Bukan Cuma Cerai, Ini Tanda Broken Home yang Merusak Psikis Anak
- Penulis : Ali Masduki
- | Rabu, 18 Mar 2026 00:43 WIB
jatimnow.com - Angka perceraian di Indonesia kini menyentuh level yang mengkhawatirkan. Merujuk data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sekitar 4,79 persen keluarga di tanah air terjebak dalam konflik cerai hidup.
Di balik angka tersebut, terselip ancaman nyata terhadap kesehatan mental anak yang sering kali menjadi korban tak terlihat dari fenomena broken home.
Baca Juga: Cegah Depresi Pelajar, Psikolog Desak Sekolah Rombak Total Sistem Well-being
Pakar Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Atika Dian Ariana MSc MPsi, menjelaskan bahwa istilah disfungsi keluarga ini bukan sekadar tentang perpisahan fisik orang tua.
Kondisi ini bermula saat rumah tangga kehilangan keharmonisan dan fungsi asalnya, sehingga memicu guncangan psikis bagi seluruh penghuninya.
“Dalam kacamata psikologi, kondisi ini lahir dari tensi konflik tinggi yang membuat keluarga macet fungsinya. Dampaknya sangat masif, terutama bagi anak-anak yang belum memiliki pertahanan emosional sekuat orang dewasa,” ujar Atika saat memberikan keterangan medis baru-baru ini.
Luka akibat disfungsi keluarga biasanya tidak muncul di permukaan secara instan, melainkan merembes melalui perubahan sikap sehari-hari.
Atika mencatat, anak-anak yang terpapar konflik kronis di rumah cenderung kehilangan rasa percaya diri dan mulai memutus kontak dengan dunia luar.
Ia menjabarkan beberapa tanda yang patut diwaspadai, mulai dari hilangnya minat bergaul, prestasi akademik yang merosot tajam, hingga ledakan emosi yang tidak stabil seperti kecemasan atau kemarahan yang meluap.
“Krisis kepercayaan ini muncul karena fondasi keamanan mereka, yakni keluarga, sedang goyah,” tambahnya.
Atika memberikan garis tegas mengenai kapan orang tua harus membawa anak menemui psikolog, konselor, atau psikiater. Menurutnya, ada dua lampu merah yang tidak boleh diabaikan:
Baca Juga: Kekerasan di Daycare, Psikolog Ingatkan Bahaya Trauma Anak dan Mom-Shaming
1. Degradasi Perilaku yang Ekstrem: Saat perubahan sikap anak semakin memburuk dan mulai mengganggu fungsi hidup mereka.
2. Lingkungan Toxic: Ketika rumah sudah tidak lagi menjadi ruang aman, tidak ada komunikasi sehat, apalagi jika sudah bersentuhan dengan kekerasan fisik maupun verbal.
“Jika situasi ini terjadi, anak harus segera dievakuasi ke lingkungan yang lebih stabil dan mendapat pendampingan dari tenaga profesional,” tegasnya.
Memutus Rantai Dampak Buruk
Meski berada di tengah badai, Atika berpendapat bahwa masa depan anak tidak lantas tertutup. Kuncinya terletak pada bagaimana orang dewasa menyikapi konflik tersebut.
Baca Juga: Siswa SMAK Penabur Raih Golden Ticket FK UNAIR 2026, Bukti Konsistensi dan Kerja Keras
Menurutnya, tidak semua anak dari keluarga tidak utuh akan mengalami gangguan kejiwaan, asalkan orang tua tetap hadir secara emosional.
Ia menyarankan agar orang tua tetap membuka ruang diskusi yang jujur sesuai tingkat kematangan usia anak.
Pendampingan intensif dibutuhkan bagi anak usia dini, sementara bagi remaja, komunikasi terbuka menjadi jembatan utama agar mereka tidak merasa sendirian.
Atika juga memberikan pesan kuat bagi para anak yang tengah berada di situasi sulit ini. Ia mengingatkan bahwa beban perselisihan orang tua bukanlah tanggung jawab mereka.
“Anak-anak harus paham bahwa mereka bukan pemicu konflik tersebut. Tetaplah melangkah pada impian kalian. Apa yang menimpa keluarga saat ini bukanlah penentu siapa kalian di masa depan,” tutupnya.
Editor : Ali MasdukiURL : https://jatimnow.id/baca-83138-bukan-cuma-cerai-ini-tanda-broken-home-yang-merusak-psikis-anak