Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pakar Ingatkan Ancaman Krisis Energi
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Sabtu, 06 Jun 2026 15:45 WIB
jatimnow.com – Bertepatan dengan pringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni 2026, pakar lingkungan Universitas Airlangga (Unair) Nur Indradewi Oktavitri menyoroti sejumlah krisis ekologi yang kian mengancam masa depan.
Perempuan yang akrab disapa Nio ini membeberkan, kondisi lingkungan di Indonesia saat ini berada dalam fase mengkhawatirkan. Tantangan terbesar yang membayangi adalah ketersediaan energi fosil yang semakin menipis, berbenturan dengan populasi yang terus bertambah dan menuntut ketersediaan energi yang tinggi.
Baca Juga: PLN NP Gandeng Mitsubishi Sulap Pembangkit Termal Jadi Aset Super Fleksibel
Sebagai solusi konkret, Nio mendorong percepatan implementasi energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. "Kita bisa menggunakan tenaga surya atau memanfaatkan teknologi pembakaran sampah menjadi bio oil yang dapat dikonversi menjadi energi," jelasnya di Surabaya.
Selain krisis energi, masalah klasik penumpukan sampah harian yang tidak tertangani dengan baik terus memicu pencemaran di berbagai sektor, mulai dari kualitas air hingga udara. Budaya pengelolaan sampah di tingkat hilir yang masih sangat rendah menjadi akar masalah utamanya.
“Saat ini, mikroplastik sudah banyak mencemari udara, air, dan elemen lainnya. Hal ini dapat merusak estetika serta keberlanjutan hidup manusia di masa mendatang. Penyebabnya berpusat pada budaya pengelolaan sampah yang kurang serius di sisi masyarakat sebagai penghasil sampah,” tegas Nio.
Lebih jauh, ia juga memperingatkan adanya ancaman lingkungan jangka panjang yang saat ini belum banyak dibahas di Indonesia, yakni mikropolutan.
Baca Juga: ITS Geber Inovasi Bensin Sawit hingga PLTS Apung
Nio menjelaskan bahwa mikropolutan adalah zat pencemar dengan ukuran yang sangat mikro. Apabila tidak segera ditangani secara serius dan dikaji lebih dalam, zat berbahaya ini berpotensi buruk karena akan terus terakumulasi di dalam ekosistem lingkungan.
Terkait fluktuasi cuaca ekstrem akibat krisis iklim yang berulang kali menghantam Indonesia, Nio menekankan pentingnya mitigasi dan adaptasi. Salah satu cara adaptasinya adalah dengan memaksimalkan teknologi weather forecast (prakiraan cuaca).
"Perubahan iklim ini memang tidak bisa dihindarkan, tetapi dampaknya dapat kita cegah dengan mengelola lingkungan jauh lebih baik," urainya.
Baca Juga: Menuju Transisi Energi Bersih, PLN NP Gandeng Perusahaan Jepang
Untuk menciptakan kualitas lingkungan hidup yang lebih baik, Nio mengajak masyarakat dan pemerintah untuk memulai dari langkah-langkah sederhana. Di antaranya memanfaatkan media sosial sebagai ruang untuk mempromosikan gaya hidup hijau.
Kemudian, menerapkan praktik pemilahan sampah dari rumah dan memulai urban farming. Pemerintah daerah disarankannya memberikan penghargaan kepada wilayah atau kampung yang berhasil menghijaukan lingkungannya sebagai bentuk motivasi.
”Karena apa yang kita mulai dari satu langkah kecil hari ini tidak berarti sekarang, tetapi bisa menjadi perubahan besar bagi generasi mendatang,” pungkas Nio.
Editor : Dadang KurniaURL : https://jatimnow.id/baca-85077-hari-lingkungan-hidup-sedunia-pakar-ingatkan-ancaman-krisis-energi