Minggu, 07 Jun 2026 06:40 WIB

Ramai Bendera One Piece Berkibar, Pakar Unair: Jangan Represi Kebebasan Berekspr

Suko Widodo. Foto/dok Unair
Suko Widodo. Foto/dok Unair

jatimnow.com - Aksi pengibaran bendera bajak laut One Piece berdampingan dengan bendera merah putih sebagai bentuk protes tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Menanggapi fenomena ini, pakar komunikasi politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Suko Widodo, angkat bicara.

Menurut Suko Widodo, aksi ini merupakan bentuk kreativitas masyarakat dalam menyampaikan protes kepada pemerintah. Ia menegaskan pentingnya dialog dan mendengarkan aspirasi rakyat sebelum mengambil tindakan.

Baca Juga: Kekerasan di Daycare, Psikolog Ingatkan Bahaya Trauma Anak dan Mom-Shaming

"Banyak aksi serupa yang dilakukan oleh komponen masyarakat yang biasa disebut dengan 'silent majority' yang menyatakan mereka kecewa dengan keadaan negeri ini. Kekecewaan tersebut harus dapat dibaca negara dengan menggunakan data ilmiah dan statistik yang ada bukan menunjukkan pertengkaran pada panggung politik," ungkap Suko.

Suko Widodo menegaskan bahwa pemerintah tidak perlu reaktif apalagi represif dalam menyikapi aksi pengibaran bendera One Piece. Ia menilai aksi ini sebagai bentuk "ngambek" anak kepada orang tua yang seharusnya disikapi dengan dialog dan mencari solusi bersama.

Baca Juga: Siswa SMAK Penabur Raih Golden Ticket FK UNAIR 2026, Bukti Konsistensi dan Kerja Keras

"Menyikapi fenomena pengibaran bendera One Piece, pemerintah tak perlu reaktif. Apalagi sampai pada tindakan represif dengan menindak masyarakat. Anggap sebagai bentuk 'ngambek' nya anak ke orang tua. Sebaiknya tentu bukan ditekan, namun didengarkan dan diajak bicara untuk mencari jalan tengah yang sesuai," jelasnya.

Suko Widodo menambahkan bahwa rakyat memerlukan ruang dialog yang dapat memberikan akses komunikasi kepada pemerintah. Ia menekankan pentingnya melibatkan rakyat secara langsung dalam perumusan kebijakan agar kebijakan yang dihasilkan pro rakyat.

Baca Juga: Bukan Cuma Cerai, Ini Tanda Broken Home yang Merusak Psikis Anak

"Perlu melibatkan rakyat secara langsung dalam perumusan kebijakan. Saat pemilihan, para pejabat selalu memohon untuk mendapatkan suara rakyat, sehingga setelah terpilih tentunya rakyat harus ikut dilibatkan dalam pengambilan kebijakan yang pro rakyat. Jangan hanya menjadikan rakyat sebagai objek kebijakan dan sumber suara saja," pungkasnya.

Editor : Ni'am Kurniawan
Berita Terbaru

Akhir Pekan Cuaca di Surabaya Cerah, tapi Waspada Panas yang Menyengat

Tidak terlihat adanya potensi hujan yang signifikan sepanjang hari. Cuaca mendukung berbagai aktivitas masyarakat, khususnya aktivitas di luar ruangan.

Tuai Polemik, Komisi III DPRD Kota Probolinggo Sidak Proyek Swalayan Jalan Cokro

Komisi III telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi untuk memastikan kelengkapan izin proyek di atas lahan seluas 1,3 hektare tersebut.

Update Kepulangan Haji 2026: 7.581 Jemaah Tiba via Debarkasi Surabaya

Update kepulangan haji 2026 Debarkasi Surabaya: 7.581 jemaah dari 20 kloter tiba di Tanah Air. 2 jemaah asal Malang wafat, 3 lainnya dirawat di RS Arab Saudi.

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh

Pengalaman dan kebijaksanaan yang dimiliki para lansia merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa.

Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Lakukan Pemilahan Sampah Dari Sumber

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, Pemkab Tulungagung gelar deklarasi gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pakar Ingatkan Ancaman Krisis Energi

Pakar lingkungan soroti krisis energi, penumpukan sampah, hingga bahaya mikropolutan di momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.