Sabtu, 20 Jun 2026 23:54 WIB

Legitnya Gula Kelapa Ditengah Kepunahan Generasi Sang Pembuat

  • Penulis : CF Glorian
  • | Senin, 08 Okt 2018 08:00 WIB
Giyanto (61), warga di Dusun Darungan, Desa Kandangan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar yang masih bertahan memproduksi gula kelapa dengan cara tradisional.
Giyanto (61), warga di Dusun Darungan, Desa Kandangan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar yang masih bertahan memproduksi gula kelapa dengan cara tradisional.

jatimnow.com - Gula merah atau gula kelapa merupakan produk yang dihasilkan dari air nira yang dimasak. Di tengah kemajuan zaman dewasa ini, tak banyak masyarakat yang mau membuat gula merah secara tradisional.

Namun tidak dengan Giyanto (61). Satu dari dua warga di Dusun Darungan, Desa Kandangan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar masih bertahan memproduksi gula kelapa dengan cara tradisional.

Baca Juga: Curi Uang Kotak Amal Masjid, Pria di Blitar Diarak Warga

Di wilayah tersebut, dulunya merupakan kawasan penghasil gula kelapa terkenal se Blitar Raya. Namun kini, sudah banyak warga yang meninggalkannya karena lamanya proses pembuatan.

Sambil mengaduk adonan air nira diatas wajan besar Giyanto mengakui, proses pembuatan gula merah membutuhkan waktu lebih dari enam jam.

Bapak empat anak itu menyebut, tak sedikit warga yang pindah profesi karena selain proses produksi yang lama, gula yang dihasilkan juga tak begitu banyak.

"Ngambil legen (air nira) itu waktunya semalam. Sore manjat pohon kelapa, pasang jeriken, paginya manjat lagi ngambil jeriken yang sudah terisi terus dimasak," kata Pria yang memulai bisnisnya sejak tahun 1970 silam itu, Senin  (08/10/2018).

Untuk mengubah air nira menjadi gula kelapa, Giyanto harus memasaknya di atas tungku selama empat hingga lima jam.

Baca Juga: Santriwati Asal Kediri Hilang Terseret Ombak di di Pantai Pangi Blitar

Air nira yang berubah warna menjadi cokelat inilah yang kemudian dicetak menggunakan batok kelapa.

Giyanto sendiri tak memaksakan anaknya untuk mahir membuat gula kelapa. Keempat anaknya lebih memilih menjadi TKI dan buruh pabrik. Hal serupa juga terjadi pada tetangga sekitarnya.

"Yang tua-tua sudah pada meninggal. Nggak ada yang nerusin lagi," kata pria berambut putih itu.

Menjadi produsen gula merah bukan berarti tanpa halangan. Kumbang kelapa atau yang disebut wawung oleh warga setempat menjadi hama pengganggu yang memusingkan warga.

Baca Juga: UNU Blitar Pecat Oknum Dosen Pelaku Pelecehan Seksual

Pasalnya, kumbang akan memakan pucuk kelapa. Inilah yang membuat pohon kelapa mati.

Harga yang relatif stabil sekitar 12 ribu rupiah perkilogram inilah yang membuat Giyanto tetap bertahan meski permintaan tak begitu banyak. "Jumlahnya (permintaan) nggak banyak," pungkasnya.

Editor : Erwin Yohanes
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.