Pemkab Jember Percepat Imunisasi Campak, Galang Kolaborasi Lintas Sektor

  • Penulis : Sugianto
  • | Selasa, 02 Sep 2025 17:50 WIB
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Jember, dr. Rita Wahyuningsih. (Foto: Sugianto/jatimnow.com)
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Jember, dr. Rita Wahyuningsih. (Foto: Sugianto/jatimnow.com)

jatimnow.com – Pemerintah Kabupaten Jember mempercepat cakupan imunisasi campak guna menghentikan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang merebak di sejumlah wilayah. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk bersama Dinas Kesehatan Jawa Timur dan UNICEF.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Jember, dr. Rita Wahyuningsih, mengungkapkan bahwa penanganan KLB campak tidak hanya terkendala pada ketersediaan vaksin, melainkan juga pada tantangan di lapangan.

Baca Juga: Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

“Kesulitannya bukan pada stok vaksin, tetapi pada penerimaan masyarakat. Banyak orang masih terpengaruh lingkungan sekitar. Kalau ada tetangga tidak imunisasi, mereka ikut-ikutan,” jelasnya, Senin (1/9/2025).

Menurut dr. Rita, keputusan imunisasi sering kali tidak murni berasal dari orang tua, melainkan dipengaruhi keluarga besar atau tokoh masyarakat.

“Kadang keputusan itu bukan dari ibu, tapi dari bapak, kakek, atau tokoh yang dituakan. Jadi ada intervensi dari luar keluarga inti,” tambahnya.

Faktor lain yang memperberat adalah derasnya arus informasi di media sosial. Masyarakat lebih mudah mempercayai kabar yang belum tentu benar dibanding penjelasan tenaga kesehatan.

“Saat ini orang lebih mudah percaya informasi yang beredar di media sosial daripada tenaga kesehatan. Padahal belum tentu benar,” tegasnya.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Jember Capai 6,35 Persen, Tertinggi di Kawasan Sekar Kijang

Selain itu, ketakutan terhadap efek samping vaksin juga masih menjadi alasan penolakan imunisasi. Meski sudah dijelaskan bahwa efek samping vaksin umumnya ringan dan wajar, kekhawatiran tetap muncul.

“Sama seperti kalau kita makan makanan manis bisa kena diabetes, vaksin juga ada efek samping. Tapi itu bisa diatasi dengan edukasi yang tepat,” ujarnya.

Ia menilai, salah satu kelemahan di Jember adalah belum adanya tokoh masyarakat yang dapat menjadi panutan atau role model dalam kampanye imunisasi.

Baca Juga: Kecewa Harga Mentimun Rp500 per Kg, Petani Jember Bagikan Panen Gratis

“Kalau tenaga kesehatan yang menyampaikan, masyarakat sering menganggap itu hanya kepentingan kami. Tapi kalau ada tokoh masyarakat yang memberi contoh, mereka akan lebih percaya,” jelas dr. Rita.

Meski begitu, ia mengapresiasi dukungan dari berbagai pihak, mulai dari camat, PKK, kepolisian, hingga TNI, yang sudah aktif terlibat dalam sosialisasi.

“Kolaborasi ini sangat membantu, tapi masih belum cukup untuk melawan derasnya informasi yang salah di masyarakat,” pungkasnya.

Editor : Yanuar D
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.

Curi Uang Kotak Amal Masjid, Pria di Blitar Diarak Warga

Pihak takmir masjid dan warga jemput pelaku di rumah, kini pelaku sudah diserahkan ke pihak berwajib.